Catatan SBY soal Drama Politik AS yang Bisa Dipetik Pecinta Demokrasi

Dusep Malik, Eka Permadi
·Bacaan 2 menit

VIVA – Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membuat catatan terkait drama politik pemilu Amerika Serikat. Saat petahana Donald Trump terus menyerang rivalnya Joe Biden, hingga akhirnya Biden dilantik dan resmi menjalankan tugas sebagai presiden Amerika Serikat.

“Bagi para pencinta demokrasi, drama politik di AS saat ini dapat dipetik pelajarannya,” tulis SBY di akun Twitter @SBYudhoyono yang dikutip, Kamis 21 Januari 2021.

“Pertama, sistem demokrasi tidaklah sempurna, terutama implementasinya. Ada wajah baik dan wajah buruk dalam demokrasi. Namun, tidak berarti sistem otoritarian dan oligarki lebih baik,” ujar SBY.

Menurut pendiri Partai Demokrat ini, pelajaran kedua yang bisa diambil adalah mengenai ucapan seorang pemimpin.

“Di era 'post-truth politics', ucapan pemimpin (presiden) harus benar dan jujur. Kalau tidak, dampaknya sangat besar. Ucapan Trump bahwa pilpresnya curang (suaranya dicuri) timbulkan kemarahan besar pendukungnya. Terjadilah serbuan ke Capitol Hill yang coreng nama baik AS,” ucapnya.

“Ketiga, 'post-truth politics' (politik yang tidak berlandaskan pada fakta), termasuk kebohongan yang sistematis dan berulang, pada akhirnya akan gagal. Pemimpin akan kehilangan 'trust' dari rakyatnya, karena mereka bisa bedakan mana yang benar (faktual) dengan yang bohong (tidak faktual),” paparnya.

“Keempat, tiap pemilu ada yang menang, ada yang kalah. Meskipun berat dan menyakitkan, siapa pun yang kalah wajib terima kekalahan dan ucapkan selamat kepada yang menang. Itulah tradisi politik dan norma demokrasi yang baik. Sayangnya, sebagai champions of democracy, ini tidak terjadi di AS sekarang,” jelasnya.

“Kelima, kali ini pergantian kekuasaan yang damai (smooth & peaceful) tak terjadi di AS. Transisi kekuasaan dibarengi luka, kebencian & permusuhan. Ini petaka bagi AS yang politiknya terbelah (deeply divided). Energi Biden bisa habis untuk satukan AS hadapi tantangan ke depan,” ungkapnya.

“Keenam, jelang pelantikan Biden, Washington DC mencekam, banyak barikade dan dalam pengamanan ketat 25.000 tentara. Siapa ancamannya? Kali ini bukan musuh dari luar, seperti biasanya, tapi 'teroris domestik'. Ini titik gelap dalam sejarah AS. Juga warisan buruk yang ditinggalkan Trump,” tegasnya.

“Ketujuh, setiap krisis selalu ada pahlawannya. Saya respek kepada Wapres Mike Pence yang tunjukkan karakter kesatrianya dengan menerima hasil pilpres yang lalu meskipun kalah. Dia tolak 'perintah' Trump untuk ubah hasil pemilu karena tak berdasar. Dia hormati konstitusi dan demokrasi,” pujinya.

“Kedelapan, Pence bukan tipe yang haus kekuasaan. Dia tak memanfaatkan kesempatan untuk ambil alih kepemimpinan meskipun diminta secara resmi oleh DPR AS (sesuai amendemen ke-25 konstitusi AS). Pence menolak, karena bukan itu yang terbaik bagi bangsa AS,” katanya.