Catat, 5 Pesan Penting Bagi Pendiri Startup Tahap Awal

Merdeka.com - Merdeka.com - Lanskap startup digital di Indonesia sedang mengalami perubahan, terutama dikarenakan iklim ekonomi global yang kurang kondusif. Sebagai upaya untuk membantu startup founders agar bisa mempertahankan momentum usaha dan mencapai Product-Market Fit (PMF) dengan tepat, Kominfo pun menyelenggarakan program inkubasi Startup Studio Indonesia (SSI).

Dalam program yang telah memasuki Batch kelima ini, para startup terpilih berkesempatan untuk berdiskusi dan bertukar pengalaman dengan pelaku startup veteran di Indonesia, dalam sesi 1-on-1 Coaching. Berikut ini adalah rangkuman 5 pesan penting dari para veteran startup bagi para founder yang baru saja memulai usaha rintisannya yang Merdeka.com rangkum dalam siaran pers SSI, Rabu (9/11):

1. Disrupsi dan tren tidak perlu selalu diikuti

Selama ini, startup selalu diidentikkan dengan usaha yang mendisrupsi bisnis konvensional. Namun, pada kenyataannya, disrupsi dan tren tidak selalu berjalan di jangka panjang. Hal ini diungkapkan oleh Christopher Madiam, Founder dan CEO Sociolla.

"Tidak semua hal bisa di-disrupsi. Kita sebagai founders harus bisa menganalisa mana kebiasaan konsumen yang bisa diubah, dan mana yang tidak. Misalnya di Sociolla, kami percaya bahwa kehadiran toko offline adalah hal yang tidak akan berubah. Bagaimanapun berkembangnya sistem e-commerce, toko offline pasti akan tetap eksis, itulah mengapa kami pun mengembangkan kehadiran offline. Jadi perlu diingat bahwa tidak semua disrupsi dan tren-tren digitalisasi baru perlu untuk kita ikuti," ungkapnya.

2. Gabungkan hasil benchmarking dengan data dan analisa mandiri

Salah satu cara startup untuk bisa memahami pasar yang dituju adalah dengan melakukan benchmarking, yaitu menganalisa apa yang telah dilakukan startup serupa atau bahkan kompetitor. Di tahap awal, founder pun bisa menjajal langsung dengan menjadi user di bisnis serupa, agar bisa mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan dari startup lain dan menghadirkan solusi yang lebih baik. Hal itu menurut Alfatih Timur, Co-Founder & CEO Kitabisa.com.

3. Lakukan eksperimen kecil-kecilan

Eksperimen secara terus-menerus merupakan kunci dari keberhasilan menurut Rama Notowidigo, Co-Founder AwanTunai dan Sayurbox, sekaligus mantan Chief Product Officer GO-JEK.

Ia mengatakan, penting bagi founder startup untuk berani mencoba segala sesuatu, dan melihat mana cara yang berhasil dan gagal. Kesuksesan itu sendiri bisa dilihat jika eksperimen tersebut bisa menghasilkan pendapatan organik dan ada level retensi (loyalitas pengguna) yang cukup sehat.

4. Human touch tetap harus jadi prioritas

Bagi startup yang bergerak di bidang B2B, layanan pelanggan tetap menjadi aspek utama yang perlu dijaga. Brian Marshal, Founder dan CEO dari omnichannel commerce enabler, SIRCLO Group, mengatakan, seiring dengan berkembangnya skala bisnis, tentu membutuhkan intelegensi dan analisa data yang kuat untuk bisa memberikan servis terbaik bagi klien.

"Tapi jangan lupa, bahwa analisa data ini tidak bisa menggantikan layanan manusia atau human touch. Kita perlu memberikan layanan terbaik selalu bagi klien, betul-betul memahami apa pain points dan membantu mereka ketika menemukan hambatan," kata dia.

5. Bangun fitur yang melengkapi produk utama

Dalam proses membesarkan startup, terkadang founders terlalu berfokus dalam menciptakan fitur dan produk baru, sehingga mengorbankan produk utama yang telah memiliki model bisnis yang jelas.

Untuk itu, ketika startup sudah menemukan PMF dan mempunyai jasa/produk digital yang menghasilkan pendapatan, maka bangunlah fitur dan produk-produk baru yang bisa melengkapi hal tersebut. Hal itu dikatakan Suwandi Soh, CEO Mekari. [faz]