Cara Mengatasi KIPI Vaksin COVID-19 pada Anak, Orang Tua Tak Perlu Panik

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Vaksinasi COVID-19 untuk anak mulai diberikan pada 14 Desember 2021. Sama seperti remaja dan dewasa, anak bisa mengalami Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Biasanya, KIPI pada anak meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, menggigil hingga mual atau muntah

Namun, orang tua tak perlu panik ketika menghadapi KIPI pada anak. Kementerian Kesehatan dan Satgas COVID-19 telah memberi panduan terkait menghadapi KIPI pada anak. Cara mengatasi KIPI ini bisa dilakukan orang tua jika anak mengalami gejala tertentu setelah mendapatkan vaksinasi COVID-19.

Saat ini KIPI menjadi salah satu kekhawatiran orang tua terhadap efek vaksinasi COVID-19. Dengan mengetahui cara mengatasi KIPI pada anak, orang tua tak perlu khawatir akan efek samping yang ditimbulkan pasca vaksinasi. Berikut cara mengatasi KIPI pada anak setelah vaksinasi COVID-19, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Jumat(24/12/2021).

Apa itu KIPI?

Seorang murid menjalani vaksinasi COVID-19 di SDN Cempaka Putih Timur 03 Pagi, Jakarta, Selasa (14/12/2021). Pemerintah menyiapkan 58 juta dosis vaksin COVID-19 untuk anak usia 6-11 tahun. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)
Seorang murid menjalani vaksinasi COVID-19 di SDN Cempaka Putih Timur 03 Pagi, Jakarta, Selasa (14/12/2021). Pemerintah menyiapkan 58 juta dosis vaksin COVID-19 untuk anak usia 6-11 tahun. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

KIPI adalah singkatan dari Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. WHO menyebut kondisi ini sebagai Adverse event following immunization (AEFI). Menuru keterangan WHO, KIPI adalah setiap kejadian medis yang tidak diinginkan, terjadi setelah pemberian imunisasi, dan belum tentu memiliki hubungan kausalitas dengan vaksin.

Gejala KIPI bisa berupa gejala ringan yang dirasakan, rasa tidak nyaman atau berupa kelainan hasil pemeriksaan laboratorium. Semua kejadian atau reaksi medis yang terjadi setelah pasien disuntikkan vaksin akan menjadi perhatian tenaga medis yang bertugas.

KIPI dapat menyebabkan keraguan masyarakat terhadap keamanan vaksin. Maka dari itu, penting melaporkan gejala KIPI agar dapat ditelisik apakah vaksin memang menyebabkan gejala tersebut. Sosialisasi tentang apa itu KIPI juga perlu terus disebarkan.

Hoaks terkait KIPI pada anak

Tenaga kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada warga saat vaksinasi keliling untuk warga Kelurahan Malaka Jaya di RPTRA Bunga Rampai, Jakarta, Jumat (9/7/2021). Mobil vaksinasi COVID-19 keliling diberikan untuk anak-anak dan dewasa usia 12-59 tahun. (merdeka.com/Imam Buhori)
Tenaga kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada warga saat vaksinasi keliling untuk warga Kelurahan Malaka Jaya di RPTRA Bunga Rampai, Jakarta, Jumat (9/7/2021). Mobil vaksinasi COVID-19 keliling diberikan untuk anak-anak dan dewasa usia 12-59 tahun. (merdeka.com/Imam Buhori)

Mengutip tim Cek Fakta Liputan6.com, Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Piprim Basarah menyayangkan, masih banyak berita miring terkait Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) terhadap anak yang sudah divaksin COVID-19. Ini menjadi penyebab para orang tua masih ragu mengantarkan anak untuk mendapat vaksinasi COVID-19.

"Yang kami temukan banyak berita-berita miring terkait KIPI. Ini karena ketidakpahaman masyarakat," ungkap dr Piprim saat mejadi pembicara di acara Virtual Class dengan tema Urgensi Vaksin Anak di Masa Pandemi COVID-19, Senin (29/11/2021).

Piprim mengatakan, pihaknya menemukan sejumlah kasus yang tidak terkait dengan KIPI pada anak. Misalnya saja, ada anak merasa kejang-kejang setelah mendapatkan vaksin COVID-19. Tetapi setelah diselidiki oleh Komnas KIPI, justru tidak ditemukan penyebab kejang-kejang tersebut akibat vaksin COVID-19.

Untuk itu Piprim meminta, para orang tua tidak khawatir terhadap vaksinasi COVID-19 pada anak. Menurutnya, anak yang sudah divaksin akan lebih kebal terkena gejala berat dari virus corona.

"Ya, tentu saja ketika sudah divaksin pada anak-anak itu, antibodinya terbentuk. Diharapkan lebih aman terkena COVID-19 berat. Tapi tetap harus protokol kesehatan, cuci tangan,dan jaga jarak," ucap dr Pripim.

Efek samping vaksin Sinovac pada anak

Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada siswa di SDN 02 Ciater, Tangerang Selatan, Selasa (14/12/2021). Mulai Hari ini, 11 provinsi di Indonesia secara serentak melaksanakan vaksinasi COVID-19 dengan sasaran anak berusia 6 hingga 11 tahun. (merdeka.com/Arie Basuki)
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada siswa di SDN 02 Ciater, Tangerang Selatan, Selasa (14/12/2021). Mulai Hari ini, 11 provinsi di Indonesia secara serentak melaksanakan vaksinasi COVID-19 dengan sasaran anak berusia 6 hingga 11 tahun. (merdeka.com/Arie Basuki)

Saat ini Sinovac adalah jenis vaksin yang disetujui penggunaannya pada anak. Pada 1 November 2021, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI telah memberi persetujuan penggunaan vaksin Coronavac produksi Sinovac Life Science Co., Ltd China dan Vaksin COVID-19 PT Bio Farma pada anak usia 6-11 tahun.

Berdasarkan penelitian yang ada, efek samping vaksin Sinovac untuk anak usia 6-11 tahun tak jauh beda dengan remaja dan dewasa. Mengutip Health Liputan6.com, menurut Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Hinky Hindra Irawan Satari, efek samping vaksin Sinovac pada anak bisa berupa reaksi nyeri di lokasi suntikan atau demam.

"Gejalanya samalah dengan dewasa. mungkin ada beberapa proposi ya. Kalaupun berbeda, tapi enggak berbeda begitu jauh," tutur Hindra dikutip dari Health Liputan6.com.

Menurut Hindra, efek samping vaksin Sinovac untuk sudah diteliti di sejumlah negara seperti Tiongkok. Menurut Hindra, tak ada penanganan khusus terkait KIPI untuk anak 6-11 tahun. Ini karena sebelumnya, pemerintah sudah rutin melakukan vaksinasi untuk anak.

Secara umum, efek samping vaksin Sinovac yang dihimpun Komnas KIPI, antara lain:

- Reaksi lokal (di tempat suntikan)

Nyeri di tempat suntikan

- Kemerahan

- Pengerasan

- Bengkak

Reaksi sistemik

- Demam

- Lemas

- Nyeri otot

Lain-lain

- Mengantuk

- Pusing

- Sakit kepala

- Gatal

- Kesemutan

- Nyeri leher

- Mati rasa di leher

- Nyeri sendi

- Nyeri punggung

- Hidung tersumbat

- Nyeri saat menelan

- Batuk

- flu

- Mual

- Muntah

- Selera makan meningkat

- Nyeri perut

Cara mengatasi KIPI pada anak

Kemenkes siapkan 58 juta dosis vaksin sinovac untuk vaksinasi anak 6-11 tahun. (pexels/cdc).
Kemenkes siapkan 58 juta dosis vaksin sinovac untuk vaksinasi anak 6-11 tahun. (pexels/cdc).

Mengutip laman Kemenkes, berikut cara efektif yang dapat dilakukan ketika anak mengalami KIPI:

- Membuat anak cukup beristirahat

- Memberi obat penurun panas jika diperlukan

- Mengupayakan agar anak mengkonsumsi air putih yang cukup

- Jika terdapat rasa nyeri di tempat bekas suntikan, usahakan tetap gerakan dan gunakan lengan anak.

- Apabila perlu, kompres bagian yang nyeri dengan kain bersih yang dibasahi dengan air dingin setelah melakukan penanganan dini.

- Setelah melakukan penanganan dini, orang tua perlu segera melaporkan temuan KIPI yang dialami anak ke Puskesmas atau ke sentral vaksinasi. Hal ini akan menjadi input evaluasi pelaksanaan vaksinasi kedepannya serta penanganan lebih lanjut.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel