Catatan Ringan: Kejarlah Investasi Hingga ke Negeri China

Syahdan Nurdin, LaluMaraSatriawangsa

VIVA - Judul di atas disadur dari sebuah hadis, ”Carilah ilmu meskipun di negeri China, karena mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” Meski tak tergolong hadis sahih, hadis ini sangat masyhur. Ya, kenapa mesti tabu belajar dan atau mengejar investasi hingga ke negeri China?

Perang dingin sudah berlalu. Zaman pun berubah. Kemajuan teknologi dan informasi demikian luar biasa.

China dulunya dikenal miskin dan terbelakang. Ditambah lagi China kalah perang (candu) dengan bangsa Eropa yang membuat mereka merasa minder, rendah diri.
Menyusul kematian Mao Zedong tahun 1976, dua tahun setelahnya, Deng Xiaoping meluncurkan program reformasi yang disebut-sebut telah memajukan perekonomian China dan menjadikan Negeri Tirai Bambu sebagai kekuatan baru dunia, selain Amerika Serikat (AS).

China berhasil mengejar ketertinggalannya di segala bidang, termasuk seni dan olahraga. Pertumbuhan ekonomi China atau RRC dalam dua tiga dekade terakhir merupakan sebuah keajaiban besar dalam sejarah perekonomian modern dunia. Tidak hanya tingkat pertumbuhannya, tetapi juga skalanya yang mencengangkan, meningkatkan taraf hidup lebih dari 1,4 miliar penduduk RRC, atau sekitar 20?ri populasi dunia.

Membuka Diri

Dalam 40 tahun, reformasi Deng membuat China menjadi negara ekonomi terbesar di dunia selain AS. Padahal Deng memulai reformasi di saat 60 persen penduduk China hidup di garis kemiskinan. Caranya? China membuka diri dan bergaul dengan semua negara, tidak hanya satu kubu atau satu ideologi dengannya. China membuka diri untuk pemodal/investasi dari mana pun juga.

Hasilnya? Menurut data yang diperoleh penulis, China saat ini menyumbang 18,2 persen dari total daya beli global, dibandingkan dengan 15,3 persen dari AS. Meski secara GDP atau PDB, ekonomi AS lebih besar dibanding China.

Berdasarkan data akhir tahun 2016 yang lalu, misalnya, ekonomi atau GDP AS mencapai US$22 triliun atau 65 persen lebih besar dari PDB China yang baru mencapai US$14 triliun. Sementara PDB berdasarkan Purchasing Power Parity, (PPP), China lebih besar, yaitu US$21.3 triliun vs PDB (PPP) AS yang hanya US$18.6 triliun. China juga berhasil menekan angka kemiskinan dari 700 juta orang menjadi 30 juta orang dalam masa waktu 40 tahun. Luar biasa!

Suka tidak suka, China menjadi kekuatan ekonomi dunia dan membuat dunia bergantung kepada geliat ekonomi China. Setiap penurunan dan kenaikan pertumbuhan ekonomi China selalu direspons oleh ekonomi global, tercermin dari fluktuasi indeks harga saham bursa di seluruh dunia.

Selain itu, perbankan China dominasi bank terbesar di dunia. Empatt bank China menduduki urutan pertama hingga ke-4 dari daftar 10 besar bank terbesar di dunia. Keempat bank China itu adalah Industrial and Commercial Bank of China dengan total aset sebesar US$ 4,009 miliar dengan kapitalisasi pasar US$ 312 miliar.

Dengan memiliki total aset lebih dari US$4 triliun, Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) saat ini adalah bank terbesar di dunia. Menurut laporan tahunan, bank tersebut memiliki laba operasi sebesar US$ 53 miliar dan laba bersih sebesar US$ 41 miliar pada 2016.

Selanjutnya, China Construction Bank Corporation dengan total asset sebesar US$ 3,400 miliar dengan kapitalisasi pasar US$ 23 miliar. China Construction Bank Corporation atau CCB adalah salah satu dari sepuluh perusahaan publik terbesar di dunia.
Di posisi ketiga, Agricultural Bank of China yang memiliki asset sebesar US$ 3.285 miliar dengan kapitalisasi pasar sebesar US$ 182,3 miliar.

Agricultural Bank of China (ABC) atau AgBank adalah salah satu bank paling terkemuka di dunia. Bank ini didirikan pada 1951 sebagai hasil merger antara Farmers Bank of China dan Cooperation Bank.

Dan di posisi ke empat Bank of China dengan total asset US$ 2,991 miliar dengan kapitalisasi pasar US$ 185 miliar.

Bank of China adalah salah satu bank publik terbesar di Negeri Panda. Bank ini didirikan oleh Pemerintah China pada 1912.

Dua bank AS, JPMorgen Chase (6) dan Bank Of Amerika (9). Inggris diwakil HSBC (5), dan Perancis mengirim dua banknya, BNP Paribas (7) dan Credite Agricole (10) dan Jepang diwakili Mitsubishi UFJ Financial Group (8).

Demikian juga, 119 perusahaan China masuk Fortune Global 500, selisih dua perusahaan dengan AS yang mencatatakan 121 perusahaan.

Posisi Indonesia

Pandemi Covid1-9 akan mengubah wajah dunia. Negara-negara di dunia mengalami kontraksi ekonomi yang menuju resesi dunia. Masing-masing negara mementingkan kepentingan ekonomi nasionalnya.

Perang dagang AS - China, jauh dari usai. Dunia kembali pada pengelompokan sesuai aspirasi dan kepentingan nasionalnya untuk memanfaatkan salah satu kekuatan ekonomi dunia tersebut.

Lantas bagaimana posisi Indonesia? Merujuk pada pembukaan UUD 1945 politik luar negeri Indonesia menganut politik yang bebas dan aktif. Tidak berpihak pada satu blok atau kelompok.

Indonesia harus mengejar ketertinggalan dan menerima investasi dari semua negara, bukan karena ideologi yang dianut negara tersebut. Kita harus belajar bagaimana China mengejar ketertinggalan dan saat ini menjadi kekuatan ekonomi dunia. Seperti kata pepatah, Seribu teman kurang, satu musuh kebanyakan akan sangat bermanfaat bagi Indonesia untuk membangun dan mengejar ketertinggalan.

Jadi, bagaimana China membangun negerinya dan berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyat serta menekan angka kemiskinan itulah yang patut kita pelajari. Dan apa yang dilakukan pemerintah di bawah Presiden Jokowi saat ini dengan mengajak masuk invetor China untuk membangun berbagai industri strategis patut didukung dan bukan malah dicurigai.

Dan faktanya, dunia tak bisa lepas/menghindar dari China, baik secara ekonomi maupun politik. Dunia saja bergantung, bagaimana Indonesia? Jadi, kejarlah investasi hingga ke negeri China untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia yang sebesar-besarnya. (Lalu Mara Satriawangsa)