Butuh Waktu Berapa Lama Orang Tertular COVID-19 di Dalam Ruangan?

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim berencana untuk melakukan pembelajaran tatap muka pada awal tahun depan. Banyak orangtua yang masih khawatir, karena belum ada tanda-tanda pandemi COVID-19 akan mereda.

Dikutip dari situs BGR, Rabu, 2 Desember 2020, sebuah studi mengatakan bahwa ketika ada yang mengidap COVID-19 dalam satu ruangan yang sama maka penyebaran dari satu orang ke orang lainnya tergantung dari berbagai faktor.

Baca: Perkembangan Kilat Vaksin COVID-19 Patut Dipertimbangkan

Faktor-faktornya tersebut antara lain sirkulasi udara, pemakaian masker, melakukan jaga jarak, hingga ukuran ruangan. Peneliti dari MIT menggunakan model matematika dalam melakukan penelitian ini.

Temuan mereka dapat digunakan di situs web, di mana pengguna secara khusus memasukkan beberapa variabel untuk membantu peneliti menemukan risiko yang terkait dengan pertemuan di dalam suatu ruangan. Masyarakat Indonesia juga bisa mengaksesnya ke tautan https://indoor-covid-safety.herokuapp.com/ dan menggunakan Bahasa Indonesia.

Lingkungan yang menjadi pilihan adalah restoran, tempat ibadah atau rumah-rumah di pinggiran kota. Mereka juga bisa menentukan ukuran ruangan, ketinggian langit-langit, sistem ventilasi, dan kelembaban.

Kemudian, berhubungan dengan perilaku manusia, seperti menentukan apakah orang tersebut berbicara dengan suara keras atau pelan, persentase orang yang menggunakan masker, jenis masker, serta toleransi risiko orang di dalam ruangan.

Cara ini bisa digunakan saat anak Anda kembali ke pembelajaran tatap muka pada Januari mendatang dengan memasukkan variabel yang diperlukan untuk mengukur seberapa aman hal-hal tersebut nantinya.

Sebelumnya, sebuah perusahaan asal Inggris menciptakan jenis tes virus corona atau COVID-19 terbaru. Jenis tes COVID-19 tersebut dapat dilakukan tanpa memerlukan usap (swab) hidung atau tenggorokan, yang terbukti sangat efektif dalam mengidentifikasi kasus infeksi, termasuk untuk orang yang tidak menunjukkan gejala.

Tes tersebut adalah Tes RT-Lamp, yang dibuat oleh perusahaan swasta Inggris, OptiGene. Tes ini telah dipelajari dalam program percontohan di Kota Southampton di Inggris bagian selatan. Di mana tes digunakan untuk menguji beberapa staf layanan kesehatan serta 55.000 orang yang terhubung ke universitas setempat.