Cara Memperkenalkan Pendidikan Seks pada Anak Usia 0-5 Tahun

Fimela.com, Jakarta Orangtua punya tugas dan peran penting dalam mendidik anak dengan baik. Salah satunya adalah soal pendidikan seks. Meski topik ini kadang masih dianggap tabu bagi sebagian kalangan, tapi memperkenalkan konten pendidikan seks kepada anak sangatlah penting.

Tentu saja konten pendidikan seks yang diberikan harus disesuaikan dengan usia dan tahap tumbuh-kembang anak. Melansir buku Media Sosialita, psikolog Roslina Veraule dari RS Pondok Indah memiliki informasi penting terkait memperkenalkan pendidikan seks pada anak usia 0 hingga 5 tahun. Selengkapnya, langsung saja simak infonya di bawah ini.

Konten Pendidikan Seks untuk Anak Usia 0-2 Tahun

Di usia 0-2 tahun, anak bisa diajarkan cara membedakan lelaki dan perempuan. Cara paling mudahnya adalah dari rambut dan busana. Seperti anak yang pakai celana adalah laki-laki dan yang pakai rok adalah perempuan. Ini cara paling dasar yang bisa diperkenalkan.

Roslina Veraule juga menyarankan agar para orangtua senantiasa memperbanyak sentuhan kepada anak usia 0-2 tahun. Kenapa? Karena anak yang sering menerima sentuhan berupa pelukan, kecupan, dan rangkulan dengan sendirinya akan belajar soal konsep good touch (sentuhan baik) dan true love (cinta sejati). Anak yang mendapat kasih sayang dan sentuhan orangtua akan sangat terbantu dalam membedakan sentuhan baik dan sentuhan jahat. 

Anak-anak yang kebutuhan emosionalnya terpenuhi dengan baik akan memiliki perkembangan keakuan yang sehat. Sehingga dia dapat tumbuh menjadi pribadi yang secure dan tidak akan membiarkan dirinya sendiri dirusak oleh orang berniat buruk. Tentu saja proses untuk membangun kekuatan mental ini pada anak tidak instan. 

Konten Pendidikan Seks untuk Anak Usia 3-5 Tahun

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Anak usia 3-5 tahun dapat belajar tentang manifestasi dari seksualitas, yaitu peran masing-masing gender. Pada rentang usia ini, anak sudah paham soal organ kelaminnya, yaitu penis dan vagina. Orangtua perlu memberi pemahaman bahwa kelamin adalah area pribadi dan hanya boleh disentuh oleh diri sendiri dan orang-orang terdekat. Untuk penyebutan organ kelamin, sebutkan apa adanya, yaitu penis dan vagina supaya anak tidak bingung dan bisa lebih merasa nyaman untuk membahas hal ini dengan orangtua. 

Membangun mental anak untuk menjadi pribadi yang secure atau percaya diri perlu dilakukan sejak dini. Selain itu, perlu diketahui bahwa anak usia 2-3 tahun bisa menolak dan orangtua tidak boleh terlalu sering memaksa anak. Selama apa yang ditolak anak tidak menyalahi aturan atau membahayakan, maka biarkan saja. Jika orangtua sering memaksa anak dan membuat anak tumbuh dengan sifat tidak enakan kalau menolak, itu bisa berpengaruh pada kondisi mentalnya. Jangan sampai karena sifat tidak enakan, anak tidak menolak saat ada orang asing melakukan sentuhan jahat (bad touch) atau memaksanya melakukan hal-hal buruk.

Tugas orangtua untuk mendidik anak dengan konten yang tepat sesuai dengan tahap tumbuh-kembangnya memang tidak mudah. Perbanyak ilmu dan wawasan dan bila perlu bisa berkonsultasi juga ke psikolog untuk memberi pendidikan dan arahan yang tepat untuk buah hati tercinta.

#ChangeMaker