Catat, 5 Tips Atur Keuangan Pribadi di Era New Normal

Donny Adhiyasa

VIVA – Kebijakan penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di beberapa wilayah kini mulai dilonggarkan. Kini, pemerintah pun berupaya mulai membuka berbagai aktivitas ekonomi, sosial, dan kegiatan publik secara perlahan dan terbatas.

Kondisi new normal dianggap sebagai suatu solusi dengan menerapkan protokol kesehatan, agar masyarakat tetap bisa produktif dan terhindar dari COVID-19.

Masyarakat diimbau untuk melakukan adaptasi perubahan perilaku saat pelonggaran PSBB dan bersiap untuk beraktivitas secara new normal. Adaptasi tersebut juga berlaku dalam hal manajemen keuangan pribadi.

Setelah tiga bulan terakhir produktivitas masyarakat terganggu, tentunya juga berpengaruh pada daya beli sebagian besar masyarakat serta kondisi keuangan pribadi mereka.

Baca juga: Trik Awasi Tagihan Listrik, PLN Beri Tutorial Catat Meter Mandiri

Melihat banyaknya masyarakat yang terdampak pandemi ini, penyesuaian anggaran dan pola pengelolaan keuangan pribadi jadi hal yang krusial untuk diterapkan, demi bisa mengatur dengan bijak segala keperluan dan pengeluaran.

Berikut telah terangkum, 5 langkah yang perlu dilakukan untuk bisa menyiasati kondisi keuangan pribadi dalam menghadapi new normal, seperti di lansir Grant Thornton Indonesia:

1. Review Kondisi Keuangan Pribadi

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah melihat dengan cermat kondisi keuangan saat ini dari sisi pemasukan vs pengeluaran. Identifikasi semua pengeluaran mulai dari laporan kartu kredit hingga berbagai tagihan rutin seperti listrik dan air, coba untuk lakukan review dari tiga bulan lalu.

Kemudian awasi pengeluaran tahunan yang akan segera jatuh tempo seperti pajak rumah, pajak kendaraan bermotor hingga uang sekolah anak yang dibayarkan beberapa bulan di muka, bandingkan dengan pemasukan tetap yang diterima tiap bulan untuk mendapat jawaban apakah kondisi keuangan pribadi berisiko atau tidak.

2. Idenfikasi Kebutuhan vs Keinginan

Seringkali kita masih terjebak antara keinginan dan menempatkan hal tersebut sebagai kebutuhan. Langkah signifikan berikutnya adalah mulai mengidentifikasi kebutuhan reguler dan menuliskan apa saja keinginan yang menyedot penghasilan maupun tabungan serta mengendalikan hasrat berbelanja atas keinginan tersebut.

Untuk lebih mudahnya, kebutuhan adalah sesuatu yang akan memengaruhi kemampuan seseorang untuk hidup, semua yang tidak termasuk dalam kategori tersebut dapat dianggap sebagai keinginan.

Baca juga: VIDEO: Polda Metro Jaya Dianugerahi Penghargaan dari FBI

3. Jangan Berhutang

Hindari gaya hidup konsumtif dan terutama hindari membeli barang secara kredit. Memasuki fase new normal kita akan memasuki fase kehidupan yang benar-benar baru dan perlu adaptasi tinggi, sehingga kestabilan keuangan pribadi menjadi sangat penting. Hindari menambah beban keuangan dalam waktu dekat dengan berhutang maupun mengambil cicilan terutama untuk barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

4. Miliki dana darurat

Mengamankan persediaan dana dan mengambil langkah yang tepat perlu disusun ulang untuk memastikan pendapatan dikelola dengan sangat baik. Fokus pada tujuan untuk menambah dana darurat bisa jadi salah satu strategi. Hal ini dapat dimulai dengan memisahkan pemasukan ke dalam rekening yang terpisah sehingga kebutuhan harian dan kebutuhan mendesak tidak tercampur.

5. Bijak berinvestasi

Jika memiliki dana mengendap, investasi pada instrumen yang tergolong mudah dicairkan seperti deposito, emas, reksadana, dan mata uang asing juga bisa dijadikan pilihan untuk memaksimalkan pemasukan.

Baca juga: Bawa Jokowi Kunjungan Kerja, Kapasitas Pesawat Kepresidenan Dipangkas

Selalu lakukan diversikasi dan jangan berinvestasi di satu tempat saat ini. Jangan mudah tergoda dan lakukan perencanaan investasi dengan tepat. Ingat, kita tidak tahu persis berapa lama kondisi “new normal” ini akan bertahan.

“Kondisi prihatin yang berdampak bagi sebagian besar industri saat ini mendorong kita untuk lebih tenang dan bijak dalam menghadapinya,” ungkap Managing Partner Grant Thornton Indonesia, Johanna Gani.

“Tentu kondisi finansial yang dimiliki setiap keluarga memiliki kondisi berbeda-beda hingga akhir pandemi nanti. Untuk itu, kesadaran untuk menerapkan protokol kesehatan, tetap produktif sebisa mungkin dan cerdas menangani keuangan pribadi adalah usaha terbaik yang dapat dilakukan saat ini,” jelas Gani.