Catatan Kecil Venzha Christ Jalani Simulasi Hidup di Planet Mars (Bagian V)

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Yogyakarta- Setelah Mars Desert Research Station (MDRS) di Utah, USA pada 2018, Venzha Christ juga mengikuti simulasi di sebuah kapal besar pemecah es bernama Shirase di Jepang setahun kemudian. Simulasi perjalanan menuju Mars yang diikuti Venzha Christ bersama dengan ketiga rekannya yang berasal dari Jepang ini penuh tantangan.

Simulasi perjalanan menuju Planet Mars berlangsung selama 16 hari dengan total waktu persiapan dan pelaksanaan adalah satu bulan penuh (pertengahan Februari sampai pertengahan Maret 2019. Dalam pelatihan ini tidak menggunakan istilah hari seperti layaknya parameter waktu di bumi, akan tetapi memakai SIM yang berasal dari kata simulation untuk menandai pergantian waktu.

Mengingat ini adalah simulasi dalam sebuah pesawat ruang angkasa, maka waktu yang digunakan bukan 24 jam waktu bumi berputar, melainkan jam yang terus berputar dengan tiga kali bagian atau shift. Satu shift terdiri dari 24 jam dan kru mendapat jatah waktu istirahat delapan jam.

SIM adalah istilah yang digunakan untuk melatih kru untuk menandai waktu sekitar 24 jam sesuai dengan kebiasaan manusia di bumi. SIM tidak tergantung dengan perputaran matahari sebagai penanda siang dan malam, sebab tidak ada istilah malam (gelap) atau siang (terang) di dalam pesawat ruang angkasa.

“Jadi kami dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing kelompok dua orang dengan tiga shift yang rotasinya berurutan, dan karena tidak mengenal siang dan malam juga secara metabolisme tubuh” ujar Venzha Christ di v.u.f.o.c lab Yogyakarta.

Secara teknis, kapal yang bagian dalamnya didesain menyerupai pesawat luar angkasa ini memiliki empat tingkat. Para awak tidur di lantai yang paling atas karena suhunya tidak terlalu dingin, di bawah 10 derajat Celsius.

Sementara, aktivitas di tiga lantai yang berada di bawah, awak harus mengenakan extravehicular activity (EVA) atau baju pelindung luar angkasa.

Aktivitas di dalam kapal simulasi luar angkasa meliputi, makan, berkomunikasi dengan bumi, briefing, olahraga, dan menyelesaikan misi.

“Misinya beragam, mulai dari meletakkan peralatan, mengatur suplai energi, merangkai alat komunikasi, memperbaiki peralatan, dan sebagainya,” ucap Venzha Christ yang juga menjabat sebagai Direktur Indonesia Space Science Society (ISSS).

Memahami Energi yang Diperlukan

Foto Dokumentasi dari project SHIRASE : Simulation of Human Isolation Research for Antarctica-based Space Engineering, oleh Field Assistant, 2019, Tokyo, Japan
Foto Dokumentasi dari project SHIRASE : Simulation of Human Isolation Research for Antarctica-based Space Engineering, oleh Field Assistant, 2019, Tokyo, Japan

Makanan yang dikonsumsi para awak kapal luar angkasa disebut space food, yaitu makanan yang dibekukan atau dryfood. Bisa juga berbentuk pasta (menyerupai odol), tergantung dari jenis misi dan lokasi pelaksanaan.

Makanan yang berbentuk pasta biasanya mempunyai kadar kalori yang tinggi karena untuk satu tube pasta harus bisa menopang energi untuk enam jam. Demikian pula jika kru ingin melakukan beraktivitas mengenakan EVA, maka harus tahu persis misi apa yang akan dilaksanakan dan energi sebesar apa yang diperlukan.

Energi yang dimaksud adalah meliputi energi bagi manusianya, energi untuk pernafasan, energi untuk devices (peralatan), ataupun energi untuk melakukan misinya. Komunikasi dan tata cara berkomunikasi melalui radio juga merupakan bagian yang sangat penting dan vital serta tidak boleh salah. Keselamatan awak atau kru adalah hal utama dalam setiap misi.

Shirase juga mempunyai misi jangka panjang, sampai dengan 2030. Misi ini akan berbarengan dengan misi manusia bumi ke Planet Mars. Misi 2019 kali ini adalah misi awal yang disebut dengan SHIRASE EXP.0 atau Expedition Zero.

Artinya, ini adalah awal dari dilaksanakannya sebuah pelatihan yang mempunyai tujuan jelas dan menjadikan program ini bagian yang sangat penting untuk dunia space science dan space exploration.

Simulasi Penyelamatan Diri

Foto Dokumentasi dari project SHIRASE : Simulation of Human Isolation Research for Antarctica-based Space Engineering, oleh Field Assistant, 2019, Tokyo, Japan
Foto Dokumentasi dari project SHIRASE : Simulation of Human Isolation Research for Antarctica-based Space Engineering, oleh Field Assistant, 2019, Tokyo, Japan

Pernah ketika ia sedang tidur, sirine tanda bahaya berbunyi karena ada peningkatan suhu panas, mirip indikasi kebakaran. Venzha Christ dan ketiga rekannya pun segera beranjak dan melakukan penyelamatan diri sesuai dengan SOP.

Pertama, mereka harus mengenakan baju pelindung luar angkasa (EVA). Hanya ada tiga baju EVA di sana dan pelindung keselamatan untuk darurat baju menyerupai bola.

Pakaian luar angkasa berbentuk bola itu diperuntukkan bagi anggota kru yang tidak mengenakan baju EVA.

“Jadi, saat tiga orang sudah mengenakan baju EVA, maka satu orang yang tidak mengenakan langsung dimasukkan ke pelindung keselamatan darurat menyerupai bola itu,” kata Venzha Christ.

Lantas, ke mana mereka harus menyelamatkan diri? Venzha bercerita pesawat luar angkasa berbentuk panel yang bisa terlepas. Tujuannya, ketika terjadi kerusakan di satu panel, maka panel lain akan dituju sebagai tempat evakuasi.

Seperti apa seluk beluk pesawat luar angkasa? Bersambung ke Catatan Kecil Venzha Christ Jalani Simulasi Hidup di Planet Mars (Bagian VI)

Saksikan video pilihan berikut ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel