Buronan Kasus Mutilasi 4 Warga di Timika Diduga Berperan Menawarkan Senjata ke Korban

Merdeka.com - Merdeka.com - Polisi masih memburu salah satu terduga kasus pembunuhan empat warga di Timika, Mimika. Terduga pelaku yang menjadi buronan polisi itu diduga mengenal korban.

"Masyarakat sipilnya itu yang DPO, itu dia kenal (korban). Karena dia DPO, kita belum tahu kenal sama yang mana. Tapi informasinya begitu," kata Direktur Reserse Kriminal Umum (Dir Reskrimum) Polda Papua Kombes Faisal Ramadhani saat dihubungi merdeka.com, Rabu (31/8).

Menurut Faisal, terduga pelaku tersebut diduga berperan menawarkan senjata api kepada korban. Kasus pembunuhan itu bermotif perampokan dengan merekayasa penjualan senjata.

"Iya (DPO kenal korban), menawarkan ada senjata itu hanya rekayasa saja," ujar dia.

Dia mengatakan, lantaran saling mengenal itu membuat terduga pelaku memancing korban untuk membeli senjata yang berujung perampokan dan mutilasi. Polisi masih menyelidiki korban mana yang mengenal dengan terduga pelaku tersebut.

"Yang masyarakat sipilnya (pelaku) itu salah satunya kenal dengan korban," kata Faisal.

Menurut dia, para pelaku membagi hasil uang dirampok dari korban Rp250 juta usai mulus menjalankan aksinya. Uang itu langsung dibagikan para pelaku.

"(Uangnya) Ya ada yang dipakai buat keperluan mereka, kan sudah dibagi-bagi. Yang jelas sudah dibagi-bagi, ada yang Rp20 juta, kebanyakan Rp22 juta, ada yang Rp5 juta, macem-macem lah, enggak hapal saya," tandasnya.

4 Warga di Mimika Dibunuh dan Mayat Dibuang Terpisah

Polisi sebelumnya menangkap dan menahan tiga terduga pembunuh empat warga sipil di Timika, Mimika, Papua. Tiga terduga pelaku ditahan di Polres Mimika terkait pembunuhan warga yang jenazahnya ditemukan secara terpisah di beberapa tempat di Timika.

Direktur Reskrimum Polda Papua Kombes Faizal Rahmadani mengatakan bahwa tiga terduga pelaku yaitu APL alias Jeck, DU dan R. Ketiganya diduga melakukan pembunuhan pada tanggal 22 Agustus lalu ditangkap di lokasi berbeda.

Para pelaku diduga lebih dari tiga orang. Namun untuk memastikan polisi masih melakukan pendalaman.

Dari penyelidikan dilakukan polisi, pembunuhan terjadi tanggal 22 Agustus sekitar pukul 21.50 WIT di kawasan SP 1, Distrik Mimika Baru. Korban bernama Arnold Lokbere, Irian Nirigi, Leman Nirigi dan seorang korban lainnnya belum diketahui identitasnya dan jasadnya dibuang di sekitar sungai Kampung Pigapu, Distrik Iwaka.

Mobil rental yang awalnya digunakan salah satu korban yakni Toyota Astra Calya warna merah tanpa plat nomor dengan nomor rangka MHKA6GJ6JKJ115394 dibakar.

Pada Jumat (26/8) jenazah Arnold Lokbere ditemukan dalam kondisi mengenaskan dan Sabtu (27/8) kembali ditemukan sesosok jenazah yang juga dalam kondisi mengenaskan dengan identitas yang belum diketahui.

"Dua jenazah lainnya hingga kini belum ditemukan, dan apa motif pembunuhan sadis itu juga belum dipastikan," kata Faizal di Jayapura, Minggu (28/8).

6 Prajurit TNI Terlibat Pembunuhan dari Mayor sampai Pratu

Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Teguh Muji Angkasa mengakui enam anggota TNI AD yang bertugas di Brigif 20 Kostrad diduga terlibat dalam kasus pembunuhan yang menewaskan empat warga sipil di Timika, Papua. Teguh menyebut dua korban ditemukan dalam kondisi termutilasi.

"Memang betul telah terjadi dan telah ditemukan dua jenazah, di antaranya korban mutilasi yang terjadi di Timika. Saat ini keenam prajurit sudah ditahan di Den POM Timika. Motif dan latar belakangnya masih didalami," kata Mayjen TNI Teguh Angkasa di Kampung Harapan, Kabupaten Jayapura, dilansir Antara, Senin (29/8).

Teguh Angkasa mengakui Panglima TNI dan Kasad telah memerintahkan untuk melakukan pemeriksaan dan investigasi terhadap kejadian tersebut. Kodam XVII Cenderawasih telah bekerjasama dengan Polda Papua untuk mengungkap fakta yang terjadi karena hukum harus ditegakkan.

"Bahkan tim sudah melakukan pemeriksaan terhadap keenam prajurit," jelas Teguh Angkasa.

Keenam anggota TNI-AD yang diduga terlibat dalam insiden pembunuhan empat warga sipil itu yakni Mayor Inf Hf, Kapten Inf Dk, Praka Pr, Pratu Ras, Pratu Pc dan Pratu R. [gil]