Butuh DNA Generasi Muda untuk Membangun Indonesia

Lazuardhi Utama
·Bacaan 2 menit

VIVA – Indonesia bertekad untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) pada 2030. Namun demikian, menurut United Nations Development Programme (UNDP), Indonesia disebut masih memerlukan anggaran sebesar US$1,5 triliun (Rp27 ribu triliun) untuk mencapai target SDGs.

Jumlah ini diperkirakan masih akan terus bertambah setiap tahunnya. Sementara Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan pemerintah berupaya memperkuat koordinasi dan platform kerja sama untuk pembiayaan program-program yang terkait pencapaian SDGs.

Baca: Digital Teknologi adalah Arena Generasi Muda

Berdasarkan SDG Index 2020, menurut Ma'ruf, upaya pencapaian SDGs di Indonesia mengalami kemajuan atau on the track di beberapa indikator. Namun demikian, masih perlu penguatan upaya pencapaian SDGs karena secara keseluruhan Indonesia masih berada di peringkat 101 dunia dengan total skor 65,3.

"(SDGs Indonesia) masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga Asia Tenggara seperti Thailand yang berada di peringkat 41 dengan total skor 74,54, Malaysia di peringkat 60 dengan total skor 71,76, dan Filipina di peringkat 99 dengan total skor 65,5," kata Ma'ruf Amin, saat menghadiri acara International Conference on Islamic Civilization atau ICIC, beberapa waktu lalu.

Konsep keberlanjutan ini, ia melanjutkan, harus terus didorong diimplementasikan dalam ekonomi, sesuai konsep triple bottom line, atau yang dikenal dengan 3P, yaitu People, Planet, Profit. Artinya, secara umum mendorong agar kegiatan ekonomi memperhatikan tiga hal utama secara seimbang yaitu manusia, lingkungan, dan keuntungan.

Bicara people atau manusia, tentu tidak lepas dari peran generasi muda atau milenial dan Z. Di tengah pandemi COVID-19 yang melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia, menjadi tantangan khusus bagi kaum muda untuk membantu pemerintah mempercepat pencapaian SDGs dalam 10 tahun mendatang.

“Dengan perubahan radikal yang terjadi pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya di tengah pandemi COVID-19, kebutuhan untuk membina para pemimpin muda dengan pemikiran kritis dan kreativitas menjadi lebih mendesak dari sebelumnya," ujar Amalia Adininggar Widyasanti, Penasihat Senior Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional untuk Ekonomi dan Pendanaan, Rabu, 28 Oktober 2020.

Baca juga: Alasan Mengejutkan Corona Lebih Mematikan pada Generasi Muda

Hal senada juga diungkapkan Deputy Resident Representative UNDP Indonesia, Sophie Kemkhadze. Menurutnya, saat ini merupakan dekade yang menentukan untuk SDGs. Upaya UNDP selama pandemi COVID-19 adalah mencoba menanamkan DNA SDGs di antara para generasi muda, baik milenial maupun Z, di Indonesia.

Untuk itulah, UNDP bekerja sama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Kementerian Luar Negeri, dan Tanoto Foundation menggelar debat SDGs Indonesia yang bertajuk 'Bright Youth, Better Planet' secara virtual.

Alhasil, Universitas Padjajaran Bandung, Jawa Barat dinobatkan sebagai pemenang yang fokus pada keterlibatan pemuda di tengah pandemi COVID-19. Pengumuman pemenang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2020.

Kepala Eksekutif Global Tanoto Foundation, J. Satrijo Tanudjojo, menyoroti bagaimana generasi muda Indonesia merespons tantangan pandemi COVID-19 serta tindakan mereka dalam agenda SDGs.

“Generasi muda (milenial dan Z) tentu harus mendapatkan keterampilan berharga seperti negosiasi dan pemikiran analitis. Tujuannya membantu mereka meraih pengetahuan melalui proses yang memberdayakan dan bermanfaat,” tuturnya.