Capai 90 Persen, Komoditas Perkebunan Rajai Ekspor Sektor Pertanian

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Perkebunan merupakan masa depan bagi Indonesia. Saat ini perkebunan yang menentukan pertanian Indonesia setelah tanaman pangan. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan hal ini pada arahan kepada jajaran Ditjen Perkebunan didampingi Plt. Dirjenbun Ali Jamil.

Ekspor pertanian selama ini 90 persen berasal dari perkebunan. Indonesia mencatat kenaikan ekspor juga karena komoditas perkebunan. Ketika Covid-19 negara tidak bisa berbuat apa-apa maka pertanian dan perkebunan menjadi penggerak ekonomi. Ketika semua sektor lain turun hanya pertanian yang masih tumbuh. Nilai Tukar Petani juga meningkat.

“Saya harap dalam satu bulan ke depan sudah ada pejabat tetap Dirjen Perkebunan. Selesaikan semua program yang ada, berapa luas capaiannya, berapa yang tertanam, berapa yang gagal. Pasti tidak ada program yang 100 persen berhasil, berapa kegagalannya harus dicantumkan. Asal ada alasan yang jelas kenapa gagal dan bagaimana memperbaikinya,” kata dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (18/11/2021).

Syahrul juga berharap supaya aparat Ditjenbun melakukan terobosan. Jangan melakukan pekerjaan yang sama seperti 5-10 tahun yang lalu, hanya itu-itu saja. Harus ada hal besar yang dikerjakan hingga terjadi kenaikan produksi dan perluasan pasar komoditas utama.

“Saya minta perkebunan fokus pada beberapa komoditas saja. Tetapkan targetnya apa yang mau dicapai dalam waktu 3 tahun ini dan apa yang harus dilakukan sampai ke industrinya. Visi kita adalah petani makmur,” katanya.

Fokus saja pada beberapa komoditas yang jadi super prioritas, sedang diluar itu jadi komoditas reguler. Harus ditetapkan Sumatera komoditas apa misalnya pinang, Papua misalnya sagu, Sulawesi kakao, juga daerah lain. Tetapkan hilirisasinya seperti apa. Jangan menanam saja tetapi nanti tidak tahu pasarnya seperti apa.

Kemudian SYL membahas beberapa komoditas perkebunan. “Tidak ada hal yang besar terjadi di dunia tanpa kehadiran kopi Indonesia. Tidak ada satupun kafe di dunia tanpa kopi Indonesia. Kopi yang ada sekarang harus diapakan. Kalau ingin menguasai pasar kopi dunia harus berbuat apa. Harus sediakan benih berapa. Buat terobosan supaya kebutuhan bisa dipenuhi,” katanya.

Melihat kafe asing bertebaran di mana-mana menurut Syahrul seharusnya kafe yang menjual kopi Indonesia harus lebih banyak. “Misalnya target bahwa tiap SPBU ada kafe yang menjual kopi Indonesia. Buat kampanye minum kopi Indonesia, sebab kopi tubruk di warung-warung juga tidak kalah enaknya. Tinggal fokus mana saja yang harus dibenahi seperti kemasannya, penyajiannya,” kata SYL lagi.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Pengembangan Kakao

(Fotografer: Dio Pratama/Liputan6.com)
(Fotografer: Dio Pratama/Liputan6.com)

Syahrul mencontohkan ketika menjadi gubernur dirinya fokus pada pengembangan kakao di Sulsel. Alasanya seluruh dunia mengkonsumsi coklat yang berasal dari kakao. Terobosannya membuat sambung samping. Sekarang kakao Indonesia harus dibooster lagi misalnya memproduksi coklat Indonesia bekerjasama dengan perusahaan multinasional.

Sawit sekarang harganya sedang bagus. Sawit juga sudah diurusin banyak orang pintar. Karena sudah berkembang pesat tinggal dibooster saja hilirisasinya.

Mentan juga membahas sagu. “Indonesia punya lahan sagu 3 juta ha tetapi kita sekarang tidak temukan produknya di pasar. Ditjen Perkebunan harus cari daerah mana saja penghasil sagu, buat hilirisasi sagu jadi tepung, jadikan mie instant. Jangan terus menerus jadi importir gandum, gantikan dengan sagu. Bahan sudah ada tinggal dijahit dan didandani,” katanya.

Indonesia juga sampai saat ini masih jadi impotir gula karena kalah bersaing dari sisi tanaman tebu dan mesin-mesin di PG . Syahrul minta pola pikirnya diubah misalnya kenapa tidak membuat gula dari stevia saja.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel