Catatan Sejarah Gempa di Cianjur

Merdeka.com - Merdeka.com - Gempa berskala magnitudo 5,6 mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (21/11). Koordinat utama gempa berada di Tegallela, Warungkondang, Cianjur, diduga akibat pergerakan patahan tertua, sesar Cimandiri.

Musibah tersebut menyebabkan ratusan warga meninggal dunia. Dan ratusan rumah mengalami rusak ringan, sedang dan berat.

Gempa tersebut merupakan satu dari sekian peristiwa di Cianjur. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tercatat 14 kali gempa yang pernah terjadi dan merusak kawasan Cianjur-Sukabumi.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengungkapkan, pertama kali kawasan Cianjur-Sukabumi dilanda gempa pada 1844. Kemudian, gempa selanjutnya yang menyebabkan kerusakan terjadi pada tahun 1879, 1900, 1910, 1912, 1969, 1973, 1982, 2000, 2011 sebanyak dua kali, 2012 juga sebanyak dua kali, 2020 dan 2022.

Pada tahun 2000 gempa Cianjur-Sukabumi berkekuatan magnitudo 5,4 dan magnitudo 5,1 menyebabkan 1.900 rumah rusak berat. Sementara itu, gempa pertama pada 2012, yakni 4 Juni kekuatan mencapai magnitudo 6,1.

Lalu apa yang menyebabkan kawasan Cianjur-Sukabumi mengalami gempa? Berikut merdeka.com merangkum dari beberapa sumber.

1. Kawasan Cianjur-Sukabumi Memiliki Banyak Sesar

Daryono mengatakan, daerah Cianjur-Sukabumi merupakan jalur yang dilewati oleh beberapa sesar. Sesar merupakan rengkahan atau retakan pada kulit bumi yang terjadi akibat gaya endogen yang menekan dari dalam bumi.

Tercatat sesar atau patahan Cimandiri, Padalarang, Lembang, Cirata dan beberapa sesar-sesar minor yang berada di wilayah tersebut menyebabkan kawasan tersebut menjadi jalur gempa aktif.

"Sehingga, kawasan tersebut menjadi kawasan gempa secara permanen," jelas Daryono.

2. Gempa Tektonik Berjenis Kerak Dangkal

Daryono menambahkan gempa di Cianjur sebenarnya tidak terlalu besar. Tetapi, gempa yang bersumber dari kerak dangkal atau shallow crustal earthquake itu menyebabkan kerusakan yang signifikan.

"Karakteristik shallow crustal earthquake sangat dangkal. Jadi memang energinya itu dari pusat yang dipancarkan, yang diradiasikan ke permukaan tanah itu masih kuat," ujarnya.

Jenis gempa serupa juga dapat dilihat dari peristiwa gempa di Yogyakarta 2006 lalu. Gempa berkekuatan magnitudo 5,9 menyebabkan puluhan ribu rumah rusak berat. Gempa dangkal ini lebih dekat dengan permukaan tanah sehingga getaran yang dikeluarkan cenderung lebih terasa.

3. Struktur Bangunan Rumah Tidak Tahan Gempa

Selain sumber gempa yang bersifat dangkal, kerusakan rumah akibat gempa yang berkali-kali dialami warga Cianjur-Sukabumi itu juga dipengaruhi oleh struktur bangunan yang kurang memenuhi standar tahan gempa. Misalnya menggunakan besi tulangan atau semen standar pada bangunan, bukan pondasi standar tahan gempa.

"Gempa itu sebenarnya tidak membunuh dan melukai, tapi bangunan yang tidak standar aman gempa yang kemudian roboh yang menimpa penghuninya itu menjadi penyebab jatuhnya korban jiwa dan luka," kata Daryono.

Ditambah, pemukiman penduduk yang berada di tanah lunak menyebabkan getaran gempa yang terasa lebih besar. Hal ini sempat dijelaskan oleh Daryono saat peristiwa gempa di Rangkasbitung (7/7/2020).

"Guncangan gempa ini sangat dirasakan karena adanya efek soft sedimen/tanah lunak di Jakarta sehingga resonansi akibat tebalnya lapisan tanah lunak ini membuat gempa sangat dirasakan," katanya

Gempa di Cianjur terjadi di daerah perbukitan atau lereng, tepatnya di kawasan kaki Gunung Gede Pangrango. Rumah-rumah penduduk mengalami kerusakan parah juga dipengaruhi lantaran topografi di kawasan tersebut tidak rata.

Reporter Magang: Aslamatur Rizqiyah

[fik]