Catat, Ekonomi Tumbuh Positif Bukan Ukuran Keberhasilan Penanganan Pandemi

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Ekonom sekaligus Direktur Riset CORE Indonesia, Piter Abdullah menilai keberhasilan program pemerintah terkait penanganan pandemi Covid-19 tak semata hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi positif maupun negatif.

Melainkan seberapa efektif kemampuan program dalam meningkatkan ketahanan masyarakat dan dunia usaha di tanah air.

"Efektivitas keberhasilan program (penanganan pandemi Covid-19) pemerintah bukan dari pertumbuhan ekonominya positif atau negatif. Tetapi sejauh mana program-program pemerintah mampu meningkatkan ketahanan masyarakat dan ketahanan dunia usaha," tegasnya dalam acara Dialog Produktif Rabu Utama Menuju Sembuh Ekonomi Tumbuh, Rabu (24/3).

Piter mengungkapkan, pada dasarnya berbagai program penanganan pandemi sendiri lebih bertujuan untuk meningkatkan ketahanan masyarakat dan dunia usaha di tengah pandemi ini. Sehingga, alangkah eloknya jika penilaian akan keberhasilan program tidak diidentikkan dengan ekonomi positif.

"Jadi yang paling penting kita survive dulu, bertahan dulu. Dengan bertahannya masyarakat dan dunia usaha itu menjadi modal besar kita untuk bangkit ketika pandeminya sudah berakhir," terangnya.

Adapun untuk memastikan efektivitas program penanganan pandemi dalam meningkatkan ketahanan masyarakat bisa dilakukan dengan cara yang sederhana. Ialah dengan memastikan kemampuan untuk mengonsumsi makanan utama tiga kali sehari terpenuhi.

Sedangkan, untuk menilai efektivitas program terhadap meningkatkan ketahanan dunia bisnis bisa dilihat dari seberapa banyak usaha-usaha yang masih bisa bertahan dalam situasi serba sulit ini. Atau dengan kata lain tidak banyak usaha yang terpaksa gulung tikar di masa kedaruratan kesehatan ini.

"Kalau mereka tidak bangkrut di tengah pandemi, itu sudah bagus," terangnya.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal II Diprediksi 1,5 Persen Meski PPKM Mikro

Suasana gedung-gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta, Selasa (30/7/2019). Badan Anggaran (Banggar) DPR bersama dengan pemerintah menyetujui target pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran angka 5,2% pada 2019 atau melesat dari target awal 5,3%. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Suasana gedung-gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta, Selasa (30/7/2019). Badan Anggaran (Banggar) DPR bersama dengan pemerintah menyetujui target pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran angka 5,2% pada 2019 atau melesat dari target awal 5,3%. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pemerintah telah memperpanjang kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berskala mikro yang dimulai sejak 23 Maret-5 April 2021. Perpanjangan PPKM mikro jilid keempat ini pelaksanaannya diperluas di 15 provinsi di Indonesia.

Kendati ada perpanjangan pembatasan, Ekonom Senior Centre of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2021 nanti akan tumbuh positif.

"Meskipun masih ada PPKM mikro, saya perkirakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II akan positif dikisaran 0,5 persen sampai dengan 1,5 persen," ujar Piter kepada Liputan6.com, Rabu (24/3/2021).

Proyeksi itu dikeluarkannya lantaran basis hitung pertumbuhan ekonomi kuartal II 2021 masih mengacu pada periode sama tahun sebelumnya. Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2020 terkontraksi parah minus 5,32 persen akibat masa awal pandemi Covid-19.

"Pertumbuhan ekonomi triwulan II tahun 2020 sudah terkontraksi sangat dalam. Dasar hitung triwulan II 2021 menjadi lebih rendah. Sedikit saja terjadi pertumbuhan akan terhitung positif," jelas Piter.

Sebaliknya, dasar perhitungan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2021 harus bersandar pada periode tahun sebelumnya yang masih bergerak positif. Piter menerangkan, pertumbuhan ekonomi 2,97 persen di kuartal I 2020 secara statistik digunakan sebagai basis hitung untuk kuartal I 2021.

"Karena basis hitungnya tinggi, maka meskipun pada triwulan I 2021 sudah ada perbaikan, tetapi tetap masih lebih rendah dibandingkan triwulan I 2020. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi menjadi negatif," paparnya.

Oleh karenanya, ia senada dengan proyeksi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I 2021 masih akan terkontraksi negatif di kisaran minus 1 persen hingga minus 0,1 persen.

"Saya sependapat dengan bu Sri Mulyani. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2021 akan lebih baik dibandingkan triwulan IV tahun lalu, tetapi masih akan negatif di kisaran minus 1 persen," tandas Piter.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: