Cara Mencegah Tuberkulosis dengan TPT

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Bali - Membahas tentang Tubercuolosis (TBC) membawa ingatan ke masa kecil. Guru mengaji kami meninggal karena penyakit itu. Bukan hanya rasa kehilangan yang masih teringat, tapi ada semacam ketakutan akan TBC yang ternyata bisa merenggut nyawa.

Ingatan tentang batuk-batuknya yang disertai darah, tubuh yang makin kurus, pucat, melemah membuat kami tak lagi bisa melanjutkan proses belajar kala itu. Dia tak mau menulari kami para muridnya. Namun, hanya beberapa bulan berselang, kami harus rela kehilangannya.

“Pengobatannya ternyata tak berhasil,” pikirku saat itu.

Apa itu TBC (Tubercolosis)

TBC (Tuberkulosis) yang juga dikenal dengan TB adalah penyakit paru-paru akibat kuman Mycobacterium tuberculosis. TBC ditandai dengan gejala berupa batuk yang berlangsung lama (lebih dari 3 minggu), biasanya berdahak, dan terkadang mengeluarkan darah.

Kepala Dinas Kesehatan Bali, Ketut Suarjaya menjelaskan tentang TPT (Terapi Pencegahan Tuberkulosis). Ini adalah pengobatan yang ditawarkan kepada seseorang yang terinfeksi dengan kuman Mycobacterium tuberculosis dan berisiko sakit TB, oleh karenanya ini juga disebut sebagai pengobatan infeksi laten tuberkulosis atau terapi pencegahan TB.

Infeksi laten tuberculosis (ILTB) yang dimaksud adalah sebuah keadaan respons imun yang persisten dalam menstimulasi antigen Mycobacterium tuberculosis dengan tanpa adanya manifestasi klinis TB aktif. Pada kondisi ini pasien tidak menularkan TB, namun bisa berkembang menjadi TB aktif di kemudian hari.

Sasaran pemberian TPT adalah orang dengan HIV/AIDS (ODHA), kontak serumah dengan pasien TBC paru yang terkonfirmasi bakteriologis (Anak usia di bawah 5 tahun, 5-14 tahun, dan Remaja dan dewasa (usia di atas 15 tahun).

Kelompok risiko lainnya dengan HIV negatif yaitu pasien immunokompremais lainnya (Pasien yang menjalani pengobatan kanker, pasien yang mendapatkan perawatan dialisis, pasien yang mendapat kortikosteroid jangka panjang, pasien yang sedang persiapan transplantasi organ, dll). Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), petugas kesehatan, sekolah berasrama, barak militer, pengguna narkoba suntik.

Pemeriksaan Pasien

Penemuan orang dengan ILTB (Infeksi laten tuberculosis) bisa dilakukan dengan:

1. Kegiatan investigasi kontak secara aktif yaitu kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan penemuan kasus TBC dan orang dengan infeksi laten TBC dengan cara mendeteksi secara dini dan sistematis terhadap orang yang kontak dengan sumber infeksi TBC.

2. Kegiatan investigasi kontak secara pasif adalah IK secara pasif juga biasa dikenal dengan contact invitation. Petugas kesehatan akan mewawancarai kasus indeks untuk mengidentifikasi kontak serumah dengan menanyakan berapa jumlah dan usia dari orang yang tinggal serumah dengan kasus indeks.

Kontak yang sudah teridentifikasi akan diminta untuk datang ke fasilitas kesehatan bersama dengan kasus indeks saat jadwal follow up kasus indeks berikutnya

3. Penemuan di tempat khusus Kegiatan penemuan aktif ditempat khusus dapat dilakukan dengan skrining TBC massal tahunan, skrining pada saat pemeriksaan kesehatan, skrining TBC pada pemeriksaan kesehatan berkala (Medical check up), skrining TBC pada saat kunjungan follow up rutin bagi pasien yang masuk kedalam kelompok risiko lainnya (bagi WBP baru/penghuni ponpes/ penghuni barak militer, dll)

Pemeriksaan ILTB

1. Pemeriksaan ILTB dapat dilakukan dengan Tuberculin Skin Test (TST)

2. Pada ODHA dan kontak anak usia dibawah 5 tahun pemberian TPT dapat dilakukan dengan skrining gejala TBC tanpa harus dilakukan pemeriksaan TST atau IGRA maupun rontgen thorax

3. Pada kontak usia ≥ 5 tahun perlu dilakukan pemeriksaan penunjang seperti rontgen thorax untuk menyingkirkan TBC aktifPilihan Paduan TPT

Pilihan Paduan TPT

Saat ini terdapat beberapa pilihan paduan TPT yang direkomendasikan program penanggulangan tuberkulosis nasional yaitu:

1. Paduan 6H adalah pemeberian INH selama 6 bulan sesuai dengan kriteria sasaran dan dosis sesuai berat badan

2. Paduan 3HP adalah pemberian terapi INH dan rifapentine sesuai kriteria sasaran dan dosis sesuai berat badan selama 3 bulan

3. Paduan 3HR adalah adalah pemberian terapi INH dan rifamficin sesuai kriteria sasaran dan dosis sesuai berat badan selama 3 bulan

Ketut Suarjaya juga menjelaskan, saat ini di program TB baru tersedia paduan 6H untuk anak usia dibawah 5 tahun sedangkan paduan yang lain belum tersedia logitik di program, masih menunggu informasi dan distrubusi dari kementerian Kesehatan.

Apakah TBC termasuk Komorbid COVID-19?

Covid-19 dapat menyerang siapa saja terutama mereka yang memiliki masalah kesehatan tentu memiliki kerentanan yang lebih tinggi terlebih pasien dengan infeksi paru seperti tuberkulosis. Untuk itu pengobatan TBC selama masa pandemi tetap dilaksanakan untuk mencegah pasien jatuh pada kondisi yang lebih buruk, untuk kesembuhan dan memutus rantai penularan TBC.

Pengobatan dan Pencegahan

Pengobatan TBC dapat diberikan sesuai kriteria TBC yang di derita oleh pasien, obat yang diberikan merupakan kombinasi dosis tetap berupa:

1. Katagori 1 dengan kriteria: pasien TB paru terkonfirmasi bakteriologis maupun klinis maupun ektra paru

2. Katagori 2 untuk pasien TBC engobatan ulang seperti pasien kambuh, gagal pengobatan katagori 1 ataupun pasien yang kemabli setelah putus berobat. Namun katagori 2 untuk selanjutnya akan digantikan dengan pengobatan katagori 1 dosis harian.

3. Katagori anak

4. Paduan Obat Anti Tuberkulosis untuk TB resistan Obat

Pencegahan TBC

1. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) antara lain seperti makan makanan yang bergizi, berolahraga teratur, lakukan etika batuk secara benar, menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat penggunaan masker.

2. Salah satu upaya mencegah kesakitan atau sakit yang berat adalah dengan memberikan kekebalan berupa vaksinasi BCG dan pengobatan pencegahan tuberculosis (TPT).

3. Menemukan dan mengobati pasien TB sampai sembuh /TOSS TB (Temukan Obati Sampai Sembuh) sehingga dapat mengentikan rantai penularan dan mencegah kematian akibat TBC. Keberhasilan pengobatan TB sangat ditentukan oleh kepatuhan minum obat sesuai dosis serta jangka waktu yang sudah ditetapkan dengan pemantauan teratur.

Infografis Jangan Lengah Protokol Kesehatan Covid-19

Infografis Jangan Lengah Protokol Kesehatan Covid-19 (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Jangan Lengah Protokol Kesehatan Covid-19 (Liputan6.com/Triyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel