Cara berjalan mengangkang, ciri perempuan tidak perawan?

MERDEKA.COM, Berbicara soal keperawanan, ada banyak mitos yang berkembang di masyarakat seputar mahkota perempuan itu. Namun seperti namanya, mitos mengandung arti cerita yang disampaikan secara turun temurun, dari satu generasi ke generasi lainnya.

Namun, ternyata tidak semua mitos yang beredar di masyarakat tentang keperawanan itu terbukti benar. Seperti dilansir Times of India, mitos ada yang benar dan ada yang hoax atau palsu.

1. Selaput dara utuh simbol perempuan masih perawan

Ini adalah mitos yang sudah melekat di benak semua orang. Selaput dara yang utuh bukan satu-satunya bukti bahwa seorang wanita masih perawan. Selaput dara bisa rusak kapan saja dan ini tak ada hubungannya dengan seks. Selaput dara bisa robek saat olahraga, naik kuda, atau mengalami kecelakaan.

2. Perempuan tidak perawan dilihat dari caranya berjalan

Di sebagian komunitas masyarakat, ada cara unik menentukan perempuan masih perawan atau tidak, cukup dilihat dari cara perempuan itu berjalan. Perempuan yang sudah tidak perawan, cara berjalannya terlihat mengangkang atau berbeda dari perempuan pada umumnya.

Perlu diketahui, mitos ini tidak memiliki dasar sama sekali. Sebab, tidak ada hubungan antara keperawanan dengan cara berjalan. Cara berjalan seseorang dipengaruhi oleh perkembangan fisiknya.

3. Perempuan berbuah dada besar, pasti tidak perawan

Mitos yang satu ini juga salah kaprah. Sebab, besar kecilnya buah dada perempuan bersifat elastis. Seperti ketika terangsang buah dada perempuan akan membesar, begitu juga ketika rangsangan itu hilang, secara berkala buah dada akan kembali ke bentuk normal.

4. Perawan memiliki hidung merah merona

Untuk sebagian orang, cara mudah menilai perempuan masih perawan atau tidak cukup dilihat dari bentuk hidungnya. Bila hidungnya masih terlihat merah merona, tandanya perempuan itu masih perawan, begitu juga sebaliknya. Perlu diketahui, mitos ini adalah menyesatkan.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.