Bupati Klungkung-Bali apresiasi Sekaa Gong Kebyar Crekeh Genjer

Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta mengapresiasi seni tetabuhan dan drama tari yang akan dibawakan Sekaa Gong Kebyar Wanita Crekeh Genjer, Desa Lembongan, yang telah melakukan uji coba pementasan dalam ajang Pesta Kesenian Bali Ke-44 Tahun 2022.

"Kami ucapkan terima kasih kepada Perbekel Desa Lembongan dan seluruh panitia yang tentunya sudah mendukung, sehingga uji coba pementasan bisa terwujud," kata Suwirta dalam keterangan tertulisnya di Semarapura, Sabtu.

Sekaa gong tersebut sebelumnya telah melakukan uji coba pementasan bertempat di Catus Pata, Desa Lembongan, Kabupaten Klungkung pada Kamis (9/6).

Baca juga: Bupati Klungkung kenalkan "Menyama Braya" untuk hadapi bencana

Suwirta dalam kesempatan itu menyaksikan bersama Ketua PKK Kabupaten Klungkung Ayu Suwirta, Kadis Kebudayaan Kabupaten Klungkung Ida Bagus Jumpung, Camat Nusa Penida I Komang Widiyasa Putra, Perbekel Desa Lembongan dan Bendesa Desa Adat Lembongan serta masyarakat setempat.

Selain memberikan dukungan, Suwirta juga meminta kepada para seniman/sanggar-sanggar untuk bangkit kembali dan bisa nantinya pentas di tempat-tempat objek wisata yang ada di Nusa Lembongan dan Ceningan.

Upaya itu dilakukan untuk menambah daya tarik wisatawan yang berkunjung. "Tetap semangat semoga bisa tampil maksimal saat pentas di PKB nanti," ujar Suwirta.

Baca juga: Delegasi asing GPDRR belajar kearifan lokal Bali hadapi bencana

Sebagai Duta Kabupaten Klungkung dalam ajang pesta kesenian terbesar di Bali itu, Sekaa Gong Kebyar Crekeh Genjer akan membawakan empat materi yakni Tabuh Telu Lelambatan, Tari Kreasi Sukla Swanita, Tabuh Kreasi dengan judul Membah dan Drama Tari Danu Dana.

Tradisi Mepeed

Sementara itu, ratusan anggota PKK krama adat Banjar Nesa antusias jalan berbaris dengan banten gebogan di atas kepalanya dalam prosesi Mepeed sehubungan dengan Karya Pujawali Nyatur di Pura Desa Baleagung Pura Kangin, Banjar Adat Nesa, Desa Adat Banjarakan, Klungkung Kamis (9/6).

Prajuru (pengurus) adat Banjar Nesa, Anak Agung Gede Ngurah Astawa Putra mengatakan tradisi yang sudah ada sejak turun-temurun, kini digelar baru pertama kali setelah sekian tahun vakum karena tidak dibangkitkan lagi.

"Karena sekarang dikaitkan dengan upacara Nyatur serta dibangkitkan lagi tetamian-tetamian yang ada di Pura Kangin, maka tradisi ini dilaksana kembali dimaknai sebagai wujud rasa syukur krama setempat atas anugrah Ida Sang Hyang Widhi Wasa," ujar Astawa.

Baca juga: Gubernur Bali resmikan gedung MDA Klungkung senilai Rp3,6 miliar

Krama (warga) berjalan beriringan dari Balai Banjar Adat Nesa menuju areal Pura Baleagung Pura Kangin diawali dengan ritual ngaturang pujawali di Balai Banjar dan mendak Ida Penyarikan.

"Mepeed Banten Gebogan ini pun menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat sekitar maupun pengendara yang melintas di Jalan Raya Banjarangkan," ucapnya.

Setelah menggelar mapeed dilanjutkan dengan menghaturkan ritual Pujawali Nyatur diiringi dengan tarian Rejang Dewa, Rejang Sari, Rejang Kesari dan tari Baris Gede.

"Pujawali dilaksanakan setiap enam bulan sekali bertepatan dengan Umanis Galungan, setiap satu tahun sekali dilaksanakan upacara Nyatur yang mana upakaranya (sesajen) cukup besar," katanya.

Baca juga: Bupati Klungkung lepasliarkan ratusan perkutut-kutilang di Hari Waisak

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel