Cegah Anemia Anak, Deretan Makanan Ini Perlu Dihindari

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 1 menit

VIVAMakanan yang dikonsumsi anak sangat memengaruhi proses tumbuh kembangnya, baik secara fisik maupun psikis. Sayang, banyak orangtua yang belum memahami bahwa makanan tertentu yang dikonsumsi dapat memicu penyakit, salah satunya anemia.

Data Riset Kesehatan Dasar 2018 (Riskesdas) menunjukkan 1 dari 3 anak balita Indonesia mengalami anemia. Data lain menunjukkan, lebih dari 40 persen anak balita di negara berkembang menderita anemia dan 50-60 persen kasus anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi.

Kekurangan zat besi adalah kondisi ketika kadar ketersediaan zat besi dalam tubuh lebih sedikit dari kebutuhan harian. Penyebabnya beragam, termasuk berbagai jenis makanan dan minuman yang dapat menghambat penyerapam zat besi.

Dikatakan Guru Besar Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Sandra Fikawati di Jakarta, banyak makanan dan minuman yang dikonsumsi anak, tanpa sadar, menghambat penyerapan zat besi. Seperti, teh, kopi, dan cokelat, yang memiliki kandungan tanin yang tinggi. Selain itu, minuman bersoda juga tak disarankan untuk dikonsumsi anak.

"Jika ingin mengonsumsi cokelat atau kopi, minimal 2 jam sebelum atau setelah makan," tuturnya dalam acara virtual yang diinisiasi Danone, beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, Prof Fika menegaskan beberapa makanan lain justru mampu meningkatkan penyerapan zat besi. Terbukti, makanan yang tinggi akan kandungan vitamin C, mampu membantu penyerapan gizi menjadi lebih baik.

"Kita juga perlu mengonsumsi makanan yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi, terutama makanan yang tinggi mengandung vitamin C, seperti jeruk, kiwi, stoberi, dan jambu. Lebih baik dikonsumsi sebelum makan karena situasi asam dalam tubuh membuat zat besi lebih mudah diserap," katanya.

Ditambahkan Prof Fika, protein hewani yang menjadi lauk pauk menjadi sumber zat besi yang tinggi, seperti daging merah atau daging unggas. Pemenuhannya harus diberikan orang tua setiap kali anak mengonsumsi makanannya, tentu dengan porsi gizi yang seimbang.