Cara Warga Desa di Muara Enim Lawan Tengkulak dan Rentenir

Merdeka.com - Merdeka.com - Desa Pagar Dewa di muara Enim Sumatera Selatan merupakan salah satu desa yang memproduksi beras organik. Desa ini juga termasuk dari binaan CSR PT Bukit Asam (PTBA) yang memiliki Badan Usaha Milik Petani (BUMP) PT Pagar Bukit Asam.

Direktur PT Pagar Bukit Asam, Windri Wijaya mengatakan berdirinya BUMP ini terjadi karena adanya problematika antara para petani di Desa Pagar Dewa dengan tengkulak atau rentenir yang mana para petani tersebut terjerat utang dengan bunga hingga 40 persen.

"Tahun 2017 saya bersama rekan-rekan lainnya kembali dari perantauan untuk berkhidmat diri kepada desa asal. Kelemahan Desa Pagar Dewa adalah banyak tengkulak dan rentenir yang membuat para petani terjerat utang, bunga nya pun bisa sampai 40 persen," ujar Windri di Desa Pagar Dewa, Muara Enim Sumatera Selatan, ditulis (15/9).

Dia menjelaskan, pada tahun 2017 dia mengajak PT Bukit Asam untuk mendirikan PT Pagar Bukit Asam. Walaupun desa tersebut bukan salah satu IUP Bukit Asam, tetapi ternyata PTBA melalui program CSR sangat antusias untuk membantu permasalahan di desa.

"Kami mulai mengajak masyarakat untuk melawan tengkulak dan rentenir, kita berontak (rentenir dan tengkulak) demi kebaikan desa sendiri," kata dia.

Windri pun memiliki strategi supaya para petani tidak menjual berasnya kepada para tengkulak yakni dengan menaikkan harga beras petani, misal para tengkulak membeli beras petani seharga Rp 7 ribu makan PT Pagar Bukit Asam akan membeli beras tersebut yakni Rp 8 ribu hingga Rp 12 ribu. Ini merupakan strategi agar para petani tidak terjerat oleh para tengkulak dan rentenir.

"Saya naikan harga berasnya, kalau tengkulak Rp 7 ribu saya naikan Rp 8 ribu sampai Rp 12 ribu. Karena saya asli disini merek tidak berani," tutur dia.

Kendati demikian, masih ada petani yang menjual berasnya ke para tengkulak, itu menjadi PR PT Pagar Bukit Asam untuk memberantas para tengkulak. Selain beras, Desa Pagar Dewa juga memproduksi jagung dan durian. Sebanyak 95 orang petani sawah dengan lahan sawah sendiri yang masuk ke dalam PT Pagar Bukit Adam. Sementara untuk jagung ada 15 petani dengan luas lahan 30 hektar.

"Di sini semua warga mayoritas petani, nah kalau durian memang semua disini petani durian juga," ucap Direktur PT Pagar Bukit Asam.

Lebih lanjut, dirinya takut apabila 20 tahun ke depan para petani hanya menjadi penonton di lahan sendiri jika para rentenir atau tengkulak mengambil lahan mereka. "Takutnya kita hanya jadi penonton di lahan sendiri, makanya saya harus bergerak," tambah dia. [azz]