Buya Syafii Mengajarkan Banyak Hal, Tetap Sederhana Meski Jabatan Mentereng

Merdeka.com - Merdeka.com - Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Syafii Maarif atau Buya Syafii meninggal dunia, Jumat (27/5). Buya diketahui sempat menjalani perawatan di rumah sakit beberapa waktu lalu.

Kabar duka ini disampaikan oleh Ketum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. Menurut dia, Buya Syafii meninggal Pukul 10.15 WIB.

Sosok Buya Syafii dikenal begitu bersahaja dan sederhana. Buya mengajarkan kita banyak hal tentang hidup.

Dikutip dari suaramuhammadiyah.id, bagi sebagian warga Yogyakarta, keseharian Buya Syafii Maarif dianggap biasa.

Jabatan mentereng sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah 1997-2005, dan Anggota Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKPPIP) dan mengubah perilaku Buya Syafii.

Perilaku semacam ini sering ditemui pada diri Pimpinan Muhammadiyah, organisasi yang terbilang kaya. Pak AR Fachruddin misalnya, juga dikenal dengan kesederhanaan dan kesahajaannya. Sehari-hari, Pak AR berjualan bensin eceran. Ke mana-mana hanya mengenderai motor butut dan bahkan tidak pernah memiliki rumah hingga wafatnya. Padahal, tawaran tahta dan harta berlebih, datang bertubi-tubi, termasuk dari presiden Soeharto.

Foto Buya Syafii Maarif pernah viral di media sosial. Foto itu memperlihatkan Buya Syafii sedang duduk menunggu KRL di stasiun. Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang pria di sebelahnya, tampak juga tiga pelajar dalam sebangku itu. Tujuan perjalanan Buya Syafii adalah Istana Bogor.

kesederhanaan buya syafii
kesederhanaan buya syafii

©2022 Merdeka.com/suaramuhammadiyah.id

Direktur Maarif Institute, Muhammad Abdullah Darraz mengisahkan bahwa sehari sebelumnya, Buya menolak untuk diantar-jemput menggunakan mobil Maarif Institute. Buya justru memilih angkutan umum, meski harus berdesakan dan berangkat di pagi buta.

Sebuah foto lain menampilkan Buya Syafii Maarif mengenakan kemeja batik lengan panjang duduk dalam KRL dengan kedua tangannya yang ditopang tongkat hitam. Dia tampak diapit lelaki yang tertidur dan seorang lagi yang kelihatannya tak menyadari jati diri pria tua berusia 82 tahun di sebelahnya itu.

Foto Buya Syafii bersepeda dengan menenteng kresek putih berisi buku juga sempat ramai sebelumnya. Saat itu, Buya Syafii sedang menuju ke suatu acara seminar. Kebiasaan bersepeda ini sudah lumrah dilakukan Buya saban hari. Demikian juga dengan aktivitas menyetir mobil sendiri.

Cerita lainnya, salah seorang pengajar di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta, Erik Tauvani sering membersamai Buya Syafii dalam berbagai perjalanan dengan kereta api. Sebabnya, Buya Syafii menjadi tim ketua pembangunan gedung baru madrasah almamaternya itu.

Erik mengaku selalu mendapat keteladanan dalam setiap perjalanan. Misalkan saja, Buya Syafii langsung salat di kereta api atau di mobil begitu azan berkumandang. Bagi Buya Syafii, salat tetap yang utama, meskipun dalam perjalanan. Jika sedang tidak bepergian, Buya akan ditemui di barisan jamaah salat di Masjid Perum Nogotirto.

Pernah juga, Erik mendapati Buya Syafii sedang asyik makan dan bercengkrama di sebuah angkringan di dekat rumahnya. Buya ketika itu sempat membagikan goresan yang dibelinya di angkringan itu kepada para rombongan Erik. Buya Syafii tidak sungkan untuk bergaul dengan semua kalangan. Mulai dari para elit bangsa, pengusaha, penguasa, mahasiswa, pemuda, hingga rakyat biasa.

Kini Buya Syafii telah berpulang. Hidup sederhana meski punya jabatan mentereng Buya Syafii mengajarkan kita tentang banyak hal. [rnd]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel