Bunuh diri meningkat di Malawi karena derita utang menggunung akibat virus

·Bacaan 3 menit

Lilongwe (AFP) - Isak tangis bergema di pinggiran kota ibukota Malawi Lilongwe tengah malam sehingga membuat salah seorang penduduk kota itu, Paul Kaonga, tersentak dari tidurnya.

Tangisan itu datang dari rumah terdekat. Kaonga buru-buru mengenakan pakaian dan bergegas menghampiri.

Anggota keluarga yang putus asa memberi tahu dia bahwa Kondwani Botha, seorang tetangga, telah bunuh diri.

Ayah berusia 31 tahun itu kesulitan mempertahankan bisnis konstruksinya tetap berjalan ketika virus corona melanda dan dia bergelimang utang.

"Dia benar-benar mengalami kesulitan keuangan," kata Kaonga kepada AFP setelah pemakaman.

Itu adalah bunuh diri ketiga yang Kaonga dengar di lingkungannya dalam waktu dua pekan.

Beberapa hari kemudian, pria lainnya yang juga mengalami kesulitan finansial bunuh diri.

Kaonga, yang bekerja sebagai pastur, menyalahkan kesulitan ekonomi yang menyebabkan pandemi.

“Orang-orang terpaksa meminjam uang dari lintah darat hanya agar mereka bisa bertahan (dan) membayar pekerjanya,” jelas Kaonga.

"Sebelum Anda menyadarinya, Anda berutang begitu banyak sehingga Anda tak bisa membayar kembali."

Malawi sudah menjadi salah satu negara termiskin di dunia ketika pandemi tiba yang semakin melemahkan perekonomian.

Sekitar separuh dari 18,6 juta penduduk Malawi hidup di bawah garis kemiskinan, dan tambahan 1,1 juta termasuk dalam kategori itu tahun ini, kata Institut Penelitian Kebijakan Pangan Internasional.

Kebanyakan orang di negara Afrika selatan yang terkurung daratan tergantung kepada perdagangan jalanan sehari-hari dan pekerjaan serabutan yang terhambat oleh pembatasan pergerakan.

Virus corona menghambat "cara bisnis normal" di Malawi, kata ekonom Betchani Tchereni, sembari memperkirakan sekitar 2,7 juta orang kehilangan pendapatan tahun ini.

Juru bicara polisi Peter Kalaya menduga kasus bunuh diri meningkat sebagai akibat ini.

Kematian akibat bunuh diri yang tercatat antara Januari dan Agustus 2020 lebih dari 50 persen lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun lalu, kata Kalaya.

Alasan paling umum adalah perselisihan keluarga, penyakit kronis, dan ketidakmampuan membayar kembali utang.

"Kami sangat bermasalah," kata Kalaya kepada AFP.

"Kami telah mengambil pendekatan proaktif dengan meningkatkan kesadaran tentang bagaimana warga negara dapat mengatasi stres," kata dia seraya menambahkan bahwa staf telah dilatih menanggapi perilaku depresif.

Pakar kesehatan mental juga telah memperingatkan risiko bunuh diri yang lebih tinggi.

Psikolog Beatrice Chiphwanya yang menjalankan praktik pribadi di kota Blantyre mengatakan dia telah membantu klien dalam jumlah yang amat tinggi mengatasi pikiran untuk bunuh diri tahun ini.

"Orang-orang menghadapi banyak kecemasan (dan) ketidakpastian tentang pendidikan, kesehatan, keuangan," jelas Chiphwanya.

“Sayang, terapi bukanlah layanan yang sepenuhnya dinormalisasi di negeri ini,” tambah dia. "Itu tidak terjangkau, oleh karena itu banyak orang Malawi masih melakukan bunuh diri."

Kebanyakan fasilitas umum di Malawi kekurangan staf dan dana untuk menyediakan perawatan kesehatan mental yang memadai, terutama selama krisis kesehatan global.

Hingga saat ini negara ini telah mencatat lebih dari 5.950 kasus virus corona, termasuk 185 kematian.

Pejabat kementerian kesehatan Immaculate Chamangwana mengatakan praktisi psikiatri di rumah sakit umum sering diminta membantu di bangsal bersalin dan anak-anak yang kewalahan bahkan sebelum pandemi.

"Orang-orang ini tidak hanya berkonsentrasi pada kesehatan mental," kata Chamangwana kepada AFP, seraya menambahkan semua pekerja rumah sakit diberi pelatihan perawatan kesehatan mental dasar sebagai kompensasi.

Pakar Malawi Gerald Namwaza, seorang peneliti untuk badan amal MentalCare yang berbasis di Inggris, mengatakan virus corona telah memperburuk penderitaan pasien yang sudah menghadapi diskriminasi dan stigma.

"Di Malawi ... orang-orang dengan masalah kesehatan mental seringkali diejek dan dipinggirkan," kata Namwaza.

“Mereka rentan dan berisiko tinggi bunuh diri jika dikirim dalam isolasi akibat virus corona,” imbuh dia.

"Ini menjadi hukuman ganda bagi mereka."


str-sch/dl