Catat Bagi Jemaah Haji, Ini Ketentuan Salat Arbain yang Perlu Diketahui

Merdeka.com - Merdeka.com - Sebanyak 28 kelompok terbang (kloter) jemaah haji Indonesia sudah tiba di Madinah, Arab Saudi mereka akan berada di Madinah selama lebih kurang sembilan hari.

Kehadiran jemaah haji Indonesia, membuat suasana Madinah lebih ramai dari biasanya. Apalagi di sekitaran Kompleks Masjid Nabawi. Karena di sanalah mayoritas jemaah beraktivitas untuk melakukan salat arbain, salat fardhu 40 waktu tanpa putus.

Banyak jemaah ingin menuntaskan salat arbain selama berada di Madinah. Meski kadang kala secara fisik tidak cukup kuat, tetapi ingin memaksakan diri. Hal ini pula yang sering membuat jemaah mudah lelah.

Konsultan Bimbingan Ibadah, Kiai Wazir Ali, menjelaskan pada dasarnya salat arbain di Masjid Nabawi hukumnya sunah. Oleh sebab itu, bagi jemaah haji uzur, sepanjang masih bisa berjemaah bisa dilakukan di penginapan.

"Hadits Ibnu Abbas di kitab masik klasik karangan At-Thabari itu menyebutkan jika semua tanah haram itu adalah masjid," kata Kiai Wazir kepada Media Center Haji di Madinah, Rabu (8/6).

Artinya, ketika mengikuti pendapat itu, maka jemaah tak perlu khawatir bilamana dalam keadaan fisik tidak kuat. Sehingga salat arbain bisa tetap dilakukan.

"Jadi kalau kita mengikuti kitab itu berarti bisa tercover. Jadi orang salat arbain tidak harus di Masjid Nabawi," jelasnya.

Kiai Wazir juga menjelaskan keutamaan dari Salat Arbain tanpa putus. Yakni, terbebas dari api neraka, azab hingga sifat munafik. I

Seperti diketahui, sejak kloter pertama di Madinah, jemaah berbondong-bondong mendatangi Masjid Nabawi. Biasanya, seusai salat Zuhur, jemaah memilih tidak balik ke pemondokan dan menunggu salat Ashar hingga terkadang magrib dan isya. [rhm]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel