Bupati Tersandung Korupsi Ditangkap, KPK: Digantikan Wakilnya, Kena Juga

Merdeka.com - Merdeka.com - Ibarat jamur di musim hujan kasus korupsi di Indonesia tak kunjung hilang. Hingga kini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) silih berganti turut mengusut kasus yang menyeret mulai dari struktur pejabat , kepala daerah.

Wakil Ketua KPK, Nurul Ghufron mengaku jika tindakan penangkapan yang dilakukan saat ini tidak cukup untuk menghilangkan tindakan korupsi. Karena, kasus korupsi kerap kali silih berganti dalam lingkup, maupun pejabat yang sama.

"Karena itu kami sangat berharap, tak cukup kami kemudian menangkap demi tangkap, tangkap masuk pak," kata Ghufron saat beri sambutan ketika acara pembekalan antikorupsi bagi pengurus partai, dikutip melalui channel youtube ACLC KPK, Selasa (14/6).

Bahkan, fenomena korupsi saat ini sering kali tak belajar dari kasus yang sebelumnya. Dimana acap kali, pengganti pejabat maupun kepala daerah yang terseret kasus korupsi, kembali terjerat dalam kasus yang sama.

"Yang menggantikan. Satu kami tangkap Bupati yang menggantikan bisa 3 pasang pak, 3 pasang yang terjadi tak jarang ditangkap, ganti wakilnya naik, naik tetep juga kena lagi," ujarnya.

"Kemudian ada pilkada lagi, diperebutkan 3 pasang, sama lagi. Motifnya sama lagi. Hanya anggap (posisi pejabat maupun kepala daerah), jabatan hanya sekedar untuk dapat uang. Hanya jobseeker (para pencari kerja)," lanjutnya.

Hal ini bisa terjadi, lanjut Ghufron, karena minimnya integritas orang yang ingin mendapatkan jabatan publik. Padahal, untuk mendapatkan posisi tersebut ada partai politik (parpol) yang menjadi wadah untuk menyiapkan calon-calon tersebut.

"Padahal partai politik jauh dari itu pak, kalau jobseeker jadi karyawan saja lah.
Tapi berparpol adalah orang-orang pilihan, yang mestinya sudah lewat urusan perutnya sendiri. Urusan jabatan dan kemewahan diri," katanya.

Sehingga, Ghufron menilai sangat penting peran partai politik dalam menyeleksi setiap kadernya yang akan berkontestasi sebagai calon pejabat publik. Untuk kemudian, mereka telah selesai dengan urusan kebutuhan pribadinya masing-masing.

"Yang ada di benaknya adalah Indonesia raya. Raya kemakmuran ya, raya, kesejahteraannya, raya kewibawaannya dengan bangsa-bangsa yang lain," kata dia.

Coreng Nama Indonesia

Pasalnya, Ghufron memandang jika setiap penangkapan yang dilakukan komisi antirasuah sebenarnya bukanlah suatu kebanggaan. Melainkan keprihatinan, karena telah mencoreng wajah Indonesia di jagat global.

"KPK, nangkap demi nangkap itu sesungguhnya dengan berat hati. Karena kami sadar bahwa sesungguhnya yang kami tangkap adalah figur-figur pemimpin Indonesia yang kemudian kalau kami tangkap, setengahnya adalah mencoreng wajah Indonesia di jagat global ini pak. Kami tidak ingin sesungguhnya," tuturnya.

Oleh sebab itu, Ghufron mengajak kepada para partai politik untuk menyiapkan dan mendidik para kadernya agar memiliki integritas yang baik. Hak itu sebagai upaya tindakan pencegahan yang saat ini digencarkan KPK.

"Tapi mari ketidakinginan itu kemudian itu kita seiring bahwa. Ketidakinginan kami menangkap, diiringi bahwa anda menyiapkan diri dan menyiapkan kader-kader yang memang tak pantas lagi kami tangkap," sebutnya.

"Karena ini demi Indonesia pak, demi wajah kita, tidak bangga KPK kemudian banyak tangkapan, banyak tangkapan gak bangga pak. Yang kami ingin, Indonesia tidak ada yang tidak lagi ditangkap karena memang sudah berintegritas," sambungnya.

Sekedar informasi jika pernyataan ini disampaikan dalam sambutan kegiatan Pembekalan Antikorupsi Bagi Pengurus Partai Politik yang diikuti Partai Demokrat. Dimana dalam acara tersebut juga turut dihadiri Bendahara Umum Partai Demokrat Renville Antonio beserta jajara pengurus DPP lainnya. [rhm]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel