Calon hakim agung Daming Sunusi gugup dicecar DPR

MERDEKA.COM,

Anggota Komisi III DPR Syarifuddin Suding mencecar calon hakim agung, Daming Sunusi, yang sedang menjalani fit and proper test. Politisi Partai Hanura ini dengan nada tinggi mempertanyakan motivasi dasar seorang Daming untuk menjadi seorang hakim agung.

Hal ini dikarenakan, pada saat Daming memperkenalkan diri, Daming hanya mengutarakan motivasinya sebagai hakim agung hanya untuk memperbaiki sistem di lingkungan Mahkamah Agung. Alasan tersebut dinilai Suding sangat formalitas sehingga membuatnya ingin mengetahui lebih jelas apa dasar keinginan Damin menjadi seorang hakim agung.

Suding mengaku tidak ingin kembali dipersalahkan oleh masyarakat atas kasus yang terjadi pada Hakim Agung Ahmad Yamanie yang dipecat karena diduga melakukan permainan putusan.

"Kami tidak ingin terjadi lagi, karena kami yang disalahkan oleh masyarakat, kami ingin pilih orang yang berintegritas. Moralitas dikedepankan, dengan begitu, akan menghasilkan penegakan hukum yang baik," jelas Suding saat melakukan uji kelayakan dan kepatutan Calon Hakim Agung di Gedung DPR, Jakarta, (14/1).

Suding melanjutkan, jika hanya memiliki motivasi untuk memperbaiki sistem, tidak perlu jadi hakim agung.

"Itu memang sudah kewajiban, apa sesungguhnya yang memotivasi bapak untuk masuk ke lingkungan MA," tanya Suding dengan nada tinggi.

"Di sana banyak praktik mafia peradilan begitu dahsyat, bapak bisa terbawa-bawa," tambah dia.

Hal ini tentu membuat Damin Sunusi gugup, sehingga pada saat dia hendak menjawab pertanyaan Suding. Dirinya salah menyebutkan nama fraksi asal Syarifuddin Suding.

"Baik terima kasih bapak Syarifuddin Suding dari fraksi PKS," kata Daming.

Mendengar hal itu, tentu Suding pun memotong pembicaraan dan melakukan protes kepada Daming.

"Hanura pak, Hanura," potong Suding.

"Oh maaf, dari Hanura, maaf," sambung dia.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.