Bupati Klungkung kenalkan "Menyama Braya" untuk hadapi bencana

Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta memperkenalkan falsafah hidup masyarakat Bali “Menyama Braya” dalam aksi kesiapsiagaan bencana kepada delegasi asing GPDRR 2022 yang mengikuti sesi studi lapangan (field trip) ke Kerta Gosa, Sabtu.

Ia menjelaskan Menyama Braya secara sederhana diartikan sebagai semangat gotong royong pada tiap aspek kehidupan, termasuk saat menghadapi bencana.

Suwirta mencontohkan saat bencana letusan Gunung Agung pada 2017 semangat Menyama Braya itu ditunjukkan oleh masyarakat Klungkung yang sigap membantu pengungsi dari Karangasem tanpa menunggu perintah pemerintah daerah.

Baca juga: Delegasi asing GPDRR belajar kearifan lokal Bali hadapi bencana

“Kemanusiaan jauh lebih penting daripada (menunggu) instruksi, saat itu kearifan lokal semangat Menyama Braya kuat dalam menangani dan memitigasi kejadian-kejadian bencana,” kata Suwirta usai menyambut para delegasi asing yang mengikuti field trip Sesi Ke-7 GPDRR 2022.

Bencana letusan Gunung Api yang terjadi pada 2017 di Karangasem menyebabkan lebih dari 40.000 orang mengungsi, dan sekitar 23.000 di antaranya berada di Klungkung, salah satu kabupaten terdekat dari lokasi erupsi.

Para pengungsi itu menempati 114 tempat penampungan di Klungkung, yang di antaranya merupakan banjar-banjar desa adat.

Oleh karena itu, ia berharap pengalaman masyarakat Klungkung di Bali, yaitu semangat Menyama Braya-nya dapat jadi inspirasi bagi para delegasi untuk memikirkan pentingnya kearifan lokal dalam aksi kesiapsiagaan bencana. “Kami yakin di tempat mereka ada kearifan lokal yang bisa dilakukan untuk menangani bencana,” kata Suwirta.

Tidak hanya itu, Bupati Klungkung menyampaikan masyarakat Bali juga punya semangat "puputan" dalam menjalani hidup sehari-hari, termasuk saat menghadapi bencana.

Baca juga: Indonesia sampaikan tujuh rekomendasi Agenda Bali untuk Resiliensi

Baca juga: Indonesia arusutamakan agenda Bali untuk resiliensi di G20-ASEAN 2023

"Puputan" merupakan kata dalam Bahasa Bali yang berarti perang sampai darah penghabisan. Meskipun saat ini tidak ada lagi perang, semangat "puputan" masih digelorakan oleh masyarakat Bali terutama dalam menangani bencana sampai tuntas, kata Suwirta saat menjelaskan makna Monumen Puputan di Klungkung kepada para delegasi asing.

Usai mendengar penjelasan itu, salah satu delegasi, Delvina dari Care International menyampaikan ia sepakat bahwa kearifan lokal perlu jadi sorotan dalam upaya memperkuat kesiapsiagaan bencana.

“Kita harus siap dari tingkat komunitas,“ kata Delvina, delegasi dari Timor Leste, saat ditemui di Kerta Gosa, Klungkung, Sabtu.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel