Calon Kapolri, Istana: SBY Pilih Best of The Best

TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono belum bersikap ihwal kesimpulan Komisi Kepolisian Nasional yang menyatakan tak ada calon kepala Kepolisian RI yang bersih. Menurut juru bicara Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha, Presiden SBY hingga kini belum menentukan nama-nama yang akan dicalonkan menjadi Kepala Polri.

"Yang jelas bahwa mereka yang nanti akan dipilih atau ditunjuk Presiden sebagai Kepala Polri merupakan yang terbaik," kata Julian di halaman parkir Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 24 Juli 2013. "Best of the best dari yang ada di Kepolisian RI."

Julian tak ingin berkomentar ihwal temuan Komisi Kepolisian bahwa secara keseluruhan tak ada calon Kepala Polri yang murni dan bersih. "Jangan begitulah. Kita tidak boleh prejudice, kan," ujarnya.

Menurut dia, semua proses terhadap calon Kepala Polri tentu ada ada penilaian dan pertimbangannya. "Mudah-mudahan kita akan mendapatkan pimpinan Polri yang paling tepat untuk memimpin Kepolisian RI," ucap Julian.

Sembilan jenderal meramaikan bursa calon Kepala Polri. Dua di antaranya Kepala Lembaga Pendidikan Polri Komisaris Jenderal Budi Gunawan dan Asisten Operasi Kepala Polri Inspektur Jenderal Badrodin Haiti. Keduanya pernah disebut sebagai pemilik rekening gendut.

Komisi Kepolisian mengaku telah menyerahkan nama-nama mereka ke Komisi Pemberantasan Korupsi, dua pekan lalu. Komisi meminta KPK memverifikasi harta setiap calon.

Pada Juni 2010, majalah Tempo menulis Budi dan Badrodin memiliki rekening jumbo yang mencurigakan. Pada 19 Agustus 2008, kekayaan Budi Rp 4,6 miliar. Bersama anaknya, ia juga telah membuka rekening dan menyetor uang Rp 29 miliar dan Rp 25 miliar.

Sedangkan Badrodin, per 24 Maret 2008, memiliki harta Rp 2 miliar dan US$ 4.000. Dia juga disebut membeli polis asuransi Rp 1,1 miliar. Asal dana dari pihak ketiga. Ia pun pernah menarik dana Rp 700 juta dan menerima transfer rutin Rp 50 juta setiap bulan.

Anggota Komisi Kepolisian, Adrianus Meliala, menyatakan soal rekening sudah ditanyakan oleh komisinya kepada setiap calon. "Itu sebagian kecil dari konfirmasi kami, tapi hasilnya hanya konsumsi Presiden," katanya.

Namun, secara keseluruhan, Komisi menyimpulkan tak ada calon yang murni bersih. "Tapi, sepanjang mereka bisa menjelaskan mengapa dia melakukan kesalahan itu, tidak mengulanginya lagi, dan kariernya bagus, itu tolok ukur kami."

PRIHANDOKO

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.