Cara TikTok Cegah Penyebaran Hoaks, Hapus Video hingga Gandeng Ahli Cek Fakta

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah platform media sosial terus berupaya menekan penyebaran hoaks di dunia maya. Satu di antaranya adalah TikTok.

Platform asal Tiongkok ini tak segan untuk menghapus video jika melanggar "pedoman komunitas". Di antaranya berisi konten hoaks, pelecehan, hingga perundungan.

Setelah video dihapus, pemilik konten akan mendapat notifikasi dari TikTok yang berisi alasan mengapa video tersebut dihapus. TikTok memastikan akan transparan terkait penghapusan video yang melanggar "pedoman komunitas".

"Kami senang dapat menghadirkan sistem pemberitahuan baru ini kepada semua pengguna kami, dan kami akan terus bekerja untuk meningkatkan cara kami membantu komunitas memahami kebijakan kami sambil terus membangun platform yang aman," demikian pernnyataan resmi TikTok, dilansir dari Antara, Jumat 23 Oktober 2020 lalu.

Pihak TikTok mengaku telah bereksperimen dengan sistem notifikasi baru tersebut untuk memberikan kejelasan lebih lanjut kepada kreator seputar penghapusan konten.

"Sasaran kami adalah meningkatkan transparansi dan pendidikan seputar Pedoman Komunitas kami untuk mengurangi kesalahpahaman tentang konten di platform kami," ujar TikTok.

Menurut pihak TikTok, uji coba tersebut telah dilakukan dan membantu mengurangi tingkat pelanggaran dan akses ke 'Pedoman Komunitas' meningkat hampir tiga kali lipat.

TikTok juga melihat adanya penurunan sebesar 14 persen dalam hal permintaan dari pengguna untuk mengajukan banding atas penghapusan video. Pemberitahuan baru tersebut akan digulir secara global.

Jajaki Kerja Sama dengan Ahli Cek Fakta

ilustrasi Cek Fakta
ilustrasi Cek Fakta

Selain itu, TikTok juga mulai menjajaki kerja sama dengan sejumlah ahli cek fakta guna mencegah penyebaran hoaks di platformnya.

"Kami telah memulai Program cek fakta Asia Pasifik, bekerja sama dengan pemeriksa fakta terkemuka di industri, AFP dan Lead Stories," ujar Director, Trust & Safety, TikTok, Asia Pacific Arjun Narayan dilansir dari Antara, Sabtu 17 Oktober 2020 lalu.

Arjun mengatakan, TikTok sebagai platform media sosial bertanggung jawab untuk melindungi dan meningkatkan pengalaman edukasi pengguna serta mencegah penyebaran hoaks.

"Kami telah meningkatkan upaya kami untuk mengidentifikasi konten yang tidak terverifikasi yang beredar di internet, yang mungkin terlihat sebagai fakta atau berita di mata publik," kata Arjun.

Selain itu, TikTok telah menerapkan sistem untuk memungkinkan pengguna dengan mudah melaporkan misinformasi dalam aplikasi.

TikTok juga memperluas tim internal yang bertanggung jawab untuk mendeteksi dan mencegah misinformasi serta disinformasi.

"Misinformasi atau disinformasi yang disengaja seperti itu dapat menyebabkan kerusakan di dunia nyata, dan bertentangan dengan misi kami untuk membangun komunitas berbasis kepercayaan, di mana interaksi yang otentik dapat berkembang," ucap Arjun.

Simak video pilihan berikut ini: