Cantiknya Amsterdam dari Kanal

Ke Amsterdam tanpa berjalan kaki menyusuri kanal itu bagaikan ke Bali tanpa berjalan-jalan di Kuta. Tetapi karena tidak puas hanya berjalan kaki tak tentu arah, saya pun menghampiri salah satu dari sekian banyak kantor yang menawarkan tur menyusuri kanal, dikenal dengan istilah canal cruise.

Pilihan rutenya pun bermacam-macam, mulau dari satu jam hingga trip sehari. Makin lama durasinya makin mahal. Saya memilih tur satu jam dengan tarif sepuluh euro per orang. Lumayan mahal bila dikonversikan dalam rupiah.

Pertimbangan saya, dengan ikut tur ini saya akan dapat melihat Amsterdam dari sudut pandang yang lain. Selain itu, kapal juga akan melewati tempat-tempat bersejarah di kota ini, lumayan sebagai orientasi arah untuk berkunjung pada hari-hari berikutnya.

Penumpang di kapal tidak banyak. Walaupun kapasitasnya untuk lebih dari 30 orang, saat itu hanya terisi kurang dari 10 penumpang. Kemungkinan karena tur satu jam ini sangat sering dioperasikan, tiap 30 menit sekali. Saat ini ada sekitar 200 kapal wisata yang beroperasi di Amsterdam.

Kapal menjauhi dermaga dengan perlahan, membuat burung-burung yang bersandar di tepian beterbangan. Informasi tentang tur, sejarah kota, dan masing-masing lokasi bersejarah diberikan oleh rekaman suara yang sudah diprogram. Informasi wisata melalui audio tersebut diberikan dalam tiga bahasa, yaitu Belanda, Inggris, dan Jerman.

Saya duduk nyaman di bangku kapal yang beratapkan kaca, semilir angin musim dingin menerpa. Pertama, kami dibawa ke sekitar pelabuhan di mana kapal-kapal yang lebih besar bersandar. Kapal melewati bangunan Museum Maritim. Di sisi museum tersebut terdapat sebuah kapal kuno dengan tulisan VOC.

Kami dibawa menyusuri kanal-kanal yang lebih sempit. Sering berpapasan dang kapal wisata lain. Di kanan-kiri terdapat kapal-kapal milik pribadi yang ditambatkan. Seperti mengendarai mobil, lalu-lintas kapal di kanal Amsterdam pun diatur sedemikian rupa.

Salah satu pemandangan yang saya sukai ketika menyusuri kanal adalah rumah-rumah kapal (houseboats) yang umum terlihat di Amsterdam.

Rumah-rumah ini berada di atas air, bentuknya seperti rumah biasa. Banyak yang memiliki teras dan taman bunga. Nikmat sepertinya duduk sembari minum kopi di teras pada sore hari. Rumah kapal ini banyak juga yang disewakan untuk wisatawan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Bangunan-bangunan tua merupakan daya tarik utama Amsterdam, banyak di antaranya yang dibangun pada abad ke-16 dan ke-17. Rumah yang tertua adalah Begijnhof 34, rumah kayu yang dibangun pada tahun 1425.

Sementara itu bangunan paling tua di Amsterdam adalah Oude Kerk (Gereja Tua) yang berada di De Wallen. Kebanyakan bangunan-bangunan ini masih berdiri kokoh walaupun banyak yang agak miring. Dari luar memang terlihat tua, namun bagian dalamnya sudah direnovasi dan dimodernisasi.

Salah satu kanal yang paling terkenal adalah Herengracht atau Gentlemen’s Canal, merupakan salah satu kanal yang pertama dan paling elegan. Di sisi kanan-kiri merupakan rumah-rumah besar milik orang penting.

Bagian lain yang menarik dari perjalanan ini adalah melihat lalu lalang orang dan sepeda, baik di jalan maupun ketika mereka melintasi jembatan.

Bayangkan saja, di Amsterdam ada lebih dari 1500 jembatan. Salah satu yang terkenal adalah Magere Brug (Skinny Bridge) yang melintasi Sungai Amstel. Banyak jembatan di kota dibangun sedemikian rupa sehingga dapat diangkat ketika ada kapal besar melintas.

Kapal melintasi beberapa museum, di antaranya Tassenmuseum atau Museum Tas dan Dompet, Pusat Sains NEMO, serta Museum Seks yang berada di seberang jalan tak jauh dari tempat kapal bersandar.

Pecinta museum bisa mengambil paket tur yang sekaligus mengunjungi beberapa museum paling terkenal di Belanda, yaitu Rijksmuseum, Van Gogh Museum, Stedelijk Museum, dan Amsterdam Museum.

Waktu satu jam terasa berlalu sangat singkat karena saya sangat menikmati perjalanan kali ini. Menyusuri kanal, menyaksikan arsitektur cantik di tepiannya, sambil menikmati hembusan angin dingin membuat saya betah.

Sayangnya, untuk berkeliling kanal setengah hari atau apalagi sehari penuh akan membuat dompet saya jebol.

Bila berkunjung ke Amsterdam, sempatkanlah menyusuri kanal dengan kapal walau sejenak!

Baca juga cerita perjalanan Olenka yang lain di backpackology.me