Cara Hamish Daud Atasi Masalah Sampah Lewat Aplikasi

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Sampah masih menjadi masalah klasik di Indonesia dan belum dikelola secara optimal. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebut ada sekitar 67,8 juta ton timbunan sampah pada tahun 2020.

Sedangkan The National Plastic Action Partnership (NPAP) mengatakan ada sekitar 4,8 juta ton per tahun sampah plastik di Indonesia tidak terkelola dengan baik seperti dibakar di ruang terbuka (48%), tak dikelola layak di tempat pembuangan sampah resmi (13%) dan sisanya mencemari saluran air dan laut (9%), Jumlah produksi sampah plastik di Indonesia menunjukkan tren kenaikan 5% tiap tahunnya.

TERKAIT: Cara Iqbaal Ramadhan Kurangi Sampah dan Mengajak Generasi Z peduli Lingkungan

TERKAIT: Diary Fimela: Brand Lokal Kim and Ally Menyediakan Pakaian Olahraga Terbuat dari Sampah Botol Plastik dengan Beragam Ukuran

TERKAIT: Ragam Ide Seru Kelola Sampah Plastik Lewat Tulisan dan Komik

Survei LIPI pada 20 April – 5 Mei 2020 menyebut aktivitas belanja online masyarakat meningkat hingga 62% selama pandemi, di mana hingga 96% dari total jumlah paket menggunakan selotip, pembungkus plastik, dan bubble wrap. Hal ini juga meningkatkan masalah sampah, yang biasanya berujung di tempat pembuangan akhir (TPA).

Padahal, sampah bisa dikelola dan dimanfaatkan, bahkan bisa bernilai ekonomi tinggi jika diperlakukan dengan benar sejak awal, yaitu mulai dari rumah tangga. Octopus pun hadir memberikan solusi dalam mengatasi masalah sampah bekas konsumsi (post consumed products).

Menurut Co-Founder Octopus, Hamish Daud, aplikasi ini dibentuk untuk membantu mengatasi masalah sampah, yang memungkinkan pengguna/konsumen mengirimkan kemasan bekas pakai untuk didaur ulang menjadi produk yang bernilai jual.

“Kami menyediakan layanan penjemputan untuk kemasan pasca konsumsi melalui aplikasi Octopus. Mimpi kami adalah Octopus menjadi solusi paling efektif untuk Industri dalam mengatasi masalah suplai material daur ulangnya” ujar Hamish.

Tiga aplikasi Octopus

Cara Hamish Daud Atasi Masalah Sampah Lewat Aplikasi/dok. Octopus
Cara Hamish Daud Atasi Masalah Sampah Lewat Aplikasi/dok. Octopus

Hamish yang bertindak sebagai Chief of Partnership Octopus menjelaskan, Octopus memiliki 3mobile apps, yaitu untuk Pengguna (konsumen), Pelestari (kolektor sampah), dan Checkpoints (Usaha Jual Beli Kemasan Bekas).

Hamish menambahkan, Octopus menyediakan data yang berguna untuk industri FMCG (FastMoving Consumer Goods), serta menyediakan solusi bagi industri kemasan. Karena memiliki 3 mobile apps yang mensinergikan tiga pihak, Octopus diyakini akan memiliki nilai tambah bagi semua pemangku kepentingan yang terlibat.

Lebih lanjut Hamish menjelaskan, 3 aplikasi Octopus memiliki mekanisme kerja sesuai dengan target sasaran pengguna, yaitu:

1. Aplikasi untuk Customer/Konsumen (ibu rumah tangga/masyarakat) yang akan mengumpulkan sampah kemasan dan diserahkan ke Pelestari (pemulung) dengan mendapatkan insentif sesuai dengan nilai sampah yang terkumpul.

2. Aplikasi untuk Pelestari, yang akan mengambil barang dari konsumen selanjutnya dijual ke Checkpoints.

3. Aplikasi untuk Checkpoints (bank sampah/pengepul). Pihak ini akan membeli sampah dari Pelestari dan dijual ke Industri yang telah bekerja sama dengan Octopus. Lebih lanjut Hamish mengatakan, mayoritas Pelestari ini dulunya pemulung yang diberi pelatihan cara memakai aplikasi dan mengenali sampah kemasan yang sesuai dengan standar industri daur ulang.

Selain pemulung, banyak juga mahasiswa, korban PHK akibat pandemi Covid-19, dan sopir ojek online yang tak sanggup membayar cicilan motor karena lesunya order di tengah wabah virus corona yang kini ikut bergabung menjadi Pelestari.

“Pelestari bekerja dengan jam kerja bebas. Kapan saja mereka ingin bekerja, maka tinggal menyalakan aplikasinya lalu merespons permintaan dari pengguna Octopus yang ingin mengirimkan kemasan daur ulangnya,” imbuh Hamish.

Hamish menambahkan, di aplikasi Octopus juga memuat cara kelola sampah tertentu, misalnya popok bekas, kaca, dan sebagainya. “Kita bantu konsumen untuk mengubah gaya hidupnya,”tuturnya.

Guna menarik minat anak muda kalangan millennial untuk bergabung dalam mengelola sampahmelalui Octopus, aplikasi ini telah menjalin kolaborasi dengan pihak lain yang relevan dengan gaya hidup kekinian.

“Sekarang kami kerja sama dengan Kopi Soe, UMKM, juga sejumlah tempat popular di Bali,” ujarnya.

#elevate women

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel