Catatan Layanan Haji di Armuzna, antara Kuota dan Tempat untuk Jemaah

Merdeka.com - Merdeka.com - Pelaksanaan puncak haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina sudah selesai. Proses di Armuzna berlangsung selama lebih kurang lima hari. Jemaah mulai diberangkatkan ke Arafah pada tanggal 7 Juli 2022.

Direktur Pelayanan Haji dan Luar Negeri, Ditjen PHU Kemenag, Subhan Cholid menyebut sorotan utama dari penyelenggaraan puncak haji atau masyair di Armuzna soal kuota. Sebab di momen dan tempat inilah, jemaah dari seluruh Indonesia berkumpul bersamaan dengan jemaah lainnya dari berbagai negara.

"Di Madinah dan Makkah, jemaah bisa bergantian ke masjid baik itu Nabawi atau Masjidil Haram. Di Masyair, jemaah dari seluruh dunia berkumpul di area tersebut. Di mana, area itu memiliki batas syar'i yang sudah ditetapkan dan tidak bisa diperluas," kata Subhan usai rapat evaluasi penyelenggaraan haji tahap akhir di Kantor Urusan Haji (KUH) di Jeddah.

Kuota Haji Indonesia 2022

Tahun ini, Indonesia hanya mendapat kuota 100.051 atau 46 persen dari kuota normal. Adapun luasan area yang diizinkan dipakai jemaah Indonesia baik saat berada di Arafah seluas 142.520 meter persegi.

"Jika dibagi, per orangnya mendapatkan jatah 1,6 meter persegi. Kondisi ini tidak terlalu menjadi masalah ketika posisi jemaah berada di Arafah yang secara area cukup luas," katanya.

Tetapi mendapatkan area seluas itu tidak bisa berlaku sama saat jemaah di Muzdalifah dan Mina. Ketika di Muzdalifah, jemaah Indonesia hanya mendapatkan area seluas 83.825 meter persegi, yang bila dibagikan dengan kuota jemaah maka perorang mendapat 0,9 meter persegi atau 90 sentimeter.

"Karena itu di Muzdalifah sifatnya sirkulatif. Jadi ketika melewati tengah malam, jemaah keluar masuk, ini untuk menyiasati sempitnya tempat," jelas dia.

Sementara untuk di Mina, dua kemudahan yang didapat saat di Arafah dan Muzdalifah sulit diterapkan. Apalagi, waktu tinggal di Mina paling lama yakni empat hari. Tahun ini, luasan yang diberikan pihak Syarikah (pengelola di Saudi) untuk jemaah haji Indonesia seluas 111.390 meter persegi.

"Jadi per orang mendapatkan jatah masing-masing 1,2 meter persegi. Itu angka yang kita dapatkan dengan kuota 46 persen. Kalau pada akhirnya akan kembali dengan kuota normal dan luas tempatnya seperti ini, maka rasio jemaahnya akan semakin sempit," keluh Subhan.

Andai kata pun pihak Saudi memperluas wilayah untuk jemaah Indonesia, tempat yang didapat sangat jauh. Yakni di kawasan Mina Jadid atau disebut sebagai bahasa area bayang-bayang, karena secara lokasi sudah masuk wilayah Muzdalifah.

"Ini jadi problem syar'i. Ketika diperluas sedikit, itu menjadi persoalan. Banyak jemaah yang merasa ibadahnya tidak sah karena tidak mabit di Mina yang asli," katanya.

Oleh karena itu, sambung Subhan, pemberlakukan kuota penuh ataupun setengah, masing-masing memiliki kemudahan dan kesulitan tersendiri. Sebab saat ini, wilayah yang menjadi penempatan jemaah saat di Armuzna dibatasi.

"Ini yang menjadi problem kenapa kuota tidak ditambah. Pilihannya, kita pingin longgar dengan mengurangi jemaah atau kita ingin mempercepat antrean dengan tambah kuota tapi dengan risiko jemaah berdesakan," tegas Subhan.

Sedangkan untuk operasional bus yang mengakut jemaah saat berpindah dari Makkah ke Armuzna dan sebaliknya, tak ada kendala yang terlalu menonjol.

"Jumlah trip terhitung dari Makkah ke Arafah, Arafah ke Muzdalifah dan Muzdalifah ke Mina dan Mina kembali ke Makkah itu 1.927 trip," tutup Subhan. [gil]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel