Cara Unik Warren Buffett Indonesia Lo Kheng Hong Melihat Perusahaan

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Saat investasi saham sangat penting untuk mengetahui manfaat dan profil risiko investasi. Oleh karena itu, investor saham didorong untuk selalu belajar mengenai investasi saham. Hal itu bisa dilakukan dengan mempelajari analisis fundamental perusahaan, teknikal dan lainnya sehingga mengetahui seluk beluk saham yang dibeli.

Mengutip instagram @indonesiastockexchange, ada sejumlah hal yang dapat digunakan membeli saham untuk investasi antara lain track record perusahaan, prospek perusahaan dan industri, pemegang saham pengendali, kinerja perusahaan dan manajemen perusahaan. Selain itu, investor juga diingatkan untuk membaca laporan keuangan perusahaan.

Bicara soal keputusan membeli saham untuk investasi, investor terkenal Lo Kheng Hong juga menyebutkan dirinya membeli saham publik dengan melihat kinerja dan nilai perusahaan.

Tak hanya itu saja, Lo Kheng Hong juga mempertimbangkan sesuatu yang beda saat memperhatikan perusahaan. Apakah itu?

Lo Kheng Hong menuturkan, kalau gaya hidup pemilik perusahaan publik juga harus diperhatikan. Lo Kheng Hong menceritakan, ia bersama temannya mengunjungi PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) pada 2020.

Saat itu, ia ingin lebih mengenal Kalbe Farma. Ia pun menuturkan kalau pemilik perusahaan Kalbe Farma Boenjamin Setiawan menerapkan gaya hidup sederhana. Salah satunya menurut Lo Kheng Hong dengan mobil yang dipakai Boenjamin Setiawan.

"Suatu hari saya dan teman-teman ke Kalbe, waktu itu saya lihat pak Boenjamin Setiawan, founder Kalbe ingin pergi, saya buntuti, saya ingin tahu mobilnya apa, ternyata mobilnya Kijang Innova warna hitam, padahal Kalbe labanya Rp 2,7 triliun. Ada pemilik perusahaan publik naik Lamborghini, tapi perusahaannya rugi triliun. Jadi gaya hidup pemilik perusahaan publik, harus kita lihat juga,” ujar dia dalam catatannya dikutip Minggu, (4/4/2021).

Lo Kheng Hong yang juga disebut Warren Buffett Indonesia ini juga mengatakan, gaya hidup yang sederhana dan hemat akan membuat perusahaan juga hemat dan sederhana sehingga perusahaan dapat membukukan laba besar.

"Kalau gaya hidup pemilik perusahaan boros dan glamour maka perusahaan juga akan boros dan glamour, sehingga biaya besar dan laba jadi mengecil,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Lo Kheng Hong menuturkan, ada faktor lain selain analis fundamental ketika membeli saham. Namun, ia belum dapat menjelaskan detil.

Saat ditanya apakah memiliki saham Kalbe Farma, Lo Kheng Hong mengaku tidak punya saham Kalbe Farma. “Tidak punya,” kata dia.

Adapun perusahaan yang dibangun Boenjamin Setiawan yaitu PT Kalbe Farma Tbk mencatatkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 2,73 triliun atau tumbuh 9 persen pada 2020 dibandingkan 2019 sebesar Rp 2,5 triliun. Penjualan Kalbe Farma tumbuh 2,1 persen dari Rp 22,63 triliun pada 2019 menjadi Rp 23,11 triliun pada 2020.

Kalbe Farma Dibangun Berawal dari Usaha Sederhana di Garasi

Ilustrasi Kalbe Farma
Ilustrasi Kalbe Farma

Mengutip laman Kalbe Farma, perusahaan farmasi ini berdiri pada 1966 yang berasal dari usaha sederhana di sebuah garasi menjadi perusahaan farmasi terdepan di Indonesia. Perusahaan ini didirikan Boenjamin Setiawan bersama dengan lima saudaranya. Kalbe Farma pun menjadi perusahaan tercatat pada 1991.

Melalui proses pertumbuhan organik dan penggabungan usaha dan akuisisi, Kalbe Farma telah tumbuh dan bertransformasi menjadi penyedia solusi kesehatan terintegrasi melalui empat kelompok divisi usahanya antara lain divisi obat resep yang berkontribusi 23 persen, divisi produk kesehatan berkontribusi 17 persen.

Lalu divisi nutrisi berkontribusi 30 persen dan divisi distribusi dan logistik berkontribusi 30 persen. Empat divisi usaha ini mengelola portofolio obat resep dan obat bebas yang komprehensif, produk-produk minuman energi dan nutrisi serta usaha distribusi yang menjangkau lebih dari satu juta outlet di seluruh kepulauan Indonesia.

Di pasar internasional, perseroan telah hadir di negara-negara ASEAN, Nigeria dan Afrika Selatan, dan menjadi perusahaan produk kesehatan nasional yang bersaing di pasar ekspor.

Perseroan didukung lebih dari 17.000 karyawan, kini Kalbe Farma telah tumbuh menjadi penyedia layanan kesehatan terbesar di Indonesia. Selain itu, Kalbe Farma mencatatkan kapitalisasi pasar saham mencapai Rp 72,65 triliun hingga penutupan perdagangan Kamis, 1 April 2021.

Adapun pemegang saham Kalbe Farma Tbk per 28 Februari 2021 antara lain PT Gira Sole Prima sebesar 10,29 persen, PT Santa Seha Sanadi sebesar 10,03 persen, PT Diptanala Bahana sebesar 9,5 persen, PT Lucasta Murni Cemerlang sebesar 9,47 persen, PT Ladang Ira Panen sebesar 9,36 persen, PT Bina Artha Charisma sebesar 8,51 persen, masyarakat 42,83 persen dan saham treasury sebesar 0,005 persen.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini