Cegah COVID-19 dengan Ozon, Lebih Efektif Bunuh Virus dari Disinfektan

Lazuardhi Utama

VIVA – Pandemi Corona COVID-19 bisa dicegah dengan ozon, karena dinilai lebih efektif membunuh virus seperti Corona dari disinfektan kimiawi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah menyiapkan beberapa produk hasil penelitian. Salah satunya melalui pemanfaatan Ozon Nanomist.

“Ozon Nanomist secara teknis dapat dipakai untuk menggantikan disinfektan kimiawi di bilik yang telah ada dengan potensi risiko lebih rendah, selama dipakai mengikuti durasi dan ketentuan yang berlaku," kata Kepala Balai Pengembangan Instrumentasi LIPI, Anto Tri Sugiarto, seperti dikutip dari situs resmi LIPI, Minggu, 7 Juni 2020.

Baca: LIPI Bilang Kiamat Sudah Dekat

Ozon Nanomist merupakan disinfektan yang berupa butiran uap air yang mengandung ozon nanobubble water yang akan menangkap dan mematikan virus dan bakteri yang berterbangan di udara dan yang ada di permukaan.

“Ozon Nanomist mempunyai keunggulan, yaitu efektif membunuh virus dan bakteri, tidak menggunakan bahan kimia, tidak meninggalkan residu, dan aman untuk tubuh. Ozon Nanomist dapat dimanfaatkan di perkantoran, salah satunya kantor pusat LIPI di Jakarta. Juga akan dipasang di Trans Jakarta, MRT Jakarta, dan Commuterline”, ungkapnya.

Kedua, Simple- Smart UV-C Sanitizer (Si-SUSan) yaitu alat sterilisasi ruang portable menggunakan sinar UV-C yang dikendalikan secara cerdas untuk sterilisasi virus COVID-19.

Sementara itu, Yusuf Nur Wijayanto dari Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI menjelaskan, Si-SUSan memancarkan sinar UV-C untuk menyinari langsung permukaan benda di ruangan. Si-SUSan dapat mengatur beberapa parameter penyinaran melalui pengoperasioan di aplikasi Android.

“Si-SUSan dilengkapi sensor keamanan dari aktivitas manusia di sekitarnya. Si-SUsan dikembangkan dengan sangat sederhana, portable, dan murah sehingga dapat digunakan oleh rumah tangga, klinik atau puskesmas, kantor, sekolah dan lain-lain,” jelas Yusuf.

Sebelumnya, LIPI menyebut kiamat sudah dekat. Kiamat yang dimaksud adalah penurunan drastis 80 persen populasi serangga di seluruh dunia.

Sebagaimana diketahui, saat ini baru 20 persen serangga dari 5,5 juta serangga di dunia yang teridentifikasi. Sisanya 80 persen dari populasi tersebut dan jumlahnya terus berkurang.

Pada 2017, laporan Caspar Hallman dari Universitas Radboud, Belanda, menemukan bahwa populasi serangga terbang di cagar alam Jerman menurun lebih dari 75 persen selama 27 tahun terakhir. Bahkan, Bayo dan Wyckhuys melaporkan penurunan serangga tetap terjadi meskipun di kawasan cagar alam yang masih belum terjamah.