Cara Desa Tlilir di Temanggung bangun kemandirian melalui pariwisata

·Bacaan 5 menit

Jalan dan proses panjang Desa Tlilir untuk menjadi sebuah desa wisata dengan nama panggung Kampung Mbako nyatanya sangat panjang. Sepanjang proses tembakau untuk menjadi lembaran rupiah yang harus melalui proses dari mulai atas dataran tinggi ke tangan para pengepul di pusat kota.

Faktanya meskipun menyandang nama besar sebagai desa penghasil tembakau terbaik di dunia pun ternyata belum cukup. Para warga dituntut untuk masih harus terus berjuang agar roda perekonomian keluarga terus berputar dengan dinamis.

Kebijakan pemerintah terkait ekspor tembakau ternyata beberapa di antaranya masih belum cukup menguntungkan bagi para petani tembakau termasuk mereka yang berasal dari Desa Tlilir, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Baca juga: Sandiaga yakini desa-desa wisata akan bangkitkan Indonesia

Baca juga: Wisata religi Bubohu raih juara dua kategori Desa Wisata Berkembang

Membanjirnya produk tembakau dari China juga menjadi faktor lain yang menyumbat suplai tembakau dari desa yang berada di kaki Gunung Sumbing ini. Selain itu berimbas pula pada turunnya harga tembakau, serta suplai daun tembakau dari Tlilir ini menjadi tak mampu keluar banyak ke pangsa pasar dalam negeri.

Kepala Desa Tlilir Fatur Rahman menjelaskan, tembakau ini sifatnya musiman sehingga harus ada sisi lain yang harus digali agar perekonomian desa ini terus mengalir dan berdiri secara mandiri.

Maka kemudian, pariwisata dilirik sebagai solusi. Mereka meyakini bahwa pariwisata dapat menjadi salah satu pijakan rasional untuk menjadi solusi alternatif di masa paceklik.

Apalagi, Desa Tlilir ini memiliki potensi wisata dan ekonomi kreatif untuk bisa diangkat sebagai daya tariknya. Salah satunya kebudayaan warisan leluhur mulai dari tanam hingga panen raya tembakau.

“Mulai dari tanam tembakau hingga panen raya itu ada ritualnya. Dan ini telah menjadi bagian dari tradisi leluhur. Saat musim tanam para warga bawa ingkung ke kebun sebagai ungkapan syukur dan terima kasih kepada yang Maha Kuasa,” ungkap Fatur.

Ia menambahkan, Desa Tlilir juga memiliki event tahunan berupa seni budaya yang terkait dengan tembakau. Oleh karena itu, tak salah jika Desa Tlilir mendeklarasikan diri sebagai Kampung Mbako. Selain sebagai penghasil tembakau terbaik di dunia, secara budaya Desa Tlilir terus menjaga tradisi leluhurnya.

“Tembakau dari salah satu warga Desa Tlilir pernah diuji di laboratorium di Jerman. Dan hasil uji laboratorium itu menyebut, jika tembakau dari warga kami menyandang hasil terbaik di seluruh dunia,” urainya.

Selain annual event terkait tembakau, Desa Tlilir pun masih memiliki event tahunan lainnya seperti Festival Domba yang diikuti lintas kabupaten, kemudian ada event Pasar Ahad Pahing yang memiliki perputaran rupiah 30 juta dalam setengah hari.

“Event-event tersebut berlangsung untuk mengisi ruang usai panen raya tembakau. Dengan harapan pergerakan roda ekonomi di desa kami terus berjalan stabil meski sedang dalam masa paceklik tembakau,” katanya.

Festival Tembakau Srintil

Kepala Desa Tlilir Fatur Rahman kembali menegaskan, semangat kebersamaan dan gotong royong menjadi modal besar untuk menggerakkan sektor pariwisata dari sisi event guna mendatangkan wisatawan. Festival Tembakau Srintil adalah salah satu strateginya.

Selain mengukuhkan diri sebagai Kampung Mbako di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, desa tersebut pun berusaha menjadi destinasi alternatif bagi wisatawan. Di dalamnya wisatawan bisa mengetahui tentang bagaimana proses tembakau diproduksi dari hulu ke hilir.

Ambar Setyawati, Inisiator Kampung Mbako menerangkan, Temanggung terkenal sebagai daerah penghasil tembakau. Namun, belum ada destinasi yang dapat dituju wisatawan untuk mengetahui lebih jauh tentang tembakau, baik secara sejarah maupun museumnya.

Desa Tlilir, kata Ambar, mempunyai potensi tersebut. Baik dari sisi sejarah maupun tradisinya. Sehingga ketika wisatawan ingin belajar dan mendapat literasi tentang tembakau mereka mengetahui kemana harus menuju.

Dan hal yang perlu menjadi catatan adalah, bahwasannya Festival Tembakau Srintil yang berlangsung pada 15 Desember 2021 diinisiasi dan diselenggarakan atas swadaya masyarakat. Dan, pada penyelenggaraan tahun depan bahkan direncanakan akan ada lelang tembakau dan menghadirkan pemerhati tembakau dari Belanda, Australia, dan Jepang.

“Ada semangat yang begitu kuat dan besar dari pimpinan desa hingga warganya untuk menjadikan Desa Tlilir ini sebagai Desa Wisata Kampung Mbako. Termasuk pembiayaan dalam Festival Tembakau Srintil yang perdana ini,” ucap Ambar.

Museum Tembakau

Tidak hanya kompak dalam hal penyelenggaraan Festival Tembakau Srintil, pimpinan desa dan warga Desa Tlilir pun antusias untuk memiliki museum tembakau di wilayahnya. Hal ini terlihat, bagaimana warga mengumpulkan aset-aset terkait tembakau yang dimiliki para leluhurnya.

Dalam museum sederhana hasil swadaya warga, terlihat beberapa benda seperti tempat perajangan tembakau, pisau rajang, tembakau kualitas terbaik dari puluhan tahun silam, hingga tembakau Lamsi Srintil kualitas terbaik dari desa tersebut.

“Warga menghendaki museum mbako ini menjadi besar dari dana swadaya masyarakatnya. Tanah untuk museum telah ada. Kemudian konsep besarnya adalah ada pada orama tentang tembakau di dalamnya,” rinci Ambar.

Selain itu kata Ambar, di luar museum memiliki gardu pandang sehingga wisatawan dapat melihat hamparan pohon tembakau dari ketinggian, ada edukasi terkait tembakau, ada green house, tempat penyemaian tembakau, dan lainnya.

Tantangan ke depan, lanjut Ambar yang juga penggiat pariwisata dari Travelita ini adalah, kesiapan warga dalam menjamu dan melayani wisatawan. “Dari Travelita juga akan melakukan pendampingan dalam penataan mulai dari homestay dan lainnya,” kata Ambar.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno sebelumnya sempat menyatakan bahwa di tengah-tengah pandemi dan tantangan ekonomi yang dihadapi bangsa ini, sektor pariwisata yang paling terdampak pandemi, akan tetapi ia, melihat semangat para pengurus desa-desa wisata, baik ketua pokdarwis, kepala desa, hingga kepala daerah memiliki semangat bahwa Indonesia akan bangkit.

Sandiaga pun yakin ke depan bangsa ini akan mampu membangkitkan perekonomiannya melalui desa-desa wisata sehingga memberi dampak yang besar bagi masyarakat desa dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya.

Faktanya pariwisata bagi masyarakat pedesaan bisa menjadi solusi alternatif kemandirian ekonomi mereka.

Baca juga: Menteri Desa PDTT resmikan bantuan pengembangan desa wisata di Magetan

Baca juga: Sandiaga Uno: Kunjungan ke desa wisata meningkat 30 persen

Baca juga: BPOLBF ajak desa wisata Floratama perkuat promosi di online

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel