Bus Masuk Jurang di Sumedang Akibat Sopir Tak Menguasai Medan Jalanan

·Bacaan 2 menit
Tim penyelamat mengevakuasi korban kecelakaan bus yang jatuh ke jurang di Kecamatan Wado, di Sumedang, Jawa Barat (10/3/2021). Korban meninggal dunia kecelakaan maut bus pariwisata masuk jurang di Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, bertambah menjadi 27 orang. (AFP/Bagus Ahmad)

Liputan6.com, Bandung - Bus pariwisata PO Sri Padma Kencana yang mengangkut puluhan pelajar asal Subang, terperosok masuk ke jurang di Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Rabu malam (10/3/2021). Setidaknya 27 orang dilaporkan meninggal duni akibat kecelakaan maut itu.

Bus bernomor polisi T 7591 TB masuk jurang di Jalan Raya Wado-Malangbong. Adapun lokasi kecelakaan merupakan jalan menurun panjang dengan bahu jalan yang berdekatan dengan jurang.

Bus nahas tersebut terperosok dengan keadaan terbalik. Di lokasi kejadian dengan jalan menurun, bus itu oleng lalu terperosok ke jurang. Sopir bus diduga tidak menguasai medan jalan sehingga tak menguasai laju kendaraan.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jabar, Hery Antasari mengatakan pihaknya telah menggelar rekonstruksi untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan maut tersebut. Berdasarkan hasil sementara, ia menyatakan kuat dugaan kecelakaan tersebut dikarenakan pemahaman sopir bus tentang kondisi tanjakan Cae, jalur yang dilewati dalam insiden kecelakaan.

"Indikasi awal pemahaman pengemudi soal soal rute. Bus ini kan bus pariwisata, tidak melintas reguler di jalur ini (tanjakan Cae)," kata Hery, Kamis (11/3/2021).

Hery menjelaskan, kontur dari tanjakan Cae banyak ditemukan di Jabar. Seperti Tanjakan Panganten di Kabupaten Garut dan Tanjakan Emen di Subang.

"Biasanya jika pengemudi memiliki pemahaman soal rute, mereka bisa mengantisipasi kecelakaan," ucap Hery.

Menurut Hery, indikasi sopir tak memahami medan jalan baru sebatas indikasi awal. Sejumlah indikasi penyebab lainnya kini tengah diselidiki, mulai dari kondisi kendaraan hingga kontur jalan yang memang dikenal rawan kecelakaan itu.

"Jadi, selain faktor pemahaman pengemudi soal rute, kondisi kendaraan hingga kontur jalan pun kita evaluasi. Setelah olah TKP nanti ada FGD untuk menyimpulkan penyebab kecelakaan," katanya.

Jalur Penyelamatan

Selain rekonstruksi kecelakaan, Hery menyatakan pihaknya juga melakukan olah TKP untuk menjadi bahan evaluasi pihaknya dan instansi terkait lainnya dalam mengambil langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.

"Kita evaluasi semuanya untuk penanganan jangka pendek hingga jangka panjangnya. Termasuk evaluasi keberadaan guard real, kontur jalan, hingga rambu-rambu lalu lintas yang tersedia," jelasnya.

Hery juga menyebutkan pihak Dishub Jabar pun akan mengajukan pembangunan jalur penyelamat di tanjakan Cae.

"Semua opsi teknis sedang kita dalami. Bahkan kalau perlu kita bangun jalur penyelamat. Kita juga akan perbanyak rambu-rambu lalu lintas di sekitar lokasi kejadian," katanya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini