Buya Yahya Jawab Soal Pesugihan

Donny Adhiyasa, Isra Berlian
·Bacaan 2 menit

VIVA – Istilah pesugihan tidak terdengar asing di telinga masyarakat Indonesia. Pesugihan sendiri dikenal sebagai cara untuk mendapatkan kekayaan melalui dunia perdukunan.

Bahkan beberapa masyarakat yang percaya akan melakukan sejumlah ritual di suatu lokasi tertentu yang diyakini dapat mendatangkan kekayaan untuknya. Lantas bagaimana Islam melihat pesugihan tersebut?

Terkait dengah hal tersebut, Buya Yahya angkat bicara. Dalam konten video channel YouTube Al Bahjah TV “Bagaimana Nasib Orang Yang Punya Pesugihan di Alam Barzakh?”, Buya Yahya menjelaskan bahwa definisi pesugihan adalah orang yang punya pesugihan adalah orang yang punya kekayaan dengan cara berurusan dengan dunia sihir, dunia perdukunan.

Sehingga orang tersebut datang ke suatu tempat mempercayai tempat itu bisa mendatangkan kekayaan melalui petunjuk seorang dukun. Lalu dukun memberikan sesuatu dan berkata ini, dibantu setan, dibantu oleh jin, dibantu oleh makhluk tidak terlihat.

Lebih lanjut, Buya Yahya menjelaskan tindakan orang-orang tersebut sudah keluar dari keyakinan bahwasanya yang memberi rizki adalah Allah, tidak mencari rizki dengan benar.

"Ada pergi ke gunung sana, beberapa hari untuk kaya. Naudzubillah. Kalau mau cari kekayaan kerja yang benar. Bukan mempercayai hal seperti itu," ungkap Buya Yahya.

Buya Yahya menjelaskan bahwa orang yang percaya semacam itu mungkin akan dapat kekayaan. Namun, kekayaan yang didapatkannya itu akan mengarah pada neraka.

"Apakah mungkin orang semacam itu, dapat kekayaan? Ya mungkin namanya sihir, kan ada jaman dulu orang ada sihir dan diberi Allah kekayaan tetapi kekayaan kepada neraka. Bahkan orang gelap mata mencari kekayaan dengan cara gelap mencari pasangan agar menyukainya dengan perdukunan, Naudzubillah. Keluar dari iman," jelas Buya Yahya.

Lantas bagaimana dengan pendapat yang beredar di masyarakat jika mereka pelaku pesugihan ketika meninggal apa benar akan menjadi budak para setan? Terkait hal itu Buya Yahya menepisnya. Beliau menyebut bahwa cerita itu hanya dibuat oleh dukun.

"Tidak menjadi budaknya iblis, tidak langsung pergi ke gunung kawi atau ke gunung mana. Dia masuk ke alam baru yaitu alam barzah. Dan tidak ada iman dan siksanya tidak kira-kira," kata Buya Yahya.

Maka, dari itu, Buya Yahya mengingatkan agar masyarakst jangan percaya dengan kepercayaan sebagian masyarakat yang mengatakan jika mereka yang sudah punya sebagian ilmu ketika meninggal akan menjadi budak setan atau iblis.

"Itu bahasa orang tidak beriman atau bahasa sinetron atau film. Orang meninggal tidak akan menjadi setan di dunia saja dia jadi budak setan patuh dengan petunjuk setan kalau sudah mati memetik buahnya yakni disiksa di alam barzah. Dan bisa saja itu termasuk, kalau sudah percaya itu keluar dari iman di siksa bersama orang kafir lainnya," ujar Buya Yahya.