Cara Mencegah Badai Sitokin

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Denpasar - Setelah kurang lebih dua pekan menghilang dari ranah media sosial, pemilik konten podcast Close the Door Deddy Corbuzier muncul kembali ke hadapan publik. Dia pun membawa berita mengagetkan perihal kondisi kesehatannya yang sempat dinyatakan memburuk hingga kritis.

“Saya sakit, kondisi saya kritis dalam kurun tiga hari, ada kemungkinan meninggal,” ucapnya saat membuka podcast, Minggu (22/08/21).

Dalam podcast tersebut dia juga menyatakan kekecewaan dan kemarahan pada dirinya sendiri. Dia heran mengapa orang sehat seperti dirinya bisa sakit dan puncaknya terkena badai sitokin pasca-terinfeksi COVID-19. Padahal dia merasa sudah berhati-hati dengan menjaga pola makan dan hidup sehat.

Badai sitokin yang dialaminya terjadi dalam rentang waktu relatif cepat yaitu pada pekan kedua setelah dinyatakan negatif COVID-19. Kondisi yang diawali dengan demam tinggi di atas 39 derajat Celsius itu membuatnya dilarikan ke rumah sakit guna mendapat penanganan medis.

“Faktor kelelahan, kurangnya waktu beristirahat dan kurang tidur merupakan celah masuknya virus ke dalam tubuh,” ucap Spesalis Penyakit Dalam dr I Made Siswadi Semadi, M Biomed pada Health Liputan6.com, Minggu (22/08/21).

Apa Itu Sitokin?

Menurut Siswadi, sitokin ada pada setiap proses infeksi atau peradangan karena sebab apapun, termasuk pada tubuh pasien COVID-19. Sitokin merupakan sekelompok zat kimia yang dihasilkan oleh sel-sel tubuh yang mulai diproduksi saat tubuh mengalami infeksi.

“Semua yang terinfeksi COVID-19 tubuhnya akan memproduksi sitokin, tapi ada yang sampai menyebabkan badai sitokin yang mengakibatkan peradangan berat dan ada yang radangnya ringan saja,” tegasnya kembali.

Sitokin penting diproduksi oleh tubuh untuk melawan infeksi dan membunuh virus atau bakteri yang masuk. Namun apabila berlebihan akan menyebabkan kerusakan sel-sel tubuh itu sendiri.

Cegah Badai Sitokin

Guna mencegah produksi sitokin berlebih yaitu dengan tidak membiarkan infeksi itu terlalu lama terjadi. Antisipasi sejak awal dengan penanganan adalah kunci utama. Termasuk ketepatan dan kecepatan pengendalian dan menstabilkan komorbid sehingga tubuh bisa membersihkan infeksi dengan lebih efektif dan cepat.

Dokter yang bertugas di RS Sanglah, Denpasar, Bali ini menegaskan bahwa mereka yang berpola hidup sehat namun tetap terpapar COVID-19 tak perlu merasa kecewa. Karena dengan cara mengatur pola makan, rutin olahraga, istirahat yang cukup akan sangat membantu untuk mempercepat proses pemulihan tubuh yang terinfeksi virus.

Infografis

Infografis 10 Jurus Cegah Klaster Sekolah Tatap Muka (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis 10 Jurus Cegah Klaster Sekolah Tatap Muka (Liputan6.com/Triyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel