Cacatnya Skenario Sambo Taruh Senjata ke Sisi Kiri Jasad Brigadir J yang Bukan Kidal

Merdeka.com - Merdeka.com - Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengungkap salah satu kecacatan skenario yang disusun Mantan Kadiv Propam, Ferdy Sambo untuk menutupi pembunuhan berencana Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Meski telah diakui Sambo bahwa skenario palsu baku tembak hanyalah karangannya. Namun terkuak kecacatan dibaliknya itu, seperti diakui Terdakwa Richard Eliezer alias Bharada E lewat kebiasaan penggunaan tangan Brigadir J.

Berawal dari keterangan Bharada E yang melihat pergerakan Ferdy Sambo setelah Brigadir J ditembak olehnya. Dengan mengongkang senjata lantas menembak Brigadir J dan dengan kokangan senjata lain untuk menembak dinding.

"Dua kali waktu itu krak krak atau sekali (kokang senjata)?" kata JPU saat sidang di PN Jakarta Selatan, Kamis (5/1).

"Sekali dulu," kata Bharada E.

"Habis itu saudara mendengar lagi setelah tembak menembak," tanya kembali JPU.

"Siap baru pas balik arah dari nembak ke atas tangga, kan balik arah tuh Pak FS fs atas tv nembak. Nah itu pas pegang senjata dikokang lagi bapak. Itu saya lihat sudah HS (-19/senjata lain)," ujar Bharada E.

Setelah itu, JPU menggali terkait dengan kebiasaan Brigadir J dalam memakai tangannya. Hal itu seraya menguji soal skenario palsu yang dibangun Sambo, ternyata memiliki kecacatan dibaliknya.

"Saudara kan akrab dengan Yosua saudara tahu kebiasaan dia, apakah saudara Yosua kidal (pakai tangan kiri)?" tanya JPU.

"Tidak (Bukan Kidal), kanan (biasa pakai tangan kanan)," kata Bharada E.

"Pada waktu saudara melihat posisi Pak FS yang menembakan ke arah tv itu di sebelah mananya korban?" tanya JPU.

"Maksudnya bagaimana bapak?" timpal Bharada E menegaskan.

"Ini kan korban tertelungkup pada waktu dipegangkan (tangan Brigadir J)," ujae JPU.

"Tangan kiri bapak" ucap Bharada E.

Barulah terkait dengan adanya kecacatan dalam skenario palsu Sambo, terkonfirmasi ketika JPU memastikan senjata yang dipakai Ferdy Sambo menembak dinding malah ditaruh di sisi kiri jasad Brigadir J.

"Dan diletakan di (senjata)? tanya JPU.

"Di samping kiri," jawab Bharada E.

"Di dekat tangga?" tanya kembali JPU.

"Di dekat tangan," jawab kembali Bharada E.

"Makanya tadi saya tanyakan apakah korban (Brigadir J) kidal?" ucap JPU. Lalu dibantab Bharada E bahwa Brigadir J memakai tangan kanan.

Keterangan Bharada E disampaikan saat dirinya hadir sebagai agenda pemeriksaan terdakwa dalam perkara dugaan pembunuhan berencana Brigadir J, saat sidang di PN Jakarta Selatan.

Kejadian Penembakan Versi Sambo

Sebelumnya, Terdakwa Ferdy Sambo sempat bercerita detik-detik kejadian penembakan Brigadir J yang terjadi di rumah dinas. Ketika, ia masuk ke dalam dan ketemu dengan Bripka RR, Bharada E, dan Kuat untuk selanjutnya memerintahkan panggil Brigadir J.

"Saya masuk ke dalam kemudian Richard turun setelah itu Yosua masuk bersama Kuat, dan Ricky di belakangnya begitu masuk. Saya sudah emosi waktu itu karena mengingat perlukan Yosua waktu itu, saya kemudian berhadapan dengan Yosua," kata Sambo saat sidang di PN Jakarta Selatan, Rabu (7/12).

"Saya sampaikan kepada Yosua 'kenapa kamu tega sama ibu' jawaban Yosua, tidak seperti yang saya harapkan. dia malah nanya balik 'ada apa komandan'. Seperti menantang saya kemudian lupa saya tidak bisa mengingat lagi, saya bilang kamu kurang ajar, saya perintahkan Richard untuk 'hajar cad'," tambah Sambo.

Atas perintah itulah, kemudian Bharada E menembak Brigadir J hingga jatuh tersungkur. Kejadian berlangsung cepat sekali itu diklaim Sambo diluar dari perkiraannya dan tidak direncanakan.

"'Hajar cad kamu hajar Cad' kemudian ditembak lah Yosua sambil maju sampai roboh, itu kejadian cepat sekali yang mulia tidak sampai sekian detik. Karena cepat sekali penembakkan itu," ujar Sambo.

"Saya kaget yang mulia saya perintahkan 'stop berhenti' begitu melihat Yosua jatuh kemudian sudah berlumuran darah kemudian saya jadi panik yang mulia saya tidak tahu bagaimana menyelesaikan penembakkan ini," tambah Sambo.

Hingga akhirnya melibat Brigadir J yang sudah terkapar dengan penuh darah, Sambo mengklaim akhirnya memutuskan kalau kejadian itu disusunnya menjadi skenario tembak menembak dengan mengambil senjata Brigadir J.

"Kemudian saya berpikir dengan pengalaman saya, yang paling mungkin adalah peristiwa ini penembakkan ini adalah tembak menembak. Akhirnya kemudian saya melihat ada senjata Yosua di pinggan saya ambil dan mengarahkan tembakan ke dinding," bebernya.

"Pinggang siapa?" tanya hakim.

"Pinggang Yosua," ujar Sambo.

"Setelah itu saya juga ini harus bekas tembakan bekas Yosua, kemudian saya mengambil tangan Yosua menggenggam senjata milik Yosua kemudian menembakkan ke lemari sebelah atas. Setelah itu saya bawa senjata yosua dengan masker saya letakkan di samping Yosua," ungkap Sambo. [eko]