Catat! Perbedaan Pelakor dan Poligami Menurut Aisyah Dahlan

·Bacaan 2 menit

VIVA – Fenomena pelakor (perebut laki orang) dan poligami nampaknya tengah memanas di era saat ini. Keduanya, jelas terdapat perbedaan, namun tak semua pasangan memahaminya. Lantas, bagaimana membedakannya?

Baik di kalangan selebriti maupun masyarakat biasa, adanya pelakor ataupun orang ketiga, kerap dinilai buruk lantaran dapat merusak rumah tangga. Tak hanya itu, pelakor sendiri kerap dikaitkan dengan kondisi poligami dengan membawa nama agama.

Padahal, keduanya memiliki pemahaman yang berbeda. Dikatakan pendakwah sekaligus dokter, Aisyah Dahlan, sosok pelakor sangat mudah dikenali melalui niat yang tertuju pada materi dan caranya menggoda pria yang sudah beristri.

"Banyak selebriti saya perhatikan, suaminya kena pelakor. Kalau pelakor itu foto-foto di instagram, bangga dia peluk suami orang tapi sambil tenteng belanjaan. Kalau udah diberi harta, baru mau peluk, itu pelakor," terang Aisyah Dahlan, dalam kanal Youtube Sumber Info.

Lain halnya pada kondisi poligami yang sesuai syariat Islam dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW. Dituturkan Aisyah Dahlan, Nabi Muhammad mencontohkan bahwa beliau menikahi perempuan lain yang usianya sama. Hal ini diperintahkan oleh Allah SWT, kata Aisyah Dahlan, agar tetap adil.

"Kalau wanita rela dimadu itu sesuai fitrah, namun niatannya salah karena ingin materi lagi. Kalau dalam Islam, laki-laki boleh poligami kalau bisa ambil usianya yang juga tidak muda, kalau ikuti nabi," terangnya.

Pada pelakor, biasanya usia cenderung masih muda dan gemar bersolek untuk menarik lawan jenis. Sementara, untuk memilih wanita yang memang bermartabat dan sesuai dengan syarat poligami, antara lain sudah janda, hidup sederhana, serta tidak berniat pada materi saat hendak dinikahi pria beristri.

"Kalau wanita sudah janda, kemudian cuma hidup sederhana, lalu ada laki-laki lain yang paham bahwa sudah tidak punya istri atau istrinya berusia sama, perempuan ini bukan pelakor. Karena dia tidak bersolek, sengaja menggoda dan niatannya bukan harta," jelasnya.

Ada pun menurut teori, Aisyah Dahlan menyebut poligami memang berkaitan dengan hormon yang ada pada pria. Di usianya yang renta, pria masih memiliki hormon testosteron yang tinggi sementara wanita mengalami penurunan hormon estrogen.

Perbedaan hormon ini membuat wanita sudah tak mampu lagi melayani di ranjang dengan jeda 2-4 minggu sekali. Padahal, pria butuh dilayani agar hasrat seksualnya bisa diredam selama waktu tersebut.

"Makanya saya memahami ini, dengan kesadaran tinggi, seandainya seorang istri yang sudah jarang frekuensi melayani suami dalam hubungan intim, tidak sanggup lagi 3 hari sekali, maka rela berbagi, tapi dengan syarat usianya harus sama, jangan lebih muda," terangnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel