Cara tak kenal kompromi Australia menggelar Grand Slam pandemi

Fitri Supratiwi
·Bacaan 6 menit

Petenis putri Australia Ashley Barty girang sekali bakal bertanding lagi setelah 11 bulan absen karena memilih menaati aturan negaranya membendung pandemi virus corona.

Petenis nomor satu dunia itu tak sabar menunggu Australian Open yang akan dimulai 8 sampai 21 Februari nanti.

"Asli saya amat merindukan ini," kata Barty setelah ditaklukkan Simona Halep dalam turnamen eksibisi "Day at the Drive" di Adelaide yang ditonton 4.000 orang, Jumat kemarin.

Baca juga: Australian Open izinkan 30.000 fans hadir per hari

Petenis-petenis luar Australia sendiri justru lega karena terbebas dari wajib karantina 14 hari yang umumnya mereka jalani sejak 15 Januari.

Novak Djokovic yang juga mengikuti “Day at the Drive” menumpahkan perasaan terbebas dari karantina dengan menyapa warga sekitar. “Punya lagi ruang gerak adalah hal yang kami semua rindukan," kata Djokovic.

Sedangkan Serena Williams merayakan hari merdeka dari karantina dengan jalan-jalan ke Kebun Binatang Adelaide bersama anaknya yang baru berusia tiga tahun.

"Saya senang sekali karantina ini telah berakhir karena terus bersama anak usia tiga tahun dan menjadi sahabatnya itu sungguh sulit," kata Williams.

Djokovic, Williams, dan ratusan petenis lainnya lega telah melewati salah satu protokol turnamen olah raga paling ketat di dunia itu.

Wajib karantina 14 hari hanya satu dari sekian aturan ketat yang diterapkan Australian Open.

Bahkan untuk datang ke Australia saja petenis harus melewati prosedur amat ketat yang diterapkan penyelenggara acara, Tennis Australia, karena tak mau kecolongan dan ingin menghargai upaya keras rakyat Australia dalam mengatasi pandemi.

Padahal, Australia "hanya" kehilangan 909 nyawa atau 0,003 persen dari total penduduk dan "hanya" 28.800 kasus infeksi atau 0,11 persen dari total penduduk.

Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan kebanyakan negara dan hanya sepersekian dari Indonesia yang kasus infeksinya sudah melewati 1,05 juta dan 29.518 kematian akibat COVID-19.

Tapi bagi Australia, 909 nyawa sudah terlalu banyak. Mereka tak gampang mengendurkan aturan sampai Grand Prix Australia yang sedianya digelar Maret pun jauh-jauh hari mereka mundurkan ke November.

Negara ini kaya dengan PDB dan pendapatan per kapita jauh di atas Indonesia, tapi tidak menganggap ekonomi segalanya, sebaliknya sama pentingnya dengan upaya membendung penyakit menular.

Tak heran mereka sulit memberi lampu hijau kepada Australia Open yang akan menjadi perhelatan olah raga terbesar di Australia sejak awal pandemi.

Baca juga: Tugas berat Melbourne meriahkan Grand Slam pandemi


Berbulan-bulan

Tennis Australia sendiri berbulan-bulan bolak balik mempresentasikan protokol COVID-19 kepada pemerintah negara bagian Victoria di mana turnamen ini digelar.

Tennis Australia bahkan mencarter 15 penerbangan untuk menjemput 1.200 petenis dan non petenis ke Australia dari lima tempat; Doha, Abu Dhabi, Dubai, Singapura dan Los Angeles.

Sebelum petenis bisa diterbangkan, mereka harus menjalani tes PCR terlebih dahulu. Jika positif mereka tak boleh ikut terbang yang dalam kata lain “sudah, lupakan saja Australian Open itu.”

Ini dialami juara Grand Slam tiga kali Andy Murray dan mantan petenis putri nomor 7 dunia Madison Keys yang positif terpapar COVID-19 sebelum bisa terbang ke Australia.

Mereka yang negatif menaiki pesawat carteran yang kapasitasnya dipangkas sampai 75 persen. Rata-rata hanya 65 orang dalam setiap pesawat berkapasitas 260 penumpang yang merupakan kapasitas maksimal untuk sebuah pesawat berbadan lebar yang merupakan jenis pesawat komersial yang dibolehkan melakukan penerbangan antarbenua.

Para petenis itu boleh dibilang istimewa jika dibandingkan dengan 37.000 warga Australia yang terjebak di luar negeri akibat sulit mendapatkan pesawat karena ketatnya aturan terbang ke Australia.

Begitu tiba di Australia, para petenis dites PCR lagi. Negatif saat terbang tak berarti akan terus negatif sampai mendarat di Australia.

Buktinya, penerbangan bernomor QR7493 dari Los Angeles yang tiba di Melbourne mendapati dua penumpangnya positif. Hal sama terjadi pada penerbangan EY8004 dari Abu Dhabi.

Tapi tak peduli positif atau negatif, begitu tiba di Australia, semua orang wajib menjalani karantina 14 hari di tiga hotel karantina yang di Victoria adalah di Grand Hyatt, Pullman Albert Park dan View Melbourne.

Setiap hari selama karantina mereka dites COVID-19 dan jika positif harus dipindahkan ke hotel karantina khusus medis di Holiday Inn.

Tak semua didaratkan di Melbourne karena dua penerbangan mendarat di Adelaide di mana belasan petenis, termasuk Djokovic dan Rafael Nadal, menjalani wajib karantina 14 hari di sana.

Selama karantina, petenis hanya boleh keluar hotel lima jam sehari untuk berlatih. Tapi ini baru berlaku setelah dua hari pertama karantina.

Ketentuan ini tak berlaku untuk non pemain, termasuk pelatih, yang diwajibkan tetap di hotel selama masa wajib karantina. Semua petenis dalam tiga penerbangan yang penumpangnya kedapatan positif termasuk QR7493 and EY8004, juga tak boleh keluar ruangan hotel selama 14 hari.

Total 72 petenis yang turut dalam tiga penerbangan dari Abu Dhabi, Doha dan Los Angeles yang ditumpangi orang yang positif COVID-19. Ke-72 petenis ini terpaksa tak boleh keluar berlatih selama karantina.

Baca juga: Peserta Australian Open mulai tinggalkan hotel isolasi COVID-19


Jawabannya tidak!

Banyak petenis yang mengeluh. Salah satunya, Yulia Putintseva dari Kazakhstan yang tak boleh keluar hotel karena dia satu pesawat dengan orang yang positif COVID-19.

Putintseva tak menyangka harus menghadapi protokol seketat ini. Dia khawatir cedera saat Australian Open dimulai karena tak didahului berlatih atau turnamen pemanasan seperti dilakukan mayoritas petenis.

Demikian kerasnya aturan ini sampai-sampai Djokovic menyurati Direktur Australian Open Craig Tiley untuk menyampaikan enam tuntutan, termasuk meminta periode isolasi dikurangi dan pemain bisa didampingi pelatih saat berlatih.

Menanggapi ini, menteri utama Victoria, Daniel Andrews, berkata, "silakan saja membuat daftar tuntutan tapi jawabannya tidak!".

Tennis Australia tak mau melonggarkan aturan karena tak ingin mengecewakan penduduk Australia, khususnya Victoria, yang sudah berkorban banyak dalam membendung COVID-19 dengan menaati salah satu lockdown paling keras di dunia yang membuat Australia dipuji dan dijadikan model oleh dunia.

Aturan ketat juga berlaku untuk penonton turnamen sampai kapasitas tribun dipangkas menjadi hanya 35 persen agar penonton menaati aturan jaga jarak sosial di mana mereka akan dipisahkan satu sama lain oleh enam kursi kosong.

Tahun lalu Australian Open menyedot 812.174 penonton, tapi tahun ini tentu jauh berkurang. Tapi itu bakal masih lebih bagus ketimbang French Open tahun lalu yang membolehkan 1.000 penonton setiap hari, apalagi US Open yang tahun lalu diadakan tanpa penonton, sedangkan Wimbledon dibatalkan.

Tetapi berbulan-bulan lockdown membuat penduduk Australia khawatir membentuk kerumunan sehingga banyak yang tak menyetujui Australian Open.

"Saya biasanya menonton tetapi tahun ini tidak," kata Danielle Cummins yang bekerja untuk sebuah panti jompo di Melbourne.

"Saya merasa tidak nyaman saja. Apa yang kami miliki di sini terlalu berharga. Satu-satunya yang memupus keadaan terlalu berharga itu adalah membiarkan virus masuk dari luar negeri.”

Namun Catherine Bennett, kepala epidemiologi Universitas Deakin, mendukung langkah pemerintah Victoria mengizinkan turnamen ini karena ada protokol ketat yang mengawalnya.

Pemerintah Victoria sendiri mengerahkan ratusan staf untuk menangani program karantina hotel Australian Open, selain menyebar polisi ke semua sudut acara.

Bennett juga menilai Australian Open bisa menjadi ajang untuk menunjukkan keberhasilan Australia dalam menghadapi COVID-19. “Kita menginginkan ini untuk menunjukkan yang telah dicapai Australia dan yang bisa kita tawarkan mengenai bagaimana menyelenggarakan event yang aman.”

Baca juga: Tak ada bedanya karantina di Adelaide dengan Melbourne, kata Thiem
Baca juga: Badosa nilai karantinanya di Australia sebagai momen terburuk