Cara Beda Sekjen Hasto Kristiyanto Peringati Ulang Tahun

·Bacaan 2 menit

VIVA – Banyak cara orang merayakan atau memperingati hari lahirnya. Apakah itu dengan pesta, atau dengan cara sederhana lainnya.

Tapi bagi Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, memilih tidak merayakan dengan pesta atau lainnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan hari lahirnya tanpa perayaan. Hasto mengatakan, dirinya hanya berkontempelasi dan berdoa di tahun ini. Tidak ada tiup lilin.

“Secara pribadi saya tidak punya tradisi merayakan ultah. Terlebih saat ini di tengah pandemi. Selain itu dari aspek primbon sebagai salah satu bukti peradaban khasanah kosmologi Jawa, sebaiknya hidup itu penuh dengan ‘eling lan waspada’. Hidup itu juga penuh dengan tradisi spiritual yang harus mencerahkan bagi sesama,” kata Hasto kepada wartawan, Rabu 7 Juli 2021.

"Tadi malam sebelum tidur berkontempelasi dan berdoa dan pagi ini seusai bangun kembali berdoa. Mengucap syukur kepada Sang Maha Pencipta, kini saya berusia 55 tahun. Tak dirayakan secara khusus. Bukan tak ingin disapa secara langsung, tapi mengikuti imbauan pemerintah, tegur sapa dan doanya dari jarak jauh," sambung Hasto.

Di luar itu, situasi pandemi memang diakui Hasto turut memengarahui pergerakan dirinya dalam berkegiatan hampir satu setengah tahun belakangan. Apalagi kini, pemerintah telah memutuskan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

"Sebenarnya 'gatal' ingin mengunjungi kantor partai di daerah. Berdialog secara langsung dengan anak ranting, ranting dan PAC serta tiga pilar PDI Perjuangan. Tapi kini aktivitas itu tak bisa dilakukan," kata politisi asal Yogyakarta itu.

Selain mengorganisir kegiatan partai atau rapat DPP secara online atau daring, Hasto pun mulai sibuk menyiapkan disertasi. Dirinya sedang mengambil kuliah S3 di Universitas Pertahanan tentang geopolitik Soekarno.

"Kegiatan rutin menghadap Ibu Ketua Umum, biasanya pagi. Kadang juga dilanjutkan sore hari. Berdiskusi dan melaporkan situasi dan perkembangan dari daerah," katanya.

Hobinya bersepeda pun kini harus direm karena melonjaknya kasus COVID-19. Padahal kegiatan bersepeda, biasanya dapat ditempuh lebih dari 70 km. Bahkan bulan lalu, di sela-sela kegiatan partai di Yogyakarta, Hasto menempuh 102 km.

"Hari-hari ini kembali olah raga dengan sepeda statis saja sambil mendengarkan musik yang bernada riang. Semoga imun tubuh selalu terjaga," harap pria kelahiran Yogyakarta yang kerap makan sirih dan jambu merah.

"Saya seperti hampir semua orang punya harapan dan doa yang sama. Semoga pandemi COVID-19 ini segera berakhir. Semua anak bangsa hendaknya bergotong royong saling memberikan energi positif demi bisa melewati pandemi COVID-19. Mari mendukung langkah-langkah yang ditempuh pemerintah," tutur Hasto.

Di hari ini pula, Hasto mengaku diberi buku digital dari para sahabat. Buku itu merupakan rangkuman pernyataanya selama ini kepada media massa.

Selalu dikenal paling aktif memberikan pernyataan ke media, biasanya Hasto menjawab sikap politik partai dan menerima jawab pertanyaan awak media dengan berbagai persoalan bangsa dan negara.

Semakin bertambah usia, Hasto ingin terus mewarisi api semangat dari Bung Karno dan Megawati.

"Ide, pemikiran dan gagasan Bung Karno untuk Indonesia dan dunia selalu relevan sepanjang jaman. Itu juga menjadi motivasi saya mengangkatnya dalam disertasi saya nanti," kata Hasto.

Buku digital ini pun disusun bersama oleh Anton DH Nugrahanto, Darwin Iskandar, Monang Sinaga, dan Ramond Dony Adam dengan judul 'Berpolitik Membangun Peradaban'.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel