Catat Rekor, Aksi Merger dan Akuisisi Melonjak 94 Persen pada Kuartal I 2021

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Aktivitas merger dan akuisisi secara global mencapai USD 1,3 triliun atau sekitar Rp 18.898 triliun (asumsi kurs Rp 14.537 per dollar AS) pada kuartal I 2021. Akvitas merger dan akuisisi meningkat 94 persen dari kuartal I 2020, berdasarkan data Refinitiv.

Lonjakan aktivitas merger dan akuisisi tersebut dipicu saham teknologi dan transaksi special purpose acquition corporation (SPAC). Selain itu, sebagian didorong biaya pinjaman rendah. Hal tersebut juga diprediksi bertahan pada kuartal II 2021.

Chief Investment Strategist Oppenheimer Asset Management, John Stolzfus menuturkan, lonjakan aktivitas merger dan akuisisi ini didorong oleh biaya pinjaman rendah seiring suku bunga rendah dan lonjakan pasar saham. Hal ini memungkinkan perusahaan-perusahaan dengan harga tinggi untuk akuisisi perusahaan lain.

Ia melihat aktivitas merger dan akuisisi ini akan tetap kuat pada kuartal II 2021. Aktivitas itu didukung ekonomi AS dan global yang pulih, serta bergerak menuju ekspansi. Kemudian didukung suku bunga tetap rendah.

Sektor saham teknologi memimpin aktivitas merger dan akuisisi yang sumbang 21 persen dari semua kesepakatan pada kuartal I 2021. Nilai kesepakatan mencapai USD 274 miliar. Diikuti sektor keuangan yang mencapai 16 persen dan industry 13 persen.

Sektor Teknologi Bakal Pimpin Aktivitas Merger dan Akuisisi

Ilustrasi - perjanjian bisnis (cloudpro)
Ilustrasi - perjanjian bisnis (cloudpro)

Stoltzfus menuturkan, saham teknologi kemungkinan terus memimpin aktivitas merger dan akuisisi, tetapi juga konsumsi, transportasi, perawatan kesehatan dan keuangan karena lebih banyak perusahaan mencari cara untuk tumbuh lebih lanjut sambal memangkas biaya.

Refinitiv juga menyebutkan, AS menyumbang sekitar USD 670,5 miliar dari keseluruhan kesepakatan pada kuartal I 2021. Nilai kesepakatan merger dan akuisisi di AS alami lonjakan 161 persen dari kuartal I 2020.

Adapun beberapa kesepakatan terbesar pada kuartal I 2021 antara lain perusahaan leasing peawat Irlandia AerCap Holdings yang beli unit leasing pesawat General Electric senilai USD 30 miliar. Canadian Pacific Railway akuisisi Kansas City Southern senilai USD 25 miliar. Selain itu, memasuki kuartal II, Microsoft akan akuisisi Nuance senilai USD 19,7 miliar.

Kemudian ada Grab yang umumkan merger dengan perusahaan akuisisi tujuan khusus (SPAC) Altimeter Capital dalam kesepakatan USD 39,6 miliar. Merger ini dilakukan sebelum pencatatan di New York.

"Ini adalah pasar merger dan akuisisi yang kuat dan berbasis luas seperti yang disaksikan dalam 20 tahun terakhir,” ujar Wakil Kepala M&A Amerika Goldman Sachs, Colin Ryan dilansir dari Forbes, Minggu (25/4/2021).

Kebijakan Presiden AS Joe Biden Bakal Bayangi Aktivitas Merger dan Akuisisi

Presiden AS Joe Biden menyampaikan pidato tentang kesetaraan rasial di Ruang Makan Negara Gedung Putih pada 26 Januari 2021, di Washington. (Foto: AP / Evan Vucci)
Presiden AS Joe Biden menyampaikan pidato tentang kesetaraan rasial di Ruang Makan Negara Gedung Putih pada 26 Januari 2021, di Washington. (Foto: AP / Evan Vucci)

Stoltzfus menuturkan, jika pemerintahan Biden berhasil mendorong pajak perusahaan menjadi 28 persen, dapat meningkatkan aktivitas merger dan akuisisi secara global dan domestik. Selain itu, Stoltzfus menuturkan, jika program pembangunan infrastruktur besar Biden mendapatkan daya tarik nyata di sektor industri, energi dan material.

Adapun nilai kesepakatan merger dan akuisisi pada kuartal I 2021 merupakan angka tertinggi kedua yang pernah dilaporkan. Angka ini turun sedikit di bawah kesepakatan senilai USD 1,4 triliun yang diumumkan pada kuartal 2007.

Saat itu, aksi korporasi Rio Tinto akuisisi Alcan Inc senilai USD 38 miliar. Kemudian ada grup Blackstone akuisisi hotel Hilton senilai USD 20 miliar.

"Momentum saat ini dapat tergelincir karena kebangkitan inflasi yang akibatkan kenaikan suku bunga atau menurunnya kepercayaan, tetapi saya tidak harapkan ini dalam waktu dekat dan menengah,” ujar Chief Executive Investment Advisors Perella Weinberg Partners Peter Weinberg.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini