Cara Menghitung Berat Badan Ideal dari Tinggi, Mudah dan Cepat

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Jakarta Memiliki berat badan ideal memang idaman banyak orang. Selain menambah kepercayaan diri, juga ampuh jauhkan dari serangan penyakit berbahaya. Untuk itu, ketahui cara menghitung berat badan ideal dari tinggi badan.

Cara menghitung berat badan ideal dari tinggi badan ini bisa diterapkan untuk pria, wanita, ibu hamil, dan anak-anak. Rumus yang digunakan adalah Body Mass Indeks dan Formula Broca. Tak perlu khawatir akan membingungkan, cara menghitung berat badan ideal dari tinggi badan ini sangatlah mudah.

Mengerti dan memahami cara menghitung berat badan ideal dari tinggi badan, akan menghindarkanmu dari banyak bahaya penyakit. Mulai dari penyakit jantung, tulang, kanker, dan masalah kehamilan. Bahkan, obesitas dan stunting pada anak bisa dicegah serta diatasi lebih dini.

Berikut Liputan6.com ulas cara menghitung berat badan ideal dari tinggi badan dari berbagai sumber, Kamis (13/8/2020).

Body Mass Index

Ilustrasi berpikir | Startup Stock Photos dari Pexels
Ilustrasi berpikir | Startup Stock Photos dari Pexels

Body mass index (BMI) atau indeks massa tubuh adalah perkiraan lemak tubuh berdasarkan tinggi dan berat badan. Cara menghitung berat badan ideal dari tinggi badan dengan rumus BMI menentukan berat badan sehat atau tidak.

Dilansir dari Healthline, semakin tinggi BMI seseorang, semakin besar potensi mengembangkan kondisi serius tertentu, seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes.

Cara menghitung berat badan ideal dari tinggi badan dengan rumus BMI ditujukan untuk usia 20 tahunan. Untuk di bawah usia 20 tahun cara hitungnya akan berbeda. Jika ingin menghitung berat badan ideal dengan BMI, berat badan harus dalam satuan kilogram dan tinggi badan dalam satuan meter kuadrat.

Keterangan BMI:

- Angka BMI normal berada pada kisaran 18.5-25.

- Jika angka BMI melebihi 25, hal ini berarti berat badan berlebih.

- Jika angka BMI berada di bawah 18 berarti berat badan kurang.

- Jika angka BMI sudah melebihi angka 40, sebaiknya dilakukan penanganan secepatnya karena angka ini menunjukkan tanda bahaya.

Contoh Perhitungan:

a. Berat badan 55 kilogram (kg) dan tinggi 160 centimeter (cm) ==> 1,60 meter (m).

b. Kalikan tinggi badan dalam kuadrat: 1,60 x 1,60 = 2,56.

c. Bagi angka berat badan dengan hasil kuadrat tinggi badan: 55/2,56 = 21,5.

Dari hasil perhitungan BMI di atas kamu mendapatkan angka 21,5 dimana jika berdasarkan standar World Health Organization (WHO), kamu termasuk kategori ‘normal’. Berikut kategori BMI tersebut:

Berat Badan Kurang = < 18.5

Berat Badan Normal = 18.5-24.9

Berat Badan Berlebih = 25-29.9

Obesitas = > 30

Formula Broca

Ilustrasi berpikir | Andrea Piacquadio dari Pexels
Ilustrasi berpikir | Andrea Piacquadio dari Pexels

Formula Broca dikembangkan pada tahun 1871 oleh Pierre Paul Broca, seorang dokter, ahli bedah, dan antropolog Perancis (1824-1880). Cara menghitung berat badan ideal dari tinggi badan dengan rumus formula broca ditujukan untuk berat badan ideal.

Cara menghitung berat badan ideal dari tinggi badan dengan rumus formula broca dibagi dua. Untuk pria dan wanita. Awalnya, rumus Broca digunakan untuk menghitung berat badan normal tetapi kemudian diperluas menjadi Berat Badan Ideal.

Pengukuran ini awalnya dihitung dari tinggi badan seseorang dikurangi 100 cm, kemudian dikembangkan. Pengembangan dilakukan karena cara menghitung berat badan ideal dari tinggi badan belum benar-benar ideal. Hal ini berlaku bagi pria dan wanita.

Rumus Formula Broca:

Pria: ((berat badan – 100) – (10% x (tinggi badan -100))

Wanita: ((tinggi badan – 100) – (15% x (tinggi badan – 100))

Contoh Perhitungan:

Seorang wanita memiliki tinggi badan 165, maka cara menghitung berat badan ideal wanita itu dengan cara:

(165-100) – {(165-100) x 15%} = 65 – 9.75 = 55.25

Maka berat badan ideal wanita tersebut adalah 55.25 kg.

Ibu Hamil

Ilustrasi ibu hamil | mikoto.raw dari Pexels
Ilustrasi ibu hamil | mikoto.raw dari Pexels

Mempraktikkan cara menghitung berat badan ideal dari tinggi badan pada ibu hamil perlu dilakukan. Tujuannya agar berat badan ibu hamil tidak berlebihan dan bahayakan kehamilan. Hal ini pun untuk mengantisipasi bayi atau janin dalam kandungan akan bermasalah karenya.

Kelebihan berat badan saat kehamilan bisa meningkatkan risiko berbagai komplikasi kehamilan. Mulai dari diabetes gestasional, gangguan tekanan darah tinggi, dan preeklampsia. Cara menghitung berat badan ideal dari tinggi badan pada ibu hamil bisa gunakan rumus broca. Selain itu bisa juga gunakan jumlah usia kehamilan.

Rumus Broca:

Berat badan ideal ibu hamil = berat badan ideal + (usia kehamilan (dalam minggu) x 0.35)

Contoh Perhitungan:

Ani memasuki kehamilan minggu ke 20. Berat badan ideal jika dihitung dengan rumus Broca adalah 70. Maka berat badan ideal Ani di minggu kehamilan 24 adalah:

Berat badan ideal ibu hamil = 70 + (20 x 0.35) = 77 kg.

Anak-Anak

Ilustrasi anak | Pixabay
Ilustrasi anak | Pixabay

Menghitung berat badan ideal anak sangat perlu dilakukan. Hal ini untuk mengantisipasi berat badan anak yang bisa sampai sebabkan obesitas. Anak yang sudah mengalami obesitas memang terbilang imut dan menggemaskan. Akan tetapi, ada banyak pula bahaya yang mengintai anak obesitas ini.

Agar anak bisa terhindar dari obesitas, cara menghitung berat badan ideal dari tinggi badan anak dan usianya bisa dilakukan. Menerapkan cara menghitung berat badan ideal dari tinggi badan atau usia anak bisa disesuaikan. Selain obesitas, stunting juga bisa dicegah. Stunting adalah kondisi pertumbuhan anak yang kerdil.

Rumus Perhitungan:

Anak Usia 0-12 bulan

Berat badan ideal bayi = (umur saat ini (umur dalam satuan bulan) : 2) + 4

Anak Usia 1-10 tahun

Berat badan ideal anak = 2n + 8

*n = usia anak dalam satuan tahun

Contoh Perhitungan:

Anak Usia 0-12 bulan

Seorang bayi berusia 9 bulan, maka berat badan idealnya?

Berat badan ideal = (9 : 2) + 4 = 8.5 kg

Anak Usia 1-10 tahun

Seorang anak berusia 10 tahun, maka berat badan idealnya?

Berat badan ideal = (2 x 10) + 8 = 28 kilogram

Bahaya Kelebihan Berat Badan Bagi Kesehatan

Ilustrasi Obesitas | AllGo dari Unsplash
Ilustrasi Obesitas | AllGo dari Unsplash

Tekanan darah tinggi

Jaringan lemak tambahan dalam tubuh membutuhkan oksigen dan nutrisi agar tetap hidup. Ini membuat pembuluh darah mengalirkan lebih banyak darah ke jaringan lemak dan meningkatkan beban kerja jantung.

Diabetes

Obesitas menjadi penyebab utama diabetes tipe 2. Jenis ini sering terjadi pada orang dewasa, tapi tidak menutup kemungkinan terjadi pada anak-anak. Obesitas juga menyebabkan resistensi terhadap insulin dan menyebabkan meningkatnya gula darah.

Penyakit jantung

Orang yang gemuk berisiko 10 kali lebih banyak terkena pengerasan pembuluh darah atau aterosklerosis. Penyakit arteri koroner juga bisa terjadi karena timbunan lemak menumpuk di arteri yang memasok jantung.

Masalah persendian

Obesitas juga berpengaruh pada kinerja lutut dan pinggul karena tekanan yang dibebankan pada persendian akibat berat tambahan. Operasi penggantian sendi yang banyak dilakukan bukan solusi tepat bagi mereka yang terkena obesitas.

Masalah tidur dan pernapasan

Sleep apnea menyebabkan orang berhenti bernapas untuk sesaat. Hal ini mengganggu tidur malam dan menyebabkan rasa kantuk di siang hari. Kondisi tersebut juga menyebabkan dengkuran yang berat. Sementara itu, masalah pernapasan terkait obesitas terjadi ketika berat dinding dada bertambah dan menekan paru-paru sehingga napas menjadi terbatas.

Kanker

Tidak banyak diketahui, obesitas ternyata juga meningkatkan risiko kanker. Pada wanita misalnya, kelebihan berat badan bisa menyebabkan kanker payudara, kantung empedu, dan rahim. Untuk pria, risiko terkena kanker usus besar dan prostat juga lebih tinggi.

Sindrom metabolik

Sindrom metabolik merupakan faktor risiko kompleks untuk penyakit kardiovaskular. Mereka adalah: obesitas perut, peningkatan kolesterol darah, peningkatan tekanan darah, resistensi insulin dengan atau tanpa intoleransi glukosa

Efek psikososial

Dalam beberapa budaya, orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas sering terkait dengan kemalasan. Namun, bukan hanya itu faktor yang terkait dengan obesitas.

Bahaya Kekurangan Berat Badan Bagi Kesehatan

Ilustrasi kurus | Retha Ferguson dari Pexels
Ilustrasi kurus | Retha Ferguson dari Pexels

Kekurangan nutrisi

Bahaya kekurangan berat badan yang paling utama adalah malnutrisi atau kekurangan nutrisi. Saat kekurangan berat badan, tubuh mungkin tidak mendapat cukup makan makanan sehat dengan nutrisi utama di dalamnya.

Osteoporosis

Kekurangan nutrisi juga dapat memengaruhi fungsi tulang dan sendi. Berat badan rendah dapat meningkatkan risiko terganggunya kepadatan mineral tulang.

Kekebalan terganggu

Sistem kekebalan yang melemah adalah risiko kesehatan teratas lainnya yang terkait dengan kondisi kekurangan berat badan. Ketika tidak mendapatkan cukup nutrisi, kekebalan cenderung akan melemah.

Sering merasa lelah

Seseorang yang kekurangan berat badan juga akan sering merasa lelah. Ini terutama disebabkan oleh malnutrisi yang terjadi. Tubuh tak punya cukup energi yang dibakar untuk melakukan aktivitas.

Anemia

Malnutrisi juga dapat menyebabkan anemia atau kekurangan vitamin esensial. Anemia juga bisa disebabkan oleh malabsorpsi nutrisi. Kekurangan zat besi, folat dan vitamin B-12 dapat menyebabkan anemia.

Masalah kesuburan

Kekurangan berat badan terutama sangat buruk bagi sistem reproduksi wanita. Berat badan yang rendah menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang dapat menghentikan atau mengganggu siklus menstruasi.