Caleg artis dinilai bisa perburuk citra DPR

MERDEKA.COM. Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) menilai, partai politik tidak peduli dengan kualitas DPR ke depan. Hal ini terlihat dari masih banyaknya partai yang mencalonkan artis sebagai bakal calon anggota legislatif (caleg).

Koordinator Formappi, Sebastian Salang mengatakan, dalam Daftar Caleg Sementara (DCS) masih banyak partai politik mengusung artis. Artinya, partai lebih mementingkan elektabilitas partai ketimbang kualitas DPR.

"Tapi kebanyakan yang saya lihat itu artis baru. Artinya, parpol itu tidak peduli dengan kualitas DPR, mereka lebih peduli dengan elektabilitas mereka," jelas Sebastian dalam jumpa pers di Kantor Formappi, Jakarta, Minggu (28/4).

Dia menambahkan, semakin banyaknya artis yang direkrut oleh partai pada Pemilu 2014 mencerminkan bahwa partai tidak percaya diri menghadapi pemilu. Terlebih lagi, lanjut dia, elektabilitas partai semakin merosot.

"Banyak parpol tidak percaya diri dengan berbagai hasil survei yang trendnya selalu menurun. Sementara, tidak ada investasi yang baik yang dilakukan oleh partai untuk mengembalikan kepercayaan," imbuhnya.

Oleh karena itu, dia menilai, partai lebih memilih 'jualan' artis terkenal ketimbang harus merekrut kader yang memang berpotensi. Selain itu, modal finansial yang dimiliki artis juga menjadi faktor pendukung.

"Karena itu jualan mereka ya artis-artis yang terkenal itu. Itu salah satu cara. Yang kedua, ya uang," tegas dia.

Jika pada akhirnya para artis ini terpilih dalam pemilu legislatif nanti. Menurut Sebastian, potret kinerja DPR akan semakin merosot.

"Akhirnya kemudian yang dikorbankan adalah kualitasnya, pengalaman politiknya. Sehingga kalau kepilih nanti, artis-artis itu kebingungan sendiri," tandasnya.

Berikut daftar parpol penampung artis menurut Formappi, Partai NasDem sebanyak 6 artis, PKB (7 artis), PDIP (5 artis), Partai Golkar (3 artis), Partai Gerindra (9 artis), Partai Demokrat (5 artis), PAN (9 artis), PPP (4 artis), dan Partai Hanura (3 artis).

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.