Burung Misterius Ditemukan Warga di Kalimantan

Lazuardhi Utama, BBC Indonesia
·Bacaan 5 menit

Burung misterius yang hilang selama 172 tahun ditemukan oleh warga di hutan hujan Kalimantan, Indonesia. Kalangan peneliti menyambut antusias penemuan itu dan dipandang bisa menjadi momentum bagi penelitian dan pelestarian satwa langka di Indonesia.

Burung itu dinamakan Pelanduk Kalimantan, yang bernama latin Malacocincla Perspicillata dan secara luas dianggap oleh para ahli sebagai "teka-teki terbesar dalam ornitologi Indonesia".

Burung tersebut pada awalnya ditemukan secara tidak sengaja oleh dua warga di Kalimatan Selatan, Muhammad Suranto dan Muhammad Rizky Fauzan, Oktober 2020.

Mulanya, Suranto dan Rizky Fauzan saat itu sedang mengumpulkan hasil hutan di daerah yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Secara tidak sengaja keduanya menemukan jenis burung yang tidak dikenal. Mereka menangkap dan melepaskannya setelah mengambil beberapa foto.

Keduanya lalu menghubungi kelompok pengamat burung setempat, BW Galeatus dan Birdpacker, yang kemudian menduga burung itu mungkin Pelanduk Kalimantan yang hilang.

Hal ini kemudian dikonfirmasi setelah berkonsultasi dengan ahli ornitologi dari Indonesia dan sekitarnya.

"Rasanya tidak nyata mengetahui bahwa kami telah menemukan spesies burung yang oleh para ahli dianggap punah. Ketika kami menemukannya, kami sama sekali tidak menyangka akan seistimewa itu - kami pikir itu hanyalah burung yang belum pernah kami lihat sebelumnya," kata Rizky Fauzan, yang dikutip dari rilis Oriental Bird Club .

`Sungguh menakjubkan` - dijelaskan ahli burung pada 1850

Burung yang dalam bahasa Inggris disebut sebagai black-browed babbler itu dijelaskan oleh ahli burung Prancis terkenal, Charles Lucien Bonaparte, pada tahun 1850 berdasarkan spesimen yang dikumpulkan pada tahun 1840-an oleh ahli geologi dan naturalis Jerman, Carl A.L.M. Schwaner selama ekspedisinya ke Hindia Timur.

Sejak saat itu, tidak ada spesimen atau penampakan lain yang dilaporkan dan asal muasal spesimen jenis tersebut diselimuti misteri. Bahkan pulau tempat pengambilannya tidak jelas. Tadinya diduga di Jawa, namun baru pada tahun 1895 ahli ornitologi Swiss, Johann Büttikofer, menunjukkan bahwa Schwaner berada di Kalimantan pada saat penemuan spesies itu.

"Penemuan sensasional itu menegaskan bahwa burung ini berasal dari Kalimantan di bagian tenggara. Ini mengakhiri kebingungan selama seabad soal asal-usulnya," kata Panji Gusti Akbar dari kelompok konservasi burung Indonesia, Birdpacker, dan juga penulis utama makalah yang memberikan secara rinci tentang penemuan kembali burung itu, yang diterbitkan hari ini oleh Oriental Bird Club, lembaga amal konservasi burung yang berbasis di Inggris melalui jurnalnya, BirdingASIA.

"Kami sekarang juga tahu seperti apa rupa Pelanduk Kalimantan — burung yang difoto itu menunjukkan beberapa perbedaan dari satu-satunya spesimen yang diketahui, khususnya warna iris, paruh dan kaki. Ketiga bagian tubuh burung ini diketahui telah kehilangan warnanya dan sering kali diwarnai secara buatan selama proses taksidermi. "

"Penemuan itu juga menegaskan bahwa spesies ini tetap ada meskipun terjadi deforestasi besar-besaran dan konversi habitat di bagian Kalimantan yang kurang dikenal ini. Oleh karena itu ada kemungkinan yang sangat besar burung itu terancam kehilangan habitatnya."

Teguh Willy Nugroho, salah satu penulis makalah BirdingASIA itu dan juga staf Taman Nasional Sebangau di Kalimantan, dan anggota pendiri BW Galeatus, mengamati bahwa penemuan luar biasa ini menunjukkan pentingnya jaringan masyarakat lokal, pengamat burung, dan ilmuwan profesional dalam mengumpulkan informasi tentang keanekaragaman hayati Indonesia,

Ia juga mengatakan temuan ini bisa menjadi penting di daerah-daerah terpencil yang tidak mudah diakses oleh para ilmuwan.

"Saya rasa sungguh menakjubkan bahwa kami berhasil mendokumentasikan salah satu penemuan zoologi paling luar biasa di Indonesia, jika bukan di Asia (sebagian besar melalui komunikasi online) di di tengah pandemi virus corona, yang membuat kami tidak bisa mengunjungi lokasi," kata Teguh.

Penemuan kembali Pelanduk Kalimatan itu secara dramatis menunjukkan betapa kurang dikenalnya keanekaragaman burung di Indonesia, yang merupakan terbesar di Asia — dengan lebih dari 1.700 spesies ditemukan di banyak pulau kecil yang disurvei di seluruh nusantara.

"Sungguh menyedihkan untuk berpikir bahwa ketika Pelanduk Kalimantan terakhir terlihat, buku `Origin of Species` karya Charles Darwin bahkan belum dipublikasikan dan merpati pengembara yang sekarang punah tergolong burung yang paling umum di dunia, "kata Ding Li Yong, seorang ahli konservasi di Asia dengan badan amal konservasi burung terkemuka di dunia, BirdLife International, dan juga penulis makalah.

"Siapa yang tahu kekayaan apa yang ada jauh di dalam hutan hujan Kalimantan, terutama di bagian Indonesia, dan kebutuhan terpenting untuk melindungi mereka demi generasi masa depan.

Potensi sangat nbesar untuk konservasi burung

Sementara itu, Mohammad Irham, peneliti bidang ornitologi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) menyambut baik atas penemuan burung langka itu.

"Ini adalah penemuan yang bagus sekali. Artinya, di antara sekian banyak berita bahwa burung-burung di Indonesia pada umumnya di bawah ambang penurunan populasi karena pemanfaatan yang berlebihan, tetapi kita masih bisa menemukan spesies yang sudah atau hampir dianggap punah," ujar Irham kepada BBC Indonesia.

"Kita masih memiliki potensi yang sangat besar bagi konservasi bagi burung-burung di Indonesia. Apalagi kalau mengingat di Kalimantan hutan dataran rendahnya sudah terkonversi menjadi peruntukan lain," lanjutnya

Jadi penemuan burung jenis itu menjadi hal yang membangkitkan optimisme. Artinya, masih ada habitat-habitat di Kalimantan yang cocok bagi berbagai jenis burung.

"Ini menandakan juga bahwa mengapa burung ini ditemukan kembali setelah sekian lama, itu salah satunya [karena] penelitian atau survei burung di Indonesia, terutama di luar Jawa, masih sangat kurang. Maka dengan adanya kelompok-kelompok pemerhati burung, seperti Galeatus dan Birdpacker, bisa membuat suatu kemajuan yang baik sekali bagi pengetahuan burung di Indonesia, terutama di luar Pulau Jawa," ujar Irham.

Secara umum, menurutnya, masih terbuka potensi penemuan jenis burung, baik yang baru sama sekali atau yang belum pernah ditemukan, atau yang semakin jarang dijumpai.

Untuk beberapa jenis tertentu, seperti Pelanduk Kalimantan, ini burung yang termasuk terbiasa di berjalan di atas tanah dan kemungkinan beberapa jenis lain yang sifat biologisnya memiliki densitas atas populasi yang rendah sangat sulit untuk dijumpai.

"Potensi penemuan untuk jenis baru masih terbuka, terutama untuk burung-burung di Indonesia Timur. Apalagi masih ada gap penelitian yang sangat jauh antara yang di Indonesia bagian barat, terutama di Jawa, dengan Indonesia Timur," kata Irham.