Cantiknya Kota Surabaya kala Tabebuya Bermekaran

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Surabaya - Bunga Tabebuya sedang bermekaran di Kota Pahlawan Surabaya saat ini. Bunga Tabebuya itu biasanya mekar pada saat cuaca panas, sehingga mulai sebelum lebaran hingga saat ini, bunga tersebut sudah mulai bermekaran.

"Kalau terkena angin, bunga itu akan rontok dan yang lain akan mekar lagi. Dan uniknya lagi, yang mekar kali ini rata-rata Bunga Tabebuya yang berwarna kuning, padahal spesiesnya ada putih dan pink juga,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Surabaya, Anna Fajriatin, Sabtu (15/5/2021).

Anna mengatakan, bunga Tabebuya yang saat ini juga menjadi salah satu ikon Surabaya dan sudah menyebar di berbagai titik diseluruh Kota Surabaya, terutama di pinggir jalan protokol.

Bahkan, yang mekar saat ini rata-rata yang ada di jalan-jalan protokol, sehingga menambah cantik jalanan Surabaya di saat momen lebaran kali ini.

“Hampir semua jalanan Surabaya sudah ditanami Bunga Tabebuya, karena setiap rayon di DKRTH melakukan penanaman Tabebuya. Jadi jumlahnya sudah sangat banyak se-Surabaya,” ucapnya.

Anna menjelaskan, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sudah menanam Tabebuya di pinggir-pinggir jalan itu sudah sejak beberapa tahun lalu. Tiap tahun jumlahnya terus diperbanyak. Pada tahun 2020, total Tabebuya yang keluar atau yang ditanam lebih dari seribu batang.

Kemudian tahun 2021 hingga bulan ini, jumlah Tabebuya yang keluar atau yang ditanam sudah lebih dari 500 batang. “Kalau untuk spesiesnya memang ada tiga, yaitu kuning, pink dan putih,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa Pemkot Surabaya memilih tanaman Tabebuya yang banyak ditanam di pinggir jalan karena dari segi kualitas bunganya memang menarik, dan pohonnya cepat tumbuh besar.

Di sisi lain, tanaman tersebut tetap tumbuh dengan baik di iklim apapun. “Untuk perawatan, gak ada kesulitan. Empat bulan sekali kita kasih pupuk,” imbuhnya.

Perawatan Rutin

Untuk kegiatan perawatan, Anna mengaku hanya melakukan penyiraman dan memberikan pupuk secara reguler. Pupuk yang digunakan adalah pupuk organik yang dihasilkan dari proses pengomposan sampah.

“Dari kegiatan perantingan pohon, kita manfaatkan untuk kompos. Untuk tanaman-tanaman yang ada di taman, kita sudah kurangi penggunaan pupuk kimia, beralih ke organik,” kata dia.

Karena Tabebuya di Surabaya sudah semakin banyak, maka Anna juga berharap kepada warga untuk bersama-sama menjaga tanaman tersebut.

Bahkan, ia juga meminta apabila ada oknum yang usil misalnya menancapkan paku di tanaman tersebut, diminta untuk langsung melaporkan kepada jajaran DKRTH, supaya paku yang ditancapkan itu segera dicabut.

“Sebab, bagaimana pun juga, mereka ini adalah makhluk hidup yang harus kita jaga bersama,” katanya.

Saksikan video pilihan di bawah ini: