Campuran Bioetanol ke BBM Jadi Alternatif Tekan Emisi Karbon

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia akan mendapatkan sejumlah keuntungan jika menerapkan mandatori campuran bioetanol pada Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin, seperti yang telah diterapkan biodiesel pada solar.

Ketua Pusat ITB Sustainable Development Goals (ITB SGDs Network) DR Tirto Prakoso mengatakan, camuran bioetanol pada bensin memberikan sejumlah manfaat, seperti mengurangi ketergantungan pada impor BBM atau minyak mentah, selain itu juga meningkatkan kualitas udara karena gas buang hasil pembakaran mesin sektor transportasi lebih rendah kadar emisinya. Etanol juga dapat meningkatkan kadar oktan pada bensin.

"Kedepannya Indonesia tidak tergantung oleh impor bahan bakar jadi dan impor minyak mentah. Selain tentu saja ada keuntungan lingkungan," kata Tirto, di Jakarta, Rabu (25/8/2021).

Berdasarkan Climate Transparency Report 2020 tetang perkembangan upaya pengurangan emisi di negara G20, sektor transportasi di Indonesia menyumbang emisi karbon sebesar 27 persen di sektor energi, di bawah sektor kelistrikan dan industri yang masing-masing menyumbang 37 persen.

Tirto mengungkapkan, sebagai negara agraris Indonesia bisa menjadi produsen bioetanol. Adapun bahan pembuat bioetanol berasal dari produk pertanian seperti tetes tebu, singkong, maupun jagung.

Di sisi lain, menjadi produsen bioethanol juga mendaapt manfaat jangka panjang, yaitu menciptakan lapangan pekerjaan di sektor pertanian dan merangsang pertumbuhan industri pengolahan ethanol dalam negeri.

"Untuk itu, kita harus berani terlebih dahulu memperkenalkan bioetanol ke pasar domestik," tutur Tirto.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Pencampuran Bioetanol

Ilustrasi BBM (Gambar oleh bere_moonlight0 dari Pixabay)
Ilustrasi BBM (Gambar oleh bere_moonlight0 dari Pixabay)

Menurut Tirto, negara lain seperti Australia, Amerika Serikat, Thailand dan Filipina telah menerapkan pencampuran bioetanol pada bensin dan telah menunjukan hasil.

Seperti implementasi bioetanol di Filipina selama 2009 sampai2016 telah memberikan dampak positif seperti pengurangan emisi karbon sebesar 10 metrics ton atau sekitar 55,5 persen lebih rendah dibanding emisi dari bensin murni campuran MTBE, penghematan forex sebesar 48 miliar peso Filipina, penghentian penggunaan MBTE pada bensin, dan terciptanya lapangan pekerja di pedesaan di sektor pertanian hingga 1,2 juta pekerja.

Sedangkan di Australia, implementasi program bioetanol pada 6 pabrik bioethanol berkapasitas masing-masing 100 juta liter memiliki dampak yang positif.

Dampak itu antara lain pengurangan gas emisi sebesar 2,6 juta ton per tahun, menciptakan lapangan pekerjaan hingga 4.000 secara total, yang terdiri dari sekitar 1.000 pekerjaan di wilayah sekitar pabrik pengolahan (direct jobs) dan sekitar 3.000 indirect jobs, meningkatkan modal investasi daerah hingga USD720 juta dan pendapatan tahunan sebesar USD500 juta, serta meningkatkan kapasitas produksi baru etanol dalam negeri yang diproyeksikan sekitar 550 juta liter per tahunnya.

"Mereka harus menjadi pembelajaran untuk Indonesia agar dapat memperkenalkan bioethanol di pasar domestik. Bioetanol bisa membantu agenda pemerintah dalam mengurangi emisi karbon di sektor transportasi," ujar Tirto.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel