Catatan Ringan: Berterimakasihlah kepada M. Nuh

Syahdan Nurdin, LaluMaraSatriawangsa

VIVA - Baru saja diumumkan, bahwa pemenang lelang motor listrik yang pernah digunakan Presiden Jokowi dan ada tandatangan beliau, akhirnya dimenangkan oleh putera pengusaha Hary Tanoesoedibjo, Warren Tanoesoedibjo.

Harga yang diajukan Warren sama dengan harga yang diajukan "pengusaha" asal Jambi, M. Nuh sebesar Rp2,55 miliar.

Jadi tanda tanya kenapa tidak jatuh kepada penawar kedua pengusaha asal Manado Gabriela Wawengkang yang menawar Rp2,5 miliar. Dan kalau Gabriela juga tidak perform, ya harusnya jatuh ke penawar ketiga politisi PDIP Maruara Sirait sebesar Rp2,2 miliar. Bila Maruara juga tidak perform barulah jatuh ke Warrem Tanoesoedibjo yang menawar Rp1,550 miliar.

Bisa jadi M. Nuh, Gabriele dan Maruara hanya penawar pancingan agar Warren menaikkan tawarannya? Hal biasa dalam lelang. Kalau lihat ada waktu yang tersisa untuk menunggu apakah ada atau Warren sebagai target mengajukan tawaran lebih tinggi. Ternyata tidak terjadi.

Gemparlah Republik. Karena M. Nuh rupanya pengusaha jadi-jadian. Dan tidak perform. Gagal bayar.

Dan panitia pun merasa tidak ada yang dirugikan atas ulah M. Nuh tersebut. Bambang Soesatyo pun meminta Polisi melepas M. Nuh.

Setelah keributan terjadi, akhirnya Warren menaikkan tawaran sama dengan tawaran M. Nuh, dan dia ditetapkan sebagai pemenang lelang motor listrik tersebut. Keputusan ini pasti berkat lobby-lobby. Siapa sih yang mau buang uang sebesar itu hari gini..

Mengingat hal ini berefek kepada Presiden Jokowi, meski beliau juga tak hadir langsung, bagus bila polisi mengusut tuntas siapa penawar kedua, pengusaha asal Manado tersebut. Dan kenapa panitia tidak menetapkan dia sebagai pemenang? Toh selisihnya juga Rp50 juta. Dan kenapa juga tak memutuskan Maruara bila penawar kedua juga hilang jejak?

Ini harus diungkap supaya jelas dan terang benderang masalahnya.

Dan akhirnya, panitia mesti berterimakasihlan kepada M. Nuh berkat tawarannya Rp2,55 miliar akhirnya Warren pun mau menyamakan tawarannya. (Lalu Mara Satriawangsa)