Catatan Guru Besar Psikologi UGM Soal Kemarahan Dalam Kasus Ferdy Sambo

Merdeka.com - Merdeka.com - Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Koentjoro menilai kasus yang menjerat Irjen Ferdy Sambo dan penganiayaan Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) DKI Jakarta sama, dalam hal mengkespresikan kemarahan.

"Karena terjadi akumulasi energi. Jadi, kalau orang bicara, itu ada media katarsis. Orang nangis, itu katarsis. Itu sama dengan Ferdy Sambo. Itu kasusnya sama dia. Itu biar keliatan sadisnya begitu. Itu kalau Ferdy Sambo itu karena dia menekan (dan) jengkel menjadi satu. Jadi energinya kuat menjadi satu. Sama dengan kasus PPSU itu yang terjadi," kata Koentjoro ketika dihubungi, Rabu (10/8).

Lebih lanjut, Koentjoro menjelaskan akumulasi energi ini merupakan ciri khusus orang pendiam yang dapat menyakiti orang lain atau diri sendiri.

"Bukan bipolar. Itu ciri khusus orang yang pendiam itu biasanya kalau dia bisa jadi penyiksa yang kejam atau kadang-kadang bunuh diri. Jadi, menyakiti orang lain atau menyakiti diri sendiri. Kalau menyakiti diri sendiri itu bunuh diri, kalau menyakiti orang lain ya seperti penabrak PPSU itu," jelas Koentjoro.

Koentjoro juga mengatakan perilaku ini bukan merupakan penyakit mental dan murni adanya akumulasi dari energi yang tertahankan.

"Bukan penyakit mental karena dia enggak punya kelainan apa-apa. Karena ada akumulasi kemarahan, energinya juga terakumulasi di situ. Kemudian, yaudah nekat dan itu tidak direncanakan yang seperti itu biasanya. Tapi biasanya kemudian, diikuti rasa kecewa dan sebagainya karena dia tidak bisa mengendalikan emosinya itu tadi," beber Koentjoro.

Koentjoro pun menambahkan jika orang dapat mengendalikan kemarahannya, ia akan mengungkapkan amarahnya tersebut.

"Tapi esensinya bahwa, seluruh energinya itu kemudian keluar. Kalau saya ini bukan pendiam, saya ngomong, saya cerita, itu kan kartasis. Energi saya yang dari makan itu keluar gitu lho sehingga kekuatan energi untuk nakal itu keluar begitu, sehingga kekuatan energi untuk nakal itu menjadi lemah sehingga tidak menjadi sadis," jelas Koentjoro. [cob]