Cara Lindungi Kesehatan Anak Terlanjur Minum Obat Mengandung Etilen Glikol

Merdeka.com - Merdeka.com - Sebanyak 324 anak di Indonesia terkena gangguan ginjal akut progresif atipikal. Menurut Kementerian Kesehatan, penyebab terbesar kasus adalah adanya etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) pada 69 obat sirop yang dikonsumsi anak.

Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI Tjandra Yoga Aditama menduga, ada lebih dari 324 anak sudah mengonsumsi obat sirop mengandung EG dan DEG. Sebab, obat tersebut sudah tersebar di seluruh Indonesia.

"Anak-anak sudah meminum obat yang mengandung cemaran melebihi batas aman, tentu ada potensi dampak bahayanya, dan tidak bisa kita diamkan begitu saja nasib mereka," kata Tjandra melalui pesan elektronik, Rabu (9/11).

Mantan Direktur WHO Asia Tenggara ini mendesak pemerintah segera menelusuri anak-anak yang sudah mengonsumsi obat sirop mengandung EG dan DEG. Setelah menemukan, pemerintah harus mengecek dampak negatif obat tersebut terhadap kesehatan anak.

"Sebaiknya memang semua anak-anak peminum 69 obat ini dicari satu per satu, diidentifikasi dan diperiksa kesehatannya," ujarnya.

Tjandra mengakui, mencari anak yang sudah mengonsumsi obat sirop tercemar EG dan DEG tidak mudah. Namun, pemerintah bisa menelusuri lewat sebaran 56 obat sirop dengan kandungan EG dan DEG.

Dia menegaskan, mengidentifikasi anak yang sudah mengonsumsi obat sirop mengandung EG dan DEG sangat penting. Agar pemerintah mengetahui lebih dini dampak negatif, baik jangka pendek maupun panjang.

"Yang paling baik sekarang ini adalah kalau pada semua anak yang mengonsumsi obat yang melebihi ambang batas ini kemudian semua difasilitasi untuk dapat diperiksa kesehatannya, demi kesehatan anak-anak bangsa kita," ucapnya.

Analisis Mendalam

Mantan Kepala Balitbangkes Kemenkes ini mendorong pemerintah melakukan analisis mendalam kondisi kesehatan anak yang sudah mengonsumsi obat sirop mengandung ED dan DEG. Terutama bagi anak yang tidak jatuh sakit meskipun sudah minum obat tersebut. Hasil analisa itu perlu diumumkan kepada publik.

“Harus dapat dijelaskan kenapa banyak (atau mungkin lebih banyak) anak-anak yang minum obat yang sama tetapi tidak sakit, apakah memang karena faktor daya tahan anak yang berbeda atau jangan-jangan ada faktor penyebab lain yang perlu di cari mendalam,” ujarnya.

Tjandra mengatakan, penelusuran dan analisis mendalam merupakan langkah untuk melindungi kesehatan anak yang sudah mengonsumsi obat sirop tercemar ED dan EDG. Dia berharap, analisis mendalam juga bisa menjawab penyebab hampir 200 anak Indonesia meninggal dunia karena gagal ginjal akut.

“Semoga semua anak-anak Indonesia yang sudah terlanjur meminum 69 obat yang tercemar itu dapat dilindungi oleh bangsa,” harapnya.

Cara Orang Tua

Bagi orang tua dengan anak yang terlanjur mengonsumsi obat sirop mengandung ED dan EDG, Tjandra menyarankan untuk tidak panik. Namun orang tua harus tetap membawa anak ke fasilitas kesehatan untuk menecek dampak negatifnya.

“Supaya yakin bahwa anaknya sehat atau tidak,” ujarnya.

Sementara itu, fasilitas kesehatan harus menyambut baik dan memberikan kemudahan kepada pasien dan orang tuanya untuk melakukan pemeriksaan.

“Sebaiknya para orang tua diberi kemudahan untuk memeriksakan anaknya ke faskes,” kata Tjandra.

Data Kementerian Kesehatan 6 November 2022, ada 324 anak mengalami gangguan ginjal akut. Sebanyak 195 orang di antaranya meninggal dunia, 27 dalam perawatan, dan 102 pasien sembuh. Mayoritas pasien berada dalam rentang usia 0 sampai 5 tahun.

BPOM Cabut Izin Edar 69 Obat Sirop

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencabut izin edar 69 obat sirop milik tiga perusahaan farmasi. Ketiga perusahaan tersebut adalah PT Yarindo Farmatama, PT Universal Pharmaceutical Industries, dan PT Afi Farma.

Pencabutan izin edar obat sirop ini setelah BPOM menemukan ketiga perusahaan tersebut menggunakan bahan baku pelarut Propilen Glikol yang membuat produk jadi mengandung cemaran etilen glikol (EG) melebihi ambang batas aman.

"Hasil investigasi dan intensifikasi pengawasan BPOM melalui inspeksi, perluasan sampling, pengujian sampel produk sirop obat dan bahan tambahan yang digunakan, serta pemeriksaan lebih lanjut terhadap sarana produksi, disimpulkan bahwa ketiga industri farmasi tersebut telah melakukan pelanggaran di bidang produksi sirop obat," tulis BPOM dalam keterangan resminya dikutip Selasa (8/10). [tin]