ByteDance Induk TikTok Makin Berjaya, Nilai Perusahaan Lampaui Coca-Cola dan Exxon

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Sekalipun regulator China kian agresif mengincar sejumlah raksasa teknologi, ByteDance rupanya masih konsisten mencetak kesuksesan. Induk dari aplikasi TikTok ini diprediksi akan memiliki valuasi ratusan miliar dollar dan melampaui raksasa migas Exxon bahkan produsen minuman terkenal Coca-Cola Co. sekalipun.

Dikutip dari Bloomberg, Kamis (1/4/2021) beberapa sumber menyebut saham ByteDance telah diperdagangkan dengan harga lebih dari total USD 250 miliar atau sekitar Rp 3.600 triliun (kurs USD 1 = Rp 14.400) di pasar sekunder.

Salah seorang sumber juga menyebut, sebulan lalu saham perusahaan sudah diperdagangkan dengan harga sekitar USD 200 miliar atau sekitar Rp 2.880 triliun dalam transaksi tertutup.

Sementara itu, menurut CB Insight, selama penggalangan dana terakhirnya tahun lalu, ByteDance mencatatkan valuasi sekitar USD 140 miliar atau sekitar Rp 2.016 triliun.

Nilai startup yang berbasis di Beijing ini telah melonjak dalam beberapa pekan terakhir karena investor mendapatkan kepercayaan pada bisnis dan pendiri perusahaan, Zhang Yiming, yang sedang mempertimbangkan opsi untuk penawaran umum perdana (IPO).

"ByteDance adalah salah satu dari sedikit perusahaan internet top China yang belum go public, perusahaan dengan pertumbuhan bisnis, bakat, dan produk yang baik. Ini adalah sesuatu yang dincar hot money," kata Shawn Yang, direktur pelaksana di Blue Lotus Capital Advisors.

Kabar rencana IPO ByteDance tersebut mencuat usai perusahaan mengumumkan pemilihan kepala keuangan perusahaan yang baru, Chew Shou Zi.

Dia adalah mantan kepala keuangan di perusahaan produsen smartphone Xiaomi, yang juga bertanggung jawab atas kesuksesan IPO perusahaannya dua tahun silam.

Rencana IPO ini lebih dulu datang dari anak bisnisnya, Douyin yang pada bulan November lalu dikabarkan berencana melantai di bursa Hong Kong.

Meski begitu, beberapa sumber lain juga menyebut Zhang kemungkinan akan mendaftarkan seluruh bisnianya sebagai perusahaan publik secara sekaligus.

Di perusahaan sebelah, salah satu kompetitornya yang lebih kecil, Kuaishou telah melantai di bursa saham Hong Kong bulan lalu setelah adanya desakan sejumlah investor. Sahamnya sudah naik lebih dari dua kali lipat dari harga IPO dan valuasinya kini mencapai USD 140 miliar atau sekitar Rp 2.016 triliun.

Melihat kesuksesan pesainganya itu membuat investor ByteDance kian optimistis untuk mematok valuasi yang lebih besar.

Beberapa investor dikabarkan mengajukan nilai USD 350 miliar atau sekitar Rp 5.040 triliun untuk valuasi total saham perusahaan, lebih dari dua kali lipat valuasi Kuaishou.

Jika nilai jumbo tersebut berhasil terealisasi, beberapa investor seperti Sequoia Capital, General Atlantic dan SoftBank Group Corp akan menuai untung paling besar saat perusahaan IPO nanti.

Dihimpit Regulasi Dua Negara

Bendera AS dan China berkibar berdampingan (AP/Andy Wong)
Bendera AS dan China berkibar berdampingan (AP/Andy Wong)

Catatan positif bisnis ByteDance bukan berarti akan terus moncer di tahun-tahun berikutnya. Perusahaan masih menghadapi ketidakpastian peraturan.

Bisnisnya di AS masih belum jelas usai pemerintahan Trump memaksa perusahaan menjualnya kepada entitas dalam negeri untuk menghindari kecurigaan atas penyalahgunaan data pengguna.

Meski sudah menjatuhkan hati kepada Oracle, transaksi kedua perusahaan masih belum jelas hingga hari ini. Terlebih pasca peralihan kekuasaan kepada Biden yang dikabarkan akan meninjau ulang transaksi ini, membuat penjualan TikTok berpeluang makin jauh dari kata sepakat.

Ketidak pastian regulasi ini bukan satu-satunya dilema perusahaan. Terbaru, pemerintahan Xi Jinping makin menunjukkan sikap agresifnya terhadap sejumlah raksasa teknologi lewat UU anti-monopoli yang baru. ByteDance berpotenai jadi target berikutnya usai regulator telah memanggil Alibaba dan Tencent.

Presiden Xi Jinping memperingatkan pada bulan Maret bahwa pemerintah akan mengincar perusahaan teknologi yang telah mengumpulkan data dan memiliki kekuatan pasar. Beijing sedang mempertimbangkan pembentukan lembaga khusus pemerintah untuk mengawasi data yang dikumpulkan raksasa-raksasa teknologi di negeri tirai bambu.

Sebelumnya, bos Tencent awal bulan ini baru saja menghadap regulator China terkait permintaan pemerintah untuk merombak bisnis pembayaran digitalnya, WeChat Pay. Pejabat anti-monopoli kabarnya meminta Tencent menjadikan layanan keuangannya itu untuk menjadi holding terpisah.

Begitu pun dengan bos Alibaba yang sudah sejak akhir tahun lalu sibuk bolak-balik Beijing pasca salah satu anak usahanya, Ant Group batal IPO karena dijegal regulator. Terbaru, Alibaba juga diminta melepas kepemilikannya atas perusahaan surat kabar terbesar Hong Kong, South China Morning Post.

Reporter: Abdul Azis Said

Saksikan Video Ini