Bupati Jember-Sekda Banyuwangi buat kesepakatan atasi konflik sosial

Bupati Jember Hendy Siswanto dan Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi Mujiono membuat kesepakatan bersama untuk mengatasi konflik sosial pasca-kerusuhan yang terjadi di Desa Mulyorejo, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Perwakilan warga Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember dan perwakilan warga Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi juga hadir dalam pertemuan yang digelar Pemkab Jember dan Pemkab Banyuwangi di Kafe Gumitir, Kabupaten Jember, Selasa.

"Pertemuan hari ini bertujuan untuk mencari kesepahaman bersama terkait konflik yang terjadi antara warga dari Desa Banyuanyar dan Desa Mulyorejo yang mana hasil dari pertemuan disepakati bahwa semua pihak siap menjaga situasi kedua wilayah tetap kondusif," kata Bupati Jember Hendy Siswanto.

Menurutnya keluhan yang disampaikan oleh perwakilan warga dari kedua desa terutama para petani kopi akan diselesaikan dengan mekanisme yang ada dan dalam pertemuan tersebut juga dihadiri oleh perwakilan dari Perum Perhutani selaku pemangku lahan yang dikelola oleh warga setempat.

"Semua juga sepakat jika soal keluhan petani kopi akan diselesaikan dengan mekanisme yang ada dan pihak Perhutani akan melakukan pemetaan terhadap lahan yang disengketakan oleh para petani kopi baik dari Desa Mulyorejo maupun Desa Banyuanyar," tuturnya.

Sementara Sekda Kabupaten Banyuwangi Mujiono mengatakan bahwa pihaknya mendukung digelarnya pertemuan tersebut dan berharap dengan adanya pertemuan itu dapat menemukan solusi, serta permasalahan yang terjadi tidak terulang kembali, sehingga situasi kedua desa bisa kembali kondusif.

Baca juga: Polisi tetapkan sembilan orang tersangka kerusuhan di Desa Mulyorejo

Baca juga: Polisi buru pelaku pembakaran dan premanisme di Desa Mulyorejo

"Kami sangat senang dengan adanya pertemuan kedua belah pihak, semua sepakat peristiwa yang dialami oleh warga di Desa Mulyorejo tidak terulang kembali, dan semua juga sepakat untuk mengesampingkan ego sektoral, dan memiliki visi dan misi yang sama guna menyelesaikan konflik itu," katanya.

Tindak tegas
Kapolres Jember AKBP Hery Purnomo mengatakan aparat kepolisian akan menindak tegas aksi premanisme yang selama ini menghantui para petani kopi dan terus melakukan pengusutan terhadap tindakan kriminal yang dilakukan oleh warga.

"Untuk memberikan rasa aman warga, kami sudah menempatkan personel di titik-titik rawan, serta kami juga membentuk Tim Khusus yang akan menyelidiki akar dari permasalahan yang berujung pada aksi pembakaran rumah dan kendaraan," tuturnya.

Ia berharap warga dari kedua desa untuk melaporkan ke aparat kepolisian, apabila terjadi intimidasi atau upaya pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab mencoba untuk mengadu domba.

"Aksi premanisme yang dilakukan oleh sebagian kelompok, kami sedang melakukan perburuan terhadap mereka dan meminta kepada warga untuk tidak mudah percaya jika ada pihak-pihak yang memberikan janji-janji bisa menyelesaikan batas-batas lahan kebun kopi," ujarnya.

Baca juga: Khofifah bantu tangani kerusuhan di Desa Mulyorejo Jember

Baca juga: Polisi patroli untuk pastikan situasi kondusif di Mulyorejo Jember

Hery juga meminta kepada kedua pihak desa untuk bisa menahan diri dan tidak mudah terprovokasi yang bisa menjurus kepada tindak pidana karena hal tersebut justru akan merugikan diri sendiri.

Dalam pertemuan itu, dilakukan penandatanganan kesepakatan warga Desa Mulyorejo dan Desa Banyuanyar yakni kedua pihak siap menjaga kondusifitas wilayah dengan cepat merespon potensi permasalahan yang terjadi di masyarakat, kemudian mengedepankan musyawarah mufakat dalam menyelesaikan segala bentuk permasalahan.

Poin ketiga, kedua pihak sama-sama memperkuat ketahanan wilayah dan sinergi para pemangku kepentingan, dan terakhir mempercayakan penyelesaian permasalahan hukum yang terjadi sepenuhnya kepada pihak berwajib.

Sebelumnya sekelompok orang dari Desa Banyuanyar membakar beberapa rumah warga di Desa Mulyorejo hingga menyebabkan empat rumah rusak dan belasan kendaraan rusak, serta uang puluhan juta dikabarkan hilang. Serangan itu dipicu aksi premanisme yang dilakukan oleh salah satu kelompok warga di Desa Mulyorejo selama bertahun-tahun.